Home Eventually

Jiw April
Chapter #4

Rasanya Dia Berbeda

Cahaya matahari perlahan mulai menyapa lewat jendela kamar. Membuat Fauzia mau tidak mau membuka matanya.


Terlihat Rosita masih tertidur lelap di sampingnya, membuat Fauzia berbalik dan ternyata ponselnya masih berada tepat di sampingnya.


Fauzia lalu mengeceknya. Bahkan layarnya masih menampilkan pesan dari Raka semalam yang tak ia balas. 


Mungkin sebaiknya aku balas chatnya sekarang. Pikirnya.


Pagi

Makasih udah ngabarin.

Dan maaf baru kubalas sekarang. 


Fauzia meletakkan ponselnya, menggeliat dan menguap. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering menandakan pesan masuk. 


Nggak apa-apa, tapi kayaknya sandal Sherly ketinggalan deh di kontrakan kamu.


Fauzia malah senyum-senyum sendiri saat membacanya.


Sandal Sherly ketinggalan katanya? Bukannya ini berarti dia bakal ke sini lagi buat ngambil sandal anaknya? Pikir Fauzia, tapi ia segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Menepis apa yang baru saja dipikirkannya, dan segera mengetik pesan balasan.


Ya ampun. Kalau gitu nanti aku cari deh,

Terus aku simpan. Kamu bisa ngambil kapan aja.


Iya, makasih ya.

Maaf, lagi-lagi malah ngerepotin.


Nggak, kok.


Dengan masih melebarkan senyumnya, Fauzia segera menyimpan ponselnya dan ke kamar mandi, saat ia mendengar Rosita menggeliat.


Dia nggak boleh lihat ekspresi wajah anehku. Batinnya.


***


Selagi Rosita masih berbaring, Fauzia buru-buru mencari sandal Sherly dan memasukkannya di tempat yang hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.


Karena kalau Rosita tahu, pasti dia langsung ngajakin podcast. Pikir Fauzia.


“Zi … nyari sarapan yuk!” ajaknya, terlihat Rosita sudah berdiri di ambang pintu kamar.


“Boleh," ucap Fauzia sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah ke kamar mandi dan bersiap, Fauzia dan Rosita meninggalkan kontrakan, berjalan kaki menuju alun-alun. Karena biasanya di hari Minggu banyak pedagang di sana.


"Mau beli apa?” tanya Rosita, membuat Fauzia berpikir sejenak, sambil mengedarkan pandangannya melihat ke berbagai pedagang yang berjejeran di sana.


“Apa ya ... ketupat mau?" tanya Fauzia.


“Boleh tuh, udah lama juga." setelah menyetujuinya, Rosita pun segera berjalan ke arah penjual ketupat.


Sedangkan Fauzia, selagi Rosita memesan, ia mencari tempat duduk yang dirasa nyaman dan bersih untuk keduanya makan nanti.


Setelah dapat, ia duduk dan mengeluarkan ponselnya dari sakunya, yang ternyata ada pesan masuk dari Raka.


Udah sarapan belum?


Wah, tujuh menit yang lalu, aku harus segera membalasnya. Batin Fauzia.


Tak ingin membuat Raka menunggu lebih lama lagi, ia segera mengetik sebuah balasan.


Ini lagi beli ketupat di alun-alun sama Rosita.


Oh, masih sama Rosita.

Tadinya mau kuajak sarapan sambil bawa sandal Sherly. Tapi nggak apa-apa, mungkin pas jam makan siang aja, ya.


Eh? Maksudnya dia mau makan bareng aku lagi? tanya Fauzia dalam hati. Tapi belum sempat ia membalas, Raka kembali mengirim pesan.


Itu pun kalau hari ini kamu senggang.


Aku senggang, kok.


Kalau gitu, sampe ketemu nanti siang.


Oke.


Tiba-tiba Rosita datang dengan dua porsi ketupat di tangannya. “Nih, ketupatnya udah datang. Mari kita eksekusi!" 


“Makasih." 


“Oh, iya setelah ini enaknya apa ya?" tanya Rosita, Fauzia hanya menggeleng karena mulutnya sedang mengunyah.


"Mau jalan nggak, mumpung libur?”


Hampir saja Fauzia mengangguk mengiyakan ajakannya, tiba-tiba ia teringat isi pesan dari Raka tadi.


"Em ... Ros, kayaknya aku …." belum sempat Fauzia menyelesaikan perkataannya, Rosita kembali berkata, “Ya ampun, kayaknya aku nggak bisa, Zi. Maaf, hari ini jadwal rutin nganter ibuku belanja bulanan,” ucapnya, tepat setelah ia melihat sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.


“Iya, nggak apa-apa. Jalan sama aku bisa kapan aja, kan?" tanya Fauzia, lalu kembali melahap ketupatnya.


Namun Rosita memandangnya malas, sambil berkata, “Bisa kapan aja apanya? Cuma bisa hari Minggu,” ucap Rosita lalu mendengus, sedangkan Fauzia malah tertawa.


***


Bentar lagi aku otw kontrakan sama Sherly, ya.

Lihat selengkapnya