Aku membuka mata ketika matahari telah tenggelam sepenuhnya. Kulihat Bilal masih tertidur di sebelahku, rupanya kami pingsan setelah berjalan jauh entah kami jalan berapa lama. Aku bertanya pada Akbar apa yang terjadi, Akbar menjawab bahwa ketika dia pulang dari sungai dan menemukan korban yang kemarin diculik makhluk gaib, Ustadz Ismail bilang bahwa aku dan yang lain belum pulang dari pasar sejak pagi. Karena Akbar khawatir, akhirnya dia mengajak yang lain untuk mencariku dan baru menemukanku ketika matahari hampir tenggelam. Dia melihatku dan yang lain berjalan seperti orang bingung, wajahku pucat dan keringat membanjiri tubuhku. Ketika Akbar memanggil, kami langsung jatuh waktu itu.
Akbar tidak banyak tanya tentang apa yang terjadi karena aku pun masih keget dengan apa yang terjadi. Justru setelah bangun dari tidur itu aku banyak bertanya tentang korban yang Akbar temukan di sungai pagi tadi.
“Siapa korbannya? Gimana ceritanya?”
“Namanya Ali, dia murid di pondok ini dari kecil. Ali bilang kalo dia emang suka diganggu sama para dukun itu karena katanya Ali ini suka mensyiarkan islam.”
“Trus dia nggak kenapa-napa? Ada luka atau apa gitu?”
“Kok lu jadi wawancara gua sih, Lam, harusnya gua yang wawancarain lu karena pasti cerita mistis lu lebih seru dibanding cerita ini.” Akbar melanjutkan. “Nggak kenapa-napa, sih, nggak ada luka, pas gua sama yang lain nemuin Ali, dia kaya orang bangun tidur aja meski bajunya basah dan mukanya kotor.”
“Gua kagum deh sama Ali, meski dia sering diganggu sama hal-hal mistis, tapi dia kaya nggak takut dan bodo amat gitu, pas ditanya kenapa, karena dia mau mensyiarkan agama Allah dan dia mau sepenuhnya orang-orang di sini itu mengenal islam dan meninggalkan segala kemaksiatan dan kemusyrikannya.”
“Jadi lu udah kenal banget sama Ali?”
“Gua udah jadi sahabatnya Ali, Lam. Dia kayanya lebih bisa menerima gua dibanding lu. Apa sekarang kita putus pertemanan aja?”
“STRESS!”
“Tapi dia beda dari lu. Dia penganut bumi itu datar, besok deh kita ajak debat.” Akbar itu salah satu temanku yang memang hobi mengadu argumen orang lain, dia selalu punya pertanyaan yang membuat kami semua bisa berdebat. Perdebatan yang tidak akan selesai adalah tentang ayam atau telur dulu yang lebih dulu.
Di samping menunggu teman-temanku pulih, Akbar banyak menceritakan tentang Ali padaku, dan jujur aku cukup kagum dengan keberaniannya mensyiarkan islam meski terhalang oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Dari kejadian kemarin sejujurnya membuatku kapok akan tempat ini yang memiliki dua sisi yang jelas-jelas berbeda dan saling bersinggungan. Jelas sekali orang-orang yang belajar agama seperti kami sangat menentang semua kemaksiatan dan kemusyrikan yang ada di sini, tapi untuk menghadapi dan mneghilangkan itu, nyawa sendiri justru jadi taruhannya.
Ketika Akbar sedang membicarakan Ali, orang itu muncul di ambang pintu, Akbar yang melihatnya langsung menyuruh Ali masuk dan berkenalan denganku. Perawakan Ali tinggi dan putih dengan garis wajah yang tajam. Dia keliatan lebih bugar dibanding diriku sendiri. Aku dan Ali bersalaman, dia orang yang ramah dan begitu mencemaskan kami ketika kami tersesat. Bukankah kami semua yang seharusnya mencemaskan dia?
“Ustadz Ismail mau bertemu denganmu Alam.”
“Sekarang?”
“Iya, setelah kau mandi dan shalat maghrib terlebih dulu.” Oh, baiklah, dia tau kalau aku baru bangun dan tidak ikut shalat berjamaah di Musholla tadi. Maka di ruangan itu, Ali dan Akbar yang baru saja menjadi sahabat bercakap-cakap sementara aku mandi dan shalat.
Setelah selesai mandi dan shalat, aku menemui Ustadz Ismail di ruangan tempat dia tidur. Rupanya di sana sudah ada ketiga temanku yang tadi pingsan. Mereka semua terlihat segar dan baik-baik saja. Aku duduk di dekat Bilal dan kami semua mendengarkan apa yang Ustadz Ismail akan sampaikan.
“Bagaimana keadaan kalian semua? Kalian baik-baik saja?” Ustadz Ismail tersenyum melihat kami.
“Kami merasa segar setelah Ali menyuruh kami mandi, Ustadz.” Bilal menjawab, tiba-tiba aku menyetujui apa yang Bilal sampaikan barusan, bahwa aku juga merasa segar dan melupakan hal-hal menakutkan yang baru terjadi pagi tadi. Seperti semuanya hilang begitu saja dibawa hanyut guyuran air mandi tadi.
“Air memang sarana yang baik untuk menghilangkan hal-hal yang negatif, Bilal. Jika kalian lelah dan malas, maka bangunlah mandi, insya Allah kelelahan dan kemalasan yang disebabkan oleh setan itu hilang seiring air yang terbuang ke selokan.”
Mendengar itu aku merasa tertampar dengan apa yang Ustadz Ismail katakan. Kadang selama aku mondok di pesantren, ketika rasa lelah itu menyerang, aku seperti terbujuk oleh rayuan setan untuk beristirahat sebentar, lalu lama kelamaan aku memvalidasi rasa lelahku sehingga aku istirahat lebih lama dan meninggalkan pekerjaan yang seharusnya aku kerjakan.
“Ustadz minta maaf tentang apa yang terjadi pada kalian hari ini. Pasti kalian trauma dan ketakutan, tapi ketahuilah anak-anakku, tidak ada maksud dari kami para guru untuk mengorbankan kalian pada mereka-mereka yang membenci Islam.” Mendengar itu aku sejujurnya merasa bersalah, karena setelah kejadian kemarin di hati kecilku muncul banyak pertanyaan kenapa pondok ini tidak ditutup saja jika membahayakan keselamatan orang? Tapi setelah mendengar sedikit cerita Ali dan juga Ustadz Ismail aku yakin ada alasan yang kuat mengapa pondok ini harus terus mensyiarkan islam meskipun mengancam nyawa banyak orang karena keyakinan yang suci ini berdampingan dengan sesuatu yang gelap.