Hari demi hari berlalu, komunikasi yang terjalin antara Fauzia dan Raka semakin membaik. Meski percakapan keduanya lewat WhatsApp malam itu tidak terselesaikan, karena tidak ada yang berani bertanya dan tidak ada yang berani membahasnya.
Aku mungkin bakal pulang lusa.
Entah sudah berapa kali Fauzia membaca pesan yang dikirim Raka untuknya itu. Dan semakin lama dibaca, semakin campur aduk juga perasaannya.
Ada rasa bahagia yang tak bisa dijelaskan.
Tapi kenapa? Kenapa bisa aku sebahagia ini? Pikirnya.
Dan saking bahagianya, Fauzia sampai mengabaikan pesan tersebut. Tentu itu membuat Raka kembali bertanya-tanya.
Namun tak ingin berpikir jauh, apalagi sampai berpikir yang tidak-tidak. Raka pun memikirkan kemungkinan yang sangat mungkin terjadi saja.
Mungkin hpnya lagi di charger. Pikir Raka.
Sampai akhirnya malampun tiba, Fauzia yang sudah memikirkan baik-baik balasannya segera mengambil ponselnya dan membalas.
Iya, semoga kamu bisa pulang dalam keadaan sehat.
Namun sayangnya, pesan yang Fauzia kirim tak kunjung juga membiru. Pertanda Raka belum membacanya.
Dan seperti halnya Raka, Fauzia juga memilih untuk berpikir positif saja. Mungkin dia udah tidur. Pikirnya, tepat saat ia menyadari jam di ponselnya telah menunjukkan pukul 21.47.
Fauzia pun kembali menyimpan ponselnya, menutup matanya, meski ia sangat yakin, ia tidak akan bisa tidur begitu saja.
Sedangkan di sisi lain, Raka masih bekerja. Ia sengaja lembur, agar ia benar-benar bisa pulang lusa.
Karena tentu bukan hanya Fauzia, tapi Raka juga merasa heran terhadap dirinya sendiri. Semenjak bertemu tanpa sengaja dengan Fauzia, ia merasa enggan pergi bekerja sampai ke luar kota begini. Tapi juga mendadak giat bekerja, saat waktu pulang semakin mendekat.
Aneh. Tapi mungkin aku begini karena kangen Sherly juga. Pikir Raka.
***
Sayangnya, hari menjelang kepulangan Raka, malah membuat komunikasi keduanya memburuk. Bukan hanya kesibukan Raka di tempat kerjanya, tapi Fauzia yang juga kembali bekerja.
Sampai akhirnya, sore hari di mana Fauzia baru saja pulang bekerja. Ia mandi dan segera berganti pakaian, lalu merebahkan dirinya yang nampak lelah. Tanpa menghiraukan ponselnya yang sedari tadi terus berdering menandakan telepon masuk.
Mungkin Rosita. Pikirnya, makanya ia mengabaikannya.
Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, sontak Fauzia langsung menegakkan tubuhnya.
Rosita? Tapi dia punya kunci kontrakan, jadi ngapain dia gedor-gedor. Batinnya.
Karena penasaran, Fauzia pun melangkahkan kakinya dan segera membukakan pintu. Ternyata ….
“Raka?"
Lelaki itu segera menoleh, tersenyum dan menyapa, “Sore, Zia."
Fauzia terdiam, ia merasa hanya rebahan tidak sampai ketiduran, tapi mengapa ia bisa bermimpi?