Setelah bekerja seharian dari Senin hingga Sabtu, bukankah memberi sedikit ruang untuk istirahat di hari Minggu adalah sebuah hadiah mewah untuk badan?
Begitu pikir Fauzia, wanita yang sebentar lagi menginjak kepala tiga itu, lebih memilih merebahkan diri di kasurnya. Ia bahkan mengabaikan suara telepon masuk yang sudah sangat ia duga, itu dari siapa.
Namun siapa sangka, waktu istirahatnya hancur seketika. Karena Rosita, sang pelaku yang tak henti menghubunginya, kini malah mendatangi dirinya sampai ke kamarnya.
“Salahku yang malah ngasih kunci kontrakanku ke dia,” gerutu Fauzia dalam hati, tepat setelah Rosita masuk dan siap mengganggunya.
"Bagus banget, telpon dariku malah diabaikan cuma karena kamu lagi rebahan," celotehnya. Fauzia hanya memandangnya sekilas dan kembali menutup mata.
Tentu Rosita tidak membiarkan itu. Ia menarik paksa tangan sahabatnya, hingga tubuhnya sedikit terangkat.
"Buruan bangun, kamu harus ikut aku!" perintah yang sangat ingin Fauzia hindari.
"Aku menolak," ucapnya.
Rosita tak menyerah begitu saja, "Aku nggak mau nerima penolakan darimu."
Fauzia mendengus pelan, "Kalau gitu, biarin aku tidur satu jam lagi, deh. Abis itu, aku bakal nurutin ajakanmu."
Namun tak mempan, "Nggak bisa, acaranya dimulai kurang dari satu jam lagi. Kita harus siap-siap dari sekarang. Atau …."
"Aku akan mengguyurmu dan membuat kasurmu basah," ucap keduanya serempak, dengan nada yang berbeda.
Rosita mengancam, sedangkan Fauzia mengejeknya.
"Dasar. Ayo buruan bangun!"
Mau tidak mau, Fauzia pun bangun dan menegakkan tubuhnya. Lalu berkata, "Memangnya ada acara apa, sih? Kalau perjodohan lagi, aku nggak mau."
"Kalau kamu nutup hatimu terus, nggak akan ada orang yang berani masuk, Zi,” ucap Rosita dengan raut wajah yang terlihat serius.
Namun Fauzia malah menatapnya dengan malas, "Justru itu poin pentingnya. Aku nggak mau siapapun masuk ke hidupku. Apalagi kalau cuma mau mengusikku, bahkan kalau itu dirimu."
Rosita terdiam, padahal Fauzia sudah siap sekali kalau dia akan terkena amarahnya.
"Ini yang aku takutkan, Zia." seketika Fauzia dibuat heran setelah mendengarnya.
"Kenapa malah jadi kamu yang takut? Padahal aku rasa, ini normal. Aku udah pernah nikah, jadi nggak perlu nikah lagi, apalagi kalau cuma buat ngerasain kegagalan lagi."
Terdengar helaan napas panjang Rosita, sebelum akhirnya ia berkata, "Aku juga udah nikah, bahkan lebih dari sekali. Tapi aku nggak berpikiran pendek kayak kamu. Lagian ya, nggak semua laki-laki sama, kamu cuma perlu milih lebih teliti aja."
Fauzia terdiam, rasanya percakapan keduanya akan lebih panjang. Jadi Fauzia memilih untuk berhenti mendebatnya.
"Denger ya, Zia! Kamu pantas dapetin kebahagiaan kamu. Kalau pernikahan pertama kamu adalah luka, mungkin aja pernikahan keduamu nanti adalah obatnya."
Rosita masih melanjutkan, tetapi Fauzia lebih memilih untuk tidak meresponnya lagi. Ia hanya menggeliat dan menguap seolah perkataan Rosita hanyalah angin lalu.
Diperlakukan seperti itu, Rosita pun menyikut pelan Fauzia dan kembali berkata, "Ayolah, aku cuma mau ngajak kamu buat healing. Bukan langsung nyuruh kamu buat nikah sekarang juga."
Akhirnya Fauzia menarik tubuhnya untuk berdiri dan melenggang ke kamar mandi.
"Iya, iya, aku mandi dulu ya."
"Oke."
***
"Ros, kita mau ke acara apa?" tanya Fauzia, Rosita yang duduk tepat di sebelahnya, menjawab tanpa menoleh.
"Ke acara ulang tahun temanku."
“Acara ulang tahun? Bukannya kita harus bawa kado?" tanya Fauzia, yang malah mendapat decakan dari Rosita.
“Nggak perlu, kita bukan datang ke acara ulang tahun anak TK," jelasnya, membuat Fauzia mendengus pelan.
Lalu bertanya hal lain, "Ros, gimana outfit-ku? Apa nggak terlalu terbuka?" tanya Fauzia lagi, kali ini meminta pendapatnya.
Pasalnya, ia mengenakan gaun panjang yang menjuntai hingga hampir menyentuh mata kaki. Lengan gaunnya sebatas siku, tetapi bagian bahu dan sedikit punggung atasnya terbuka.
"Kamu udah nanyain itu terus, bahkan dari sebelum baju itu kamu pake. Jadi tolong nggak usah nanyain lagi hal yang nggak perlu!"
Rosita terlihat kesal sekarang, tapi Fauzia terlihat tidak begitu peduli, "Ros …."
"Apa lagi?"
"Karena kamu yang ngajak, jadi aku nggak mau ngeluarin uang sepeserpun," ucap Fauzia.
Rosita mendengus, "Iya, iya. Lagian aku juga ngajak bukan karena mau memerasmu."
"Ya, karena aku bukan anggur."
***
"Zia, ayo buruan turun! Kita udah sampai!" ajaknya, tepat setelah taksi yang keduanya naiki berhenti dan Rosita membayarnya.
Fauzia pun turun tanpa banyak bertanya lagi, pandangannya seketika mengedar memperhatikan sekeliling.
Gedung-gedung berjajar dengan begitu megah dan tinggi. Membuatnya begitu terpukau sampai bibir mungilnya sedikit menganga.
Nggak kusangka ada tempat semegah ini di dekat tempat tinggalku. Parahnya aku baru tahu.
Ke mana aja sih, aku selama hidup? Sekolah, lulus, menikah, bercerai, lalu kerja, kerja dan kerja.
Pikir Fauzia, yang begitu terpesona melihat sesuatu yang baru baginya. Sampai ia mengabaikan Rosita yang sedari tadi memanggilnya.
"Zia ... Zia …."
Fauzia pun tersentak dan refleks menoleh, "Ada apa? Kamu pasti terpesona kan lihat tempat ini?" tanya Rosita.
Fauzia mengangguk, mengiyakan. Bagaimanapun terlihat jelas dari ekspresinya tadi, jadi rasanya sangat tidak mungkin jika ia bilang tidak.
"Jadi ke mana tujuan kita, Ros?" tanya Fauzia kemudian.
Terlihat Rosita tengah berkutat dengan ponselnya, mengetik sebuah pesan pada seseorang yang akan keduanya temui.
"Oh, di sana katanya." tunjuk Rosita pada sebuah gedung. Rosita pun melangkah memandu Fauzia yang hanya bisa mengikuti arah ke mana Rosita pergi.
***
Bukan hanya luarnya, ternyata dalamnya terlihat lebih wah lagi. Sungguh ini tempat yang asing bagi Fauzia, tapi ia terlihat bisa menerimanya.
"Ros, ini sebenarnya tempat apa?" tanya Fauzia, sengaja ia memelankan suaranya.
"Serius kamu nggak tahu ini tempat apa?" Rosita malah balik bertanya dengan ekspresi heran.
Fauzia mengangguk, "Aku serius."
"Ini yang sering disebut dengan apartemen, ingat itu baik-baik, Zia," ucap Rosita. Fauzia pun hanya ber-oh ria. Tanpa tahu apa yang dimaksud dengan apartemen yang dikatakan sahabatnya itu.
Apa seperti hotel bintang lima atau lebih mirip rumah susun versi elite? Entahlah ... tapi sungguh, apartemen ini baunya enak, mirip bau vanilla. Pikirnya, sampai sesekali ia menarik napas panjang sambil memejamkan matanya, menikmati aroma manis yang memanjakan indra penciumannya.
"Nah di sana, tempat pertemuan kita." tunjuk Rosita pada tempat yang dia maksud, dengan dagunya. Lagi-lagi Fauzia hanya mengekorinya saja.
"Mungkin sebaiknya kita sapa dulu yang udah ngundang aku ke sini," ucap Rosita, lalu mendekat pada seseorang yang bertubuh tinggi.
"Sore, Bang Aji," sapa Rosita, Aji yang sedang asyik mengobrol, seketika menoleh, tersenyum ke arah Rosita lalu mereka cipika-cipiki.
"Sore, Ros. Akhirnya datang juga, kamu nggak kesusahan, kan? Walau lokasinya pindah dadakan?" tanyanya. Rosita menggelengkan kepalanya dengan wajah sedikit tersipu.
"Ya, begitulah Bang. Oh iya, kenalin ini Zia yang aku bahas waktu itu," ucap Rosita, lalu memberi kode pada Fauzia untuk maju.
Fauzia pun melangkah beberapa langkah, tersenyum walau mungkin terkesan terpaksa, membalas uluran tangan lelaki yang dipanggil Bang Aji tersebut, dan memperkenalkan diri.
"Aku Zia, Bang Aji. Salam kenal," ucap Fauzia, berusaha ramah. Walau ia menjadi risih, saat Aji menatapnya dari atas hingga bawah, lalu ke wajahnya.
"Salam kenal juga, Zia. Selamat bergabung,” ucap Aji, Fauzia mengangguk pelan. Lalu buru-buru menarik tangannya dan langsung memberi kode pada Rosita.
Rosita yang paham akan ketidaknyamanan Fauzia pun, segera berpamitan pada Aji. Lalu keduanya mendudukkan diri di sebuah kursi yang sudah disediakan.
"Ros, itu Bang Aji yang pernah kamu kenalin ke aku waktu dulu bukan, sih? Atau beda orang?" tanya Fauzia.
"Iya, Zi. Ternyata masih inget aja."
Fauzia mendengus pelan, "Ya gimana mau lupa, kamu kenalin aku sama lelaki yang udah beristri. Kamu minta aku dibunuh, hah?"
Rosita malah terkekeh tak berdosa, membuat Fauzia berdecak pelan. Lalu berkata, "Jangan bilang, kalau lelaki di sini semuanya udah beristri."
Tawa Rosita seketika pecah, membuat keduanya jadi pusat perhatian. Tentu Fauzia tak diam, ia buru-buru menyikutnya.
"Hei, pelanin suaramu, Ros!" protesnya.
"Maaf, maaf … habisnya kamu ini."
"Apa?" Fauzia memandangnya malas.
"Nggak kok, tenang aja. Yang datang campuran. Ada singlelillah, ada bujang tulen gak nikah-nikah, ada duda beranak pinak dan yang beristri mungkin cuma satu atau dua lagi lah, selain Bang Aji."