Hitam Putih Wanasaba

Wulansaf
Chapter #4

Tersesat di Ladang Kemaksiatan 2

Sekitar beberapa bulan yang lalu, setelah Alam selesai rapat organisasi, mereka yang ada di sana tiba-tiba menceritakan tentang desa Wanasaba, dan kebetulan sang ketua osis baru pulang dari sana ketika liburan semester kemarin. Jadilah setelah rapat itu mereka yang ingin tau tentang Wanasaba banyak melontarkan pertanyaan pada sang ketua osis.

  “Mil, emang di sana banyak hal-hal mistis kaya cerita orang-orang?” orang yang ditanya tersenyum dan mengubah posisi duduknya.

  “Gua punya satu cerita yang pasti kalian nggak bakal percaya sama apa yang gua dan temen gua alami.” Semua yang ada di ruangan itu seketika mendekat dan mereka duduk di hadapan Syamil yang ingin bercerita. Bilal yang sudah mau menenteng tasnya untuk kembali ke asrama ketika melihat teman-temannya kembali rapih duduk akhirnya ikut nimbrung mendengarkan.

  “Lu jangan ngarang-ngarang cerita ya Syamil setan, nanti kita semua ditipu lagi sama semua cerita lu.” Bilal berkomentar jengkel, sebab meski Syamil ini seorang ketua osis yang terkenal pintar dan berwibawa, tapi dia juga dikenal suka mengerjai orang dan mengarang-ngarang cerita.

  “Lu kalo nggak mau dengerin pulang aja dah, Lal, sana balik ke asrama.” Mendengar itu Bilal hanya nyengir dan segera merapatkan duduknya yang langsung disikut oleh Alam. “Sonoan napa duduknya, nggak usah mepet-mepet, belum apa-apa udah takut duluan lu.”

  “Jadi, waktu itu gua disuruh ke pasar sama Ustadz Ismail buat beli… apa ya waktu itu, lupa beli apa, pokoknya gua waktu itu pergi ke pasar berdua. Ustadz Ismail udah ngasih instruksi jalan sejelas-jelasnya, tapi gua nggak begitu merhatiin, jadi gua tersesat ke tempat yang nggak seharusnya”.

  “Ke tempat apaan? Ke tempat mana?” Akbar bertanya dan mulutnya langsung dibekap oleh Bilal yang sedang takzim mendengarkan. “Lu bisa dengerin aja nggak sih, Bar!”

  “Tangan lu bau banget anjir, masuk ke mulut gua lagi. Ih! Belom cebok lu, ya?”

  “Demi Allah, sekali lagi gua denger suara lu berdua, langsung gua seret lu keluar dan gua kunciin dari dalem.” Alam mengancam kedua temannya yang benar-benar mengganggu. Mereka berdua refleks meutup mulut masing-masing dan Syamil melanjutkan ceritanya.

Singkat cerita, saat itu Syamil disuruh ke pasar oleh Ustadz Ismail, maka kali itu Syamil mengajak satu teman untuk menemaninya. Ustadz Ismail sudah menjelaskan ke mana arah ia harus jalan, tapi Syamil tidak begitu memperhatikan dan jadilah mereka tersesat sampai ke tempat laknat itu.

Sebelum sampai di depan gapura yang Syamil kira pasar karena dari jauh terlihat banyak orang lalu lalang, mereka melewati jalanan dengan pohon-pohon besar dan tanah kering. Suara-suara jangkrik terdengar nyaring dan di sana memang banyak ayam jago yang dilepas liarkan, dibebaskan mencari makan.

Sampai di sana, ketika Syamil dan temannya telah melewati gapura perbatasan antara pepohonan dan tempat ramai, sesuatu terjadi, semua pasang mata memperhatikannya seperti mereka berdua adalah alien yang turun dari luar angkasa. Merasa diperhatikan Syamil dan temannya bingung, terlebih satu dua orang yang melewatinya berbisik-bisik sehingga mereka merasa makin bingung. Ada apa?

Lalu keduanya berjalan masuk ke dalam, mencari barangkali ada penjual sayur atau buah-buahan yang bisa dibeli, namun tak satu pun penjual ditemukannya. Malah mereka menemukan meja-meja kayu dan bangku yang diisi oleh anak muda dan bapak-bapak berbadan gempal yang sedang berjudi. Orang-orang banyak yang menonton dan bersorak-sorak. Tidak apa, mungkin di pasar memang banyak hal seperti itu. Lalu Syamil dan temannya meneruskan jalan. Kali ini mereka melihat orang yang menjajakan barang-barang di atas meja. Orang itu berpakaian hitam-hitam dan aura wajahnya terlihat gelap.

  “Itu siapa? dukun?” Bilal membuka suaranya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alam.

Lihat selengkapnya