Malam hari yang biasanya terasa dingin dan membosankan bagi Fauzia, seketika berubah. Walau jaraknya dan Raka kini berjauhan, tapi terasa dekat hanya karena sebuah pesan singkat yang saling mereka tukar.
Bahkan Fauzia sampai tidak rela matanya berkedip sedetik saja, saking takutnya ada satu huruf yang Raka kirim untuknya terlewatkan begitu saja.
Namun tak bisa dipungkiri, Fauzia juga kadang merasa takut. Terlebih dirinya yang memang mudah overthinking itu sering kali bertanya-tanya hal yang membuatnya takut.
Gimana kalau Raka cuma baik di awal aja?
Sebisa mungkin Fauzia membuang pertanyaan itu jauh-jauh. Terlebih kata-kata Raka yang tak terkesan romantis tapi manis itu, selalu membuatnya merasa bahwa dia tak seperti lelaki kebanyakan di luaran sana.
Gimana hari ini?
Cukup melelahkan.
Apa ada sesuatu yang buat kamu nggak nyaman?
Fauzia berpikir sejenak, mencerna baik-baik pertanyaan yang Raka lontarkan.
Nggak ada,
Cuma … ya, mungkin ini bawaan alami wanita.
Hm …
Maksudmu datang bulan?
Eh? Siapa sangka, tingkat kepekaannya luar biasa. Fauzia sampai terkejut dan membacanya berulang, takut jika matanya salah lihat.
Ah, iya, ini hari pertama.
Jadi rasanya selalu membuat nggak nyaman.
Maaf, mungkin kamu malu karena tiba-tiba cowok yang nggak ada hubungannya sama kamu malah bahas hal kayak gini.
Tapi, barusan aku iseng searching. Kata Google, sebaiknya bukan cuma minum air hangat, tapi dikompres juga. Atau seduh teh herbal kalau kamu suka.
Makasih ya,
Aku coba deh saranmu sekarang.
Ya, semoga aja bisa bantu.
Perlahan Fauzia menyimpan ponselnya, lalu ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya dan berteriak seperti orang gila.
Rasanya Fauzia tak membutuhkan air hangat untuk ia minum atau untuk mengompres perutnya. Karena seluruh tubuhnya sudah menghangat berkat isi pesan dari Raka untuknya.
***
Sudah hampir sebulan sejak Raka pergi, tapi keduanya masih sering saling mengabari lewat pesan singkat. Walau waktu keduanya tidak banyak, hanya malam saja saat mereka berdua telah rehat dari pekerjaan.
Tapi sudah beberapa hari ini, Fauzia tidak berangkat bekerja. Dan tentu hal itu ia sampaikan pada Raka.
Kenapa?
Karena lagi nggak ada barang aja.
Makanya karyawan banyak yang diberhentiin dulu.
Tapi sementara, kok.
Pasti bosan, ya?
Banget.
Sayangnya, aku pulangnya masih lama.
Iya, nggak apa-apa.
Kamu yang semangat kerjanya.
Pasti.
Btw, kalau kamu nggak kerja, nggak ada pemasukan dong?
Iya nih, tapi aman kok.
Uang gajian bulan kemarin masih ada.
Lagian gajian tanggal 25, sekarang baru juga tanggal 8.
Aku ada pegangan nih dikit.
Kamu punya aplikasi Dana, kan?
Yang ini kan nomor Dana-nya?
Aku tf, ya.
Eh, apaan. Nggak apa-apa, nggak usah.
Serius, aku masih ada uang, kok.
Namun tiba-tiba sebuah notifikasi dari aplikasi Dana masuk. Raka sudah mentransfer uang padanya.
Fauzia terdiam sesaat, ia melebarkan matanya, melihat dan membaca nama sang pelaku yang telah mengirimkan uang padanya baik-baik.
Sampai sebuah notifikasi masuk mengejutkannya. Kali ini pesan WhatsApp dari Raka.