Barang-barang sudah dibeli dari kota. Minyak, beras, gula dan tepung serta susu kotak dan roti telah diangkut ke dalam ruangan untuk di simpan. Para santri berganian mengangkut barang-barang itu. Sementara Alam dan Bilal sudah tergeletak karena kelelahan. Kali ini mereka akan membagikan dua barang. Gula dengan beras dan minyak dengan tepung yang dijadikan satu paket.
Dalam proses syiar islam itu, dengan menarik perhatian orang-orang agar datang, percayalah bahwa ternyata semuanya tidak semudah itu. Beberapa kali mereka didatangi oleh salah satu keluarga yang tidak terima anggota keluarganya mengenal dan tertarik dengan islam. Beberapa kali mereka diancam untuk menghentikan semuanya, tapi mereka mengatakan bahwa ini adalah pilihan dan mereka tidak akan menghentikan kegiatan ini.
Ketika itu, mereka yang sedang membersihkan kamar dikejutkan dengan kehadiran kembali Bapak-bapak yang kemarin membawa anaknya dan mengancam, kini ia berdiri kembali di depan Pondok Al-Qalam seraya menggandeng anaknya.
“Alam, ada Bapak-bapak yang kemarin.”
“Kenapa?” Alam langsung bangkit dan tanpa babibu menghampiri Bapak itu di luar.
“Ada apa, Pak? Apa kami membuat salah lagi?” mendengar itu wajah sang Bapak berubah lunak, dia terlihat malu dan bingung untuk menjawab pertanyaan Alam.
“Bawalah anak saya untuk belajar di sini. Dia senang belajar dengan gurunya di sini dan saya telah mengizinkannya.” Alam yang mendengarnya seperti bingung, dia langsung mempersilahkan si Bapak masuk dan duduk di dalam, barangkali ada yang mau Bapak itu sampaikan.
Tiba-tiba semua anak-anak keluar dan Bapak itu membuka suara. “Sebelumnya saya minta maaf tentang apa yang saya lakukan kemarin. Setelah pulang dari sini dan saya melarang anak saya untuk datang ke tempat ini, anak saya terus menangis dan dia ingin belajar bersama gurunya. Saya tidak bisa melihat anak saya terus bersedih. Jadi saya mohon, biarlah anak saya kembali bermain dan belajar bersama guru dan teman-temannya.”