Hitam Putih Wanasaba

Wulansaf
Chapter #6

Strategi Syiar

Setelah mendengar cerita Ustadz Ismail, ada dua hal yang bisa kusimpulkan, pertama adalah bagaimana caranya untuk memerangi rasa takut dengan hal-hal mistis yang sering terjadi di tempat ini adalah dengan meningkatka keimanan. Dalam hal ‘meningkatkan keimanan’ itu masih menjadi tentangan tersendiri untuk kami, kami masih sering malas-malasan dalam beribadah, jangankan sunnah, ibadah wajib sudah dikerjakan tepat waktu saja sepertinya kami sudah Alhamdulillah.

Lalu hal yang kedua adalah, Ustadz Ismail memberi tau jika ada hal genting yang seharusnya kami bisa lakukan, yaitu dengan mengajak orang-orang yang netral antara hitam dan putih. Orang-orang ini adalah orang-orang yang tidak beragama. Pemikiran mereka tidak sekolot orang-orang hitam itu, mereka masih bisa menerima masukan dan nasehat, hanya saja jika mau mengenalkan islam harus dilakukan dengan pendekatan yang baik.

Maka pagi ini kami membuka rapat untuk membiacarakan kira-kira strategi apa yang cocok untuk diterapkan dalam mensyiarkan islam kepada mereka.

  “Menurut gua, kayaknya syiar islam harus berdasarkan umur. Dari anak-anak sampai orangtua pasti caranya beda dan kebutuhan mereka juga beda. Kita bukan mau nyogok mereka supaya masuk islam, tapi lebih ke mengenalkan islam ke mereka-mereka yang masih nyembah pohon dan patung.” Bilal menyarankan demikian, aku setuju, tapi untuk mengenalkan islam pada anak-anak, siapa yang akan melakukannya?

  “Gua setuju sama pendapat Bilal dan terima kasih karna saran ini sangat berguna. TAPI. Permasalahannya adalah, siapa yang mau dan bisa menangani keruwetan anak-anak? Kita?” Aku bertanya pada mereka yang tiba-tiba setuju dengan pertanyaanku.

  “Alam, masalah anak kecil itu gampang, mereka cuma anak-anak-“

  “Bukan masalah mereka anak-anak, justru tantangannya karena mereka masih anak-anak. Beda cara mendidik anak-anak sama orang biasa, kalo mendidik anak-anak itu lebih ke pake hati dan perasaan dan rasa sabar yang unlimited. Lu sendiri sabaran nggak orangnya?” Seketika semua menyadari apa yang aku sampaikan. Kami semua ini, adalah laki-laki kaku dan tidak sabaran yang tidak mungkin bisa berhadapan dengan anak kecil.

  “Begini saja, gimana kalo urusan anak-anak kita serahkan sama remaja yang ada di sini?” Ali mengusulkan, seketika semua pasang mata melihatnya dan kami bertanya apa ada anak remaja yang bisa diandalkan.

  “Kalian tenang saja, dulu di tempat ini ada dua orang guru yang mengajar anak-anak, tapi mereka jarang ada di Desa ini karena sudah pindah ke Desa seberang. Kalau kalian setuju, aku bisa memintanya untuk memegang bagian anak-anak.” Kami saat itu langsung setuju dan mengiyakan, meminta Ali mengubungi orang itu untuk datang ke sini membantu kami.

Lalu Fajar dan Ibnu bilang bahwa ia akan menangani bagian remaja, mereka bisa melakukan banyak hal untuk memancing minat mereka untuk bisa mengenal islam.

  “Gua punya ide untuk bagian Ibu-ibu.” Semua pasang mata tertuju pada Bilal. “Gimana kalo untuk bagian Ibu-ibu, di hari pertama kita undang Ibu-ibu muslim untuk datang ke sini, nanti pas acara udah selesai, kita bagi-bagiin minyak goreng, deh.” Bilal dengan percaya diri tersenyum seperti idenya itu akan dipakai. Sementara kami masih bertanya-tanya apakah cara seperti itu efektif atau tidak.

  “Eh, sumpah! Ini cukup efektif buat mancing Ibu-ibu. Dulu di rumah gua ada pembukaan rekening bank keliling, yang daftar dikasih minyak 1 liter. Lu tau yang daftar siapa? ibu-ibu sama nenek-nenek! Apa mereka bakalan pake rekening tabungan itu? Nggak bakalan! Mereka Cuma butuh minyak doang buat masak.” Bilal menceritakannya dengan antusias dan kami semua tertawa. Setelah dipikir ulang, sepertinya cara ini bisa dicoba diterapkan di hari pertama nanti.

  “Satu lagi!” kami kembali tertuju pada Bilal. “Kayanya kita harus kerjasama dengan ibu-ibu yang biasa ikut kajian supaya berita dapet minyak gratis ini bisa menyebar ke banyak orang.” Aku mengangguk setuju. Sepertinya otak Bilal pagi ini bekerja dengan baik. Lalu kami mendiskusikan masalah biaya yang akhirnya dana itu akan dikumpulkan dari uang pribadi kami masing-masing.

Setelah mendiskusikan banyak hal lainnya, akhirnya kami memutuskan untuk memulai strategi ini pada lusa mendatang. Ali juga mengatakan masalah anak-anak tidak perlu dicemaskan karena dua perempuan itu pasti bisa diandalkan dan semuanya akan berjalan lancar. Semua hasil rapat pagi ini juga sudah kami beritahukan pada para guru dan mereka setuju, tidak ada salahnya untuk mencoba berbagai macam cara untuk mensyiarkan islam.

Esok harinya kami sibuk menyiapkan barang-barang yang mau dibagikan, aku dan Ali bolak-balik keluar Desa menggunakan motor untuk membeli barang perlengkapan. Perempuan yang tadi pagi menemuiku bilang jika dia butuh susu kotak dan roti untuk dibagikan ke anak-anak.

Lihat selengkapnya