Home Eventually

Jiw April
Chapter #2

Terbiasa

Waktu berlalu dan akhir pekan semakin dekat. Setelah hampir satu minggu berlalu dari acara ulang tahun Aji, Fauzia belum juga memberikan jawaban atas pertanyaan Rosita mengenai jas milik Raka yang belum ia kembalikan.


Rasanya sudah dapat dipastikan, bahwa hari Minggu besok Rosita akan mengunjungi Fauzia kembali.


Kira-kira aku harus ngasih alasan apa, ya? Pikirnya.


Fauzia berjalan melewati gang menuju kontrakan, sambil terus memikirkan jawabannya.


Padahal biasanya, Fauzia berjalan seolah tanpa beban di jalanan ini, tanpa memikirkan apapun bahkan hari esok sekalipun.


Tersenyum kecil saat melihat anak-anak kecil bermain bersama di bawah langit senja, atau sekadar memberi sapaan singkat saat melewati sekumpulan ibu-ibu yang berkerumun di depan rumah yang sudah hampir satu tahun ini ia lewati.


Di tengah riuhnya jalanan dan isi kepala, tiba-tiba motor yang baru saja melewatinya berhenti sekitar dua meter di depannya.


Orang yang dibonceng itu turun, dan saat orang tersebut melepas helm yang dikenakannya, Fauzia merasa orang tersebut mirip dengan seseorang.


Raka? Dia Raka? Mau ke mana ya dia?


Fauzia mempercepat langkahnya, bahkan menjadi semakin cepat, saat Raka menelusuri jalanan yang sama dengan arah menuju kontrakannya.


Apa jangan-jangan dia mau menemuiku? Tapi dari mana dia bisa tahu alamat kontrakanku? Apa dari Rosita?


Masuk akal jika begitu. Pikirnya.


Fauzia yang semakin penasaran, terus mengikutinya sampai tiba-tiba Raka menoleh, karena merasa diikuti.


Sontak Fauzia panik, melirik ke sana-kemari hendak bersembunyi. Tapi ... terlambat.


"Kamu …," ucap Raka sambil memperhatikan Fauzia dengan seksama. Fauzia tersentak, tapi tak dapat menghindar.


"Kamu Fauzia?" tanyanya memastikan.


Raut wajah Fauzia berubah saat mendengar pertanyaan itu, Kenapa Raka nggak langsung ngenalin aku? Kenapa dia malah nanya dulu? Batinnya.


Sampai Fauzia teringat akan sesuatu yang menutupi wajahnya. Rupanya ia mengenakan masker.


Raka mendekat, dan kembali bertanya, “Ternyata beneran kamu, Zia. Lagi apa di sini?"


Fauzia gelagapan, detak jantungnya tak karuan, ia tak bisa memikirkan jawaban yang pasti di saat seperti ini.


"A-aku … aku kebetulan lewat sini," jawab Fauzia asal.


"Oh, begitu."


Fauzia mengangguk pelan, lalu segera berpamitan, "Aku pergi duluan, ya."


"Ke mana?"


"Ke kontrakanku," jawab Fauzia, sambil berharap Raka tidak bertanya apapun lagi dan membiarkannya pergi.


"Oh, ternyata kamu ngontrak di daerah sini juga?"


Hah? Juga? Batin Fauzia, yang lagi-lagi ia terkejut dibuatnya. Lantas ia segera membuka maskernya dan memastikan, "Apa kamu ngontrak di daerah sini juga?"


Raka mengangguk, "Ya, tepat di persimpangan depan, lalu belok kanan."


Eh? Kebetulan macam apa ini? Batin Fauzia.


"Kalau kamu?" tanya Raka.


"K-kalau aku, yang belok kirinya," ucap Fauzia sedikit gugup.


"Wah, siapa sangka. Kalau gitu, ayo kita jalan bareng sampe persimpangan di depan!" ajak Raka, Fauzia pun mengangguk, mengiyakan ajakannya. Karena rasanya ia tidak punya alasan untuk menolak.


"Ah, iya, jasmu yang kamu pinjamkan waktu itu. Udah aku cuci," ucap Fauzia.


"Makasih," jawab Raka singkat, sambil tersenyum.


Lihat selengkapnya