Setelah Raka mampir ke kontrakan Fauzia beberapa hari lalu, Fauzia merasa keheranan. Pasalnya hari-hari selanjutnya ia jadi tidak terlalu canggung jika tiba-tiba bertemu dengan Raka saat pulang bekerja menuju kontrakan.
Mungkin karena udah tahu, kalau dia ngontrak di sekitar sini juga. Walau nggak banyak yang kami obrolin, cuma saling sapa dan cerita soal kerjaan. Begitu pikirnya.
Sesekali Fauzia juga menanyakan kabar Sherly, yang katanya dia juga selalu menanyakan tentang Fauzia.
Sampai tak terasa, hari Sabtu kembali tiba. Saat kembali berpapasan dengan Raka, Fauzia yang sudah mulai terbiasa menyapa dan mendapat sapaan darinya, tiba-tiba Raka mengatakan sesuatu.
"Besok aku libur dua hari, karena setelah itu aku harus ke luar kota lagi," ucapnya, Fauzia hanya mengangguk pelan.
"Jadi kayaknya, malam ini aku bakal pulang buat ketemu Sherly dulu," Raka melanjutkan.
Akhirnya, Fauzia buka suara, "Kalau gitu, aku titip salam buat Sherly, ya. Sekaligus minta maaf juga, karena belum bisa ketemu dia."
Raka mengangguk, "Iya, pasti nanti bakal aku sampein ke Sherly."
***
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian sehari-hari, Fauzia duduk termenung di kursi yang minggu lalu diduduki Raka.
Tiba-tiba suara motor mengejutkannya. Refleks ia menoleh tepat saat motor itu parkir tepat di depan kontrakan.
Rosita? Dan ....
"Halo, Zia ... gimana kabarnya? Maaf ya, nggak ngabarin dulu," ucap Guniar, sedangkan Deris yang baru saja memarkirkan motornya hanya melemparkan senyum.
"Iya maaf nih, tapi kami nggak ganggu, kan?" tanya Rosita. Fauzia hanya menggelengkan kepalanya.
"Tenang, kami nggak datang dengan tangan kosong, kok,” ucap Guniar, sambil memperlihatkan sekantong kresek yang ditentengnya. Bersamaan dengan Rosita dan Deris yang menirunya.
Fauzia hanya tersenyum, "Ya udah, duduk dulu sini. Aku mau bawa minum dulu,” ucap Fauzia, lalu berlalu setelah mendapat anggukan dan acungan jempol.
Fauzia segera masuk ke kontrakan. Tapi lagi-lagi ia merasa keheranan, biasanya ia akan merasa kesal ketika Rosita datang dan membuat kebisingan. Tapi kali ini, bahkan suara keras mereka yang berisik itu malah terasa hangat bagi Fauzia.
Fauzia menyiapkan piring untuk makanan yang mereka bawa, dan lima gelas berikut teko yang berisi air.
"Eh, Zia? Kok kamu bawa gelasnya lima?" tanya Rosita, membuat Fauzia kembali menghitung jumlah orang dan jumlah gelas yang dibawanya.
"Oh, iya, kelebihan satu ya," ucap Fauzia lalu menampilkan deretan giginya.
Tiba-tiba ketiganya saling tatap, lalu menatap ke arah Fauzia dengan senyuman yang aneh bagi Fauzia.
"Ah, jangan-jangan kamu ngira Raka datang ya," goda Guniar.
"Nggak," sanggah Fauzia sambil memalingkan wajahnya yang entah mengapa mendadak terasa panas.
"Kalau gitu, aku telepon dia deh suruh datang," ucap Deris, tapi Fauzia buru-buru mencegahnya.
"Eh. Nggak perlu, lagian Raka nggak ada di kontrakan, dia lagi pulang ke rumah orang tuanya," ucap Fauzia, yang lagi-lagi membuat ketiganya tersenyum aneh.
"Cie ... cie ... kok tahu banget sih?" tanya Guniar, lalu bersiul, diiringi tawa Deris.
"Apa jangan-jangan kalian udah tukeran kontak?" Rosita mulai menelisik. Fauzia segera menggelengkan kepalanya.
"Terus?" tanya ketiganya serempak.
Fauzia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, entah mengapa ia malah menjadi gugup sekarang.
"K-kami ... sering nggak sengaja berpapasan di jalan. Itu aja, kok," ucap Fauzia.
Namun Rosita malah dengan seenaknya mengambil ponsel milik Fauzia, yang memang diletakkan di kursi, saat Fauzia hendak mengambil air minum tadi.
"Biar ku telpon dia ya," ucap Rosita kemudian. Sontak Fauzia langsung mendekat dan berusaha merebut ponselnya. Tentu Rosita tidak membiarkannya.
Bahkan Deris mendukungnya, dan langsung menyebutkan nomor Raka. Rosita dengan sigap menuliskannya di ponsel Fauzia, lalu menghubunginya.
Akhirnya Fauzia hanya bisa terdiam pasrah.
"Diangkat ... diangkat …," ucap Rosita heboh. Guniar langsung mengambil alih dan berkata, "Ini gue, Guniar. Sini Ka! Kita lagi di kontrakan Zia nih."
Namun yang menjawab ternyata bukan Raka, tapi Sherly "Eh. Om Gun lagi di kontrakan tante Zia, ya? Ayah ... Ayah ... ayo kita ke sana Ayah!" terdengar suara Sherly di seberang telepon sana.