Hitam Putih Wanasaba

Wulansaf
Chapter #7

Dongeng dan Perdebatan

Satu minggu bagi-membagi keperluan untuk Ibu-ibu dan anak-anak itu berjalan baik meski kadang salah satu dari mereka harus berselisih dengan Ibu-ibu yang hanya menginginkan minyak atau gula dan tidak ikut masuk ke dalam aula. Kabar baiknya setelah agenda kajian itu, banyak orang-orang yang ingin belajar islam lebih dalam, karena selama ini mereka seperti tidak mempunyai agama dan hanya ikut-ikutan meletakkan sesaji di depan pohon besar di sebelah goa yang menyeramkan itu.

Di samping orang-orang yang mulai berdatangan untuk belajar Islam, mungkin memang ada alasan lain yaitu ingin mengambil sembako yang disediakan. Tapi, semoga, dengan Ibu-ibu mendengarkan kajian yang disampaikan, dengan mempengaruhi dan mengajak kepada hal-hal yang baik, harapannya semoga Allah buka pintu hati mereka untuk mau belajar Islam dan bukan hanya mengambil sembako yang disediakan saja.

Masalah lain hadir ketika uang tabungan para santri habis, mereka sedang memutar otak untuk bagaimana caranya agar mereka tetap bisa memberikan sembako selepas pulang kajian nanti. Lima orang yang sedang suntuk itu sedang tidur-tiduran di lantai yang hanya beralaskan tikar tipis. “Lu pada mikir apa males-malesan, sih!” Alam yang melihatnya jengkel, dia menyirami temannya dengan percikan air supaya bangun.

  “Males-malesan sambil mikir Alaaaam!”

  “Coba panggil penasehat Ali ke sini.” Akbar sebagai teman terdekat Ali meminta orang itu datang ke tempat mereka sekarang bermalas-malasan untuk meminta ide darinya. Sepuluh menit orang itu melongok ke dalam, Akbar langsung mempersilahkannya masuk dan menceritakan persoalan yang mereka hadapi tentang keuangan yang semakin menipis.

  “Gimana kalo sumbanga aja dari temen-temen kalian?” mereka berlima yang mendengar saran itu langsung tercerahkan. “BENERRR! SALAH SATU IDE BAGUS ITU!” Alam memukul lantai ketika mendengar ide yang Ali sampaikan.

  “Tapi gimana caranya?”

  “Apa kalian ada organisasi di sekolah? Pake organisasi itu aja. Kemarin kalian abis foto kegiatan, kan? Sekalian bisa dikirim dan bisa dijelasin kalian butuh uang untuk apa.”

  “JENIUS!” Alam sekali lagi memukul lantai dan membuat semua temannya terkejut.

  “Stress lu, ya!”

  “Gua ngandelin lu semua tapi otak lu pada kosong. Payah!” Alam langsung mencoba menghubungi Syamil yang sekarang masih menjabat sebagai ketua osis.

Beberapa kali dihubungi namun terkendala sinyal. Tapi Alam sudah mengirim pesan beserta foto-foto untuk kemudian disetujui oleh Syamil.

  “Permasalahan yang lain adalah, di mana kita bisa nemuin mesin ATM di Desa ini?” Fajar kali ini yang bertanya.

  “Disini nggak ada mesin ATM, tapi di kota sana ada. Lumayan jauh tempatnya. Kita bisa naik mobil ke sana nanti.”

Masalah kali itu terselesaikan, hanya menunggu balasan dari Syamil. Tak lupa Alam kembali mengirim pesan berupa nomor rekening dan rayuan serta ancaman untuk membantunya yang sedang kesusahan di sini.

Lalu sambil menunggu balasan dari Syamil, mereka semua bersenda gurau sampai tawa mereka berhenti ketika ada Bapak-bapak yang menerobos masuk ke dalam Pondok Pesantren dan menghampiri mereka.

  “Ada yang perlu dibantu, Pak? Mau ketemu Ustadz Ismail?”

  “Ini anak saya siapa yang ngajarin agamamu itu?” kata Bapak itu dengan wajah menahan kesal.

Lihat selengkapnya