Hitam Putih Wanasaba

Wulansaf
Chapter #12

Air Mata Kesedihan dan Bencana

Sore hari yang masih diguyur hujan itu, Ustadz Ismail mendapat kabar jika Alam tidak ada di rumah dan tidak ada saru pun dari mereka yang melihat Alam pergi ke mana. Seakan tau apa yang dilakukan Alam, Ustadz Ismail segera pergi meninggalkan Pondok dan mengatakan pada mereka untuk tetap di Pondok dan tidak pergi ke mana-mana.

Ustadz Ismail pergi ke suatu tempat yang ia yakini bahwa Alam akan ada di sana. Tanpa memedulikan hujan Ustadz Ismail terus menerobos jalanan yang becek dan licin untuk segera tiba di goa.

Dilihatnya ada seorang yang berpakaian hitam-hitam tengah meninggalkan goa itu, lantas sebelum orang itu pergi Ustadz Ismail mencegatnya.

Laki-laki yang mengenakan pakaian hitam-hitam itu dicegat oleh Ustadz Ismail dan mereka berdebat. Ustadz Ismail tau bahwa dia lah yang menghilangkan Bilal dan menyakiti Alam. Maka Ustadz Ismail meminta untuk orang itu menghentikan perbuatannya sebelum Allah murka. Tapi orang itu hanya tersenyum kecut, dia meremehkan apa yang Ustadz Ismail katakan

Matahari hampir tenggelam, hujan masih mengguyur Desa itu dan kilatan sesekali menerangi tempat mereka berada. Ustadz Ismail kembali melanjutkan, betapa orang yang ada di hadapannya itu telah berada di jalan yang salah. Dia adalah anak dari seorang yang sangat berjasa bagi Desa Wanasaba-anak dari Adanu.

Ayahnya sangat berjasa menghilangkan semua kemaksiatan dan kemusyrikan yang ada, tapi hari ini justru keturunannya yang menjadi penyebab kerusakan itu sendiri. Ustadz Ismail kembali mengungkit, jikalau Ayahnya hari ini masih hidup, maka ia akan sangat menyesal telah membesarkan anak yang seperti ini. Betapa Adanu akan kecewa ketika melihat anaknya menjadi seperti ini, dan dia pasti sekarang tengah menangis melihat apa yang anaknya lakukan.

Mendengar semua pengungkitan tentang masa lalu itu, ia marah dan tidak terima. Orang itu mengancam Ustadz Ismail untuk melenyapkannya jika ia masih meneruskan kalimatnya lagi. Kemudian orang itu pergi meninggalkan Ustadz Ismail dan dia berkata ketika hujan semakin deras dan suara petir terdengar menakutkan. “Demi Allah, lihatlah kemurkaan Allah. Kelak kalian semua akan musnah oleh kemurkaannya.” Ustadz Ismail menitikkan air mata dan air mata itu jatuh menetes ke tanah bersama air hujan yang semakin deras.

Tak lama teman-temannya Alam berdatangan dan mencari Alam disekitaran goa. Dia ditemukan di balik semak-semak dan sudah terluka parah.

Ahmad dan Fajar menghentikan temannya yang ingin mengangkat Alam, menyuruh untuk menunggu Bilal dan Ibnu datang. Maka tak lama Bilal dan Ibnu datang dengan keranda. Mereka sengaja membawa keranda dari musholla karena tau Alam pasti terluka. Lalu bersama-sama mereka mengangkat Alam dan meletakkannya di keranda. Setelah selesai, mereka juga yang menggotong keranda itu sampai ke Pondok.

Kondisi Alam memperihatinkan, dari dalam mulutnya ia terus mengeluarkan darah meski tidak banyak dan Alam sudah tidak sadarkan diri. Maka dengan cepat Ustadz Ismail meminta para warga untuk membawa Alam ke rumah sakit. Akbar dan Bilal ikut menemani ke rumah sakit bersama beberapa warga.

Hari itu hujan belum benar-benar berhenti, para warga sudah banyak yang mendatangi Pondok takut sesuatu terjadi. Maka Ustadz Ismail meminta orang-orang berkumpul di Pondok ketika malam semakin terasa mencekam. Angin-angin kencang membuat pohon-pohon tinggi bergoyang hebat, membuat siapa saja yang melihatnya merasa ngeri jika pohon itu akan roboh dan menimpa rumah-rumah mereka. Dan suara petir bergemuruh membuat anak-anak menangis ketakutan.  

Dalam sutuasi seperti ini, Ustadz Ismail meminta semua orang untuk masuk ke dalam aula dan berdzikir menyebut nama Allah. Sekarang situasinya amat menyudutkan mereka. Bilal belum diketemukan, Alam sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit sementara cuaca sedang seperti ini.

   “Ibu-Ibu dan Bapak-bapak sekalian, karena cuacanya seperti ini, jangan lupa untuk terus berdzikir menyebut nama Allah. Kita minta perlidungan Allah. Semoga kita semua selamat dari mara bahaya dan bencana.” Suara Ustadz Ismail terdengar lembut dan dia berusaha tenang. Sekali dua kali dia membantu mengarahi para warga yang baru berdatangan untuk mengambil tempatnya masing-masing.

Lihat selengkapnya