Aku pikir semua yang terjadi seperti mimpi buruk untukku dan teman-temanku. Setelah aku ditemukan di semak-semak di dekat goa sore itu, Akbar mengatakan jika aku dalam keadaan terluka parah dan sudah tidak sadarkan diri. Lalu karena keadaanku mengkhawatirkan, akhirnya aku dibawa ke rumah sakit oleh beberapa warga, mereka mengantar dengan mobil ke kota dan waktu itu dua temanku juga ikut ke sana.
Dalam perjalanan hujan deras dan gemuruh petir benar-benar menakutkan, Akbar bercerita. Lalu tak lama aku segera ditangani oleh dokter dan saat itu Akbar dan Fajar tidak boleh masuk ke dalam ruanganku.
Tapi menurut cerita mereka, mereka berdua merasa sepertinya detik itu juga sedang terjadi gempa, karena mereka takut aku kenapa-napa, jadilah mereka masuk ke ruanganku dan melindungiku.
Akbar dan Fajar yang melihat barang-barang sudah berjatuhan itu panik, mereka takut sesuatu menimpa diriku dan juga diri mereka. Akhirnya tanpa pikir panjang, infusku kali itu dicabut oleh Akbar dan mereka berdua menggotongku untuk bersembunyi di dalam kolong tempat tidur besi yang tidak terlalu besar itu. Kami bertiga bersembunyi di dalam kolong tempat tidur karena menurut cerita Akbar kali itu goncangan yang dirasakan sungguh dahsyat. Bingkai foto itu berjatuhan dan pecah, kacanya berserakan di lantai. Lalu tembok-tembok juga retak meski tidak sepenuhnya roboh.
Setelah gempa mereda, mereka berdua kembali meletakkanku di atas kasur dan memanggil dokter untuk kembali memasangkan infus. Meski rumah sakit itu tidak runtuh, tapi barang-barang semuanya berserakan dan tembok-tembok rumah sakit itu retak.
Akhirnya setelah aku siuman dan sudah lebih baik, mereka kembali membawaku pulang ke Pondok. Tepat hari itu juga meski badanku masih lemas, aku ikut untuk keliling Desa yang sudah porak-poranda itu untuk mencari Bilal. Dalam perjalanan mencari Bilal itu air mataku terus menetes karena rasa bersalahku yang hari itu tidak memanggil Bilal untuk masuk ke dalam rumah dan menahannya untuk pergi.
Sampai sore aku dan teman-teman tidak bisa menemukan Bilal. Kami hanya melihat rumah-rumah warga yang rusak dan tertimpa pohon dan dalam keadaan seperti itu memang lebih sulit untuk mencari orang. Harapanku semakin tipis, dalam setiap langkah mencari Bilal tak henti-hentinya aku berdzikir memohon perlindungan dan keselamatan untuk Bilal.
Matahari semakin terbenam seakan tidak mau menungguku untuk mencari Bilal lebih lama. Pencarian harus dihentikan karena cuaca mulai gelap. Dan Ustadz Hanif ketika aku dan teman-temanku sampai meminta kami untuk mengikhlaskan Bilal apapun yang terjadi sebab kami pun sudah berusaha untuk mencarinya meski hasilnya memang belum ada.
Hatiku seperti runtuh, bagaimana mungkin aku bisa mengikhlaskan Bilal di tempat ini? Bagaimana mungkin aku tidak pulang bersama Bilal dan selamanya akan kehilangan Bilal. Hari itu aku benar-benar sesak, seperti tidak ada harapan lagi sampai akhirnya Ustadz Hanif membubarkan kami untuk kembali ke kamar masing-masing karena besok kami akan pulang ke kota.
Langkahku berat, nafasku sesak. Tapi dari sanalah aku mendengar suara Ali yang datang bersama dengan dua orang warga. Mereka medorong gerobak sementara Ali berlari mendatangiku dan teman-temanku, bilang bahwa Bilal sudah diketemukan dan ada di dalam gerobak itu.