Home Eventually

Jiw April
Chapter #7

Aku Siap Jadi Telinga

Hari Minggu tiba dengan begitu cepat.


Seperti yang sudah direncanakan, Raka menjemput Fauzia ke kontrakan setelah ia menjemput Sherly di kediaman mamanya.


Ketiganya menghabiskan akhir pekan itu, tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Makan bersama, menemani Sherly bermain, lalu membeli cemilan untuknya.


Tapi kali ini, Raka lebih memilih untuk mengantarkan Sherly terlebih dulu. Dengan alasan, ada yang ingin ia sampaikan pada Fauzia.


“Maaf ya, kayaknya aku belum siap kalau harus bawa kamu ke rumah orang tuaku sekarang," ucap Raka.


“Iya, nggak apa-apa banget. Lagian aku juga sama kok, belum siap juga," jawabnya, lalu menghela napas lega.


Pasalnya saat Raka mengatakan ingin mengantarkan Sherly terlebih dulu, Fauzia sudah merasa takut, jika Raka akan membawanya sekalian ke rumah orang tuanya.


“Iya, kamu jangan salah paham ya, aku bukannya nggak mau ngenalin kamu, tapi belum siap aja.”


Fauzia tersenyum dan mengangguk pelan, "Iya, lagian aku pikir kalau sekarang, kesannya malah kecepetan, sih," ucap Fauzia.


Terlebih hubungan dan status kita belum jelas juga, kan? Batin Fauzia.


Raka mengangguk tanda setuju, lalu bertanya, “Kalau gitu, mau di mana ngobrolnya?" 


Fauzia pun lantas berpikir, tapi sayangnya karena dia jarang sekali mendatangi tempat-tempat yang dirasa cocok buat sekadar ngobrol, jadi tentu ia tak bisa memberikan saran.


"Kamu inget nggak, tadi kita ngelewatin taman? Biasanya jam-jam segini, nggak terlalu ramai di sana. Jadi gimana kalau di sana aja?” tanya Raka, Fauzia mengangguk tanpa ragu.


"Iya, di sana aja.”


***


Setelah sampai, Raka langsung memarkirkan motornya. Fauzia pun turun begitupun dengan Raka.


"Kamu duluan cari tempat duduk, ya. Nanti aku nyusul,” ucap Raka, membuat Fauzia heran dibuatnya.


“Kenapa nggak bareng aja?"


“Aku mau cari minum dulu, haus. Kamu mau minum apa biar sekalian?” tanya Raka, lagi-lagi Fauzia berpikir tanpa tahu harus menjawab apa.


“Apa aja deh, samain juga nggak apa-apa," jawabnya. Raka pun mengangguk dan berlalu.


Sementara Fauzia, perlahan kakinya melangkah menuju taman. Suasananya begitu sejuk, karena masih banyak pohon rindang di pinggirannya.


Lihat selengkapnya