Hitam Putih Wanasaba

Wulansaf
Chapter #9

Awal Adanya Ancaman

Masalah keuangan aku bersyukur ada Syamil yang membantu, kini kami bisa menyetok banyak bahan untuk dibagikan. Dan kabar baiknya, satu persatu aku melihat banyak orang yang ingin menemui Ustadz Ismail untuk dituntun bersyahadat. Akhirnya setelah kemarin kami semua berdebat dengan penduduk sekitar, adanya penolakan dan ancaman, akhirnya kami mendapatkan apa yang kami harapkan meski masih banyak orang yang tidak menyukai keberadaan kami.

Sejujurnya Ustadz Ismail bilang, bahwa mereka yang memutuskan bersyahadat itu sebenarnya sudah lama ingin memeluk Islam dan belajar, namun karena terkendala oleh keluarga mereka sendiri, jadilah mereka enggan dan hanya ikut-ikutan menyembah yang mereka sendiri tidak meyakini dengan apa yang mereka sembah.

Ketika itu malam hari, aku dan Bilal selesai membersihkan aula, sebenarnya aku sudah menyuruh Akbar dan Bilal untuk membersihkannya sore tadi. Tapi karena Akbar pergi ke sungai dan Bilal tidak mau bekerja sendiri, jadilah aula itu yang masih kotor dan berantakan. Sambil mendumel, aku menyapu sementara Bilal mengepel. Sekarang sudah jam sembilan malam dan kukiran apa yang kuminta tadi sudah bersih dan selesai. Nyatanya ruangan besar ini masih kotor.

  “Lal, nanti kalo udah kipas angin dimatiin sama lampunya.” Aku sudah selesai menyapu dan hendal meletakkan sapu itu di tempatnya. Aku keluar aula, tapi kulihat Bilal hanya diam mematung dan tidak bergerak.

  “Bilal…” aku menghampirinya, menepuk pundaknya dan dia tidak menoleh. Lalu aku melihat wajahnya yang pucat. “Bilal!” aku berteriak dan dia langsung melotot melihatku, mencengkram kerahku dan menyudutkanku ke pojok ruangan di pintu belakang.

Aku mundur beberapa langkah karena kalah dengan dorongannya. Tak lama lampu di ruangan itu mati hidup membuat jantungku berdebar dan bulu kudukku berdiri. Apakah Bilal tersinggung karena aku mendumel padanya dan dia tidak terima?

Kutatap mata Bilal yang kosong, dia mencekik leherku sehingga aku sulit bernafas. Cekikan itu benar-benar kuat sampai membuat tubuhku lemas. Aku berusaha menendang-nendang pintu di belakangku agar orang-orang yang ada di luar mendengar. Semakin aku berusaha menendang pintu kayu itu, cekikan Bilal pada leherku semakin kuat, aku tidak bisa bernafas dan lampu itu terus mati dan hidup dalam durasi yang cepat. Dalam sisa-sisa tenaga, aku memukul-mukul pintu kaya itu dengan tengan sampai akhirnya perlahan aku terduduk di lantai dan Bilal terus mencekikku.

Tak lama suara Fajar dan Ahmad terdengar masuk ke aula dan dia melihat Bilal yang sedang mencekikku. Ahmad histeris menjerit dan langsung menarik Bilal untuk melepaskanku, sementara Fajar langsung membantu menyadarkanku disaat penglihatanku sudah redup dan nafasku terengah-engah.

Lihat selengkapnya