Fauzia pulang dalam keadaan hati yang tak karuan, begitu juga dengan Raka. Tetapi Raka berusaha bersikap biasa saja, ia melebarkan senyumnya tepat setelah Fauzia sampai di kontrakan, kemudian berlalu seolah tak terjadi apa-apa di antara keduanya.
Namun setidaknya Fauzia bisa bernapas sedikit lega, dengan sikap Raka yang seperti itu. Karena jika Raka menunjukkan sikap yang berbeda, tentu Fauzia akan semakin bingung dibuatnya.
“Cie, baru pulang nge-date nih," ucap Rosita yang sudah berdiri di depan pintu kontrakan Fauzia yang terbuka lebar.
"Ngagetin aja,” ucap Fauzia sambil mengelus dada. Rosita hanya tertawa, lalu mengekori Fauzia sampai ke kamarnya, hendak menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
"Kayak biasa ya, kalau main sama Raka, pulangnya nggak pernah tangan kosong,” ucap Rosita, membuat Fauzia tersenyum sekilas. Lalu menyodorkan kresek yang sedari tadi dibawanya pada Rosita.
"Iya nih, mau?” tawarnya.
Lantas Rosita langsung mengambil alih kresek tersebut, membukanya dan mengambil sebungkus cemilan yang ia inginkan.
“Aku ambil ini deh," ucapnya lagi, Fauzia hanya mengangguk pelan.
Lalu ia merebahkan diri di atas ranjang, Rosita buru-buru mendudukkan diri di sampingnya.
"Kok kayak lemes gitu, sih? Apa terjadi sesuatu antara kamu sama Raka? Apa jangan-jangan kalian abis …,” ucap Rosita yang langsung dapat timpukan empuk dari Fauzia menggunakan bantal.
"Mau ngomong apa kamu, Ros?”
Rosita terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, "Maaf, Zi. Jadi apa jangan-jangan kalian berantem tadi?” tanya ulang Rosita.
Fauzia kembali meletakkan bantal di bawah kepalanya, dan mulai bercerita. Tentu Rosita mendengarkannya tanpa berani menyela, sampai Fauzia benar-benar berhenti berkata.
"Kamu ngasih tanggapan apa?” tanya Rosita, terdengar Fauzia menghela napasnya, lalu menggeleng sebagai jawaban.
“Ya, kalau aku di posisi kamu juga, pasti bingung banget sih, harus ngasih tanggapan apa. Tapi setelah itu Raka bilang apa lagi? Dia nggak tiba-tiba nanya kamu mau nerima dia atau nggak, kan?" tanya Rosita.
Lagi-lagi Fauzia menggeleng, "Untungnya nggak, ya. Yang ada dia langsung ngalihin pembicaraan.”
"Keren sih, gimana ngalihinnya?” tanya Rosita yang sudah dikuasai rasa penasaran.
“Makan pisang bakar,” jawab Fauzia, membuat Rosita langsung menoleh, "Wah, mana kok nggak bawa?”
"Nggak lah, udah abis dimakan tadi. Sisanya, ya itu. Makanan ringan yang di kresek itu," jawab Fauzia, sontak Rosita langsung membuka cemilan di tangannya.
Saking seriusnya ia mendengarkan Fauzia bercerita, ia sampai lupa untuk melahap cemilan yang sudah dipegangnya.
“Jadi Ros, menurutmu aku harus gimana?" tanya Fauzia, tetapi Rosita memberi isyarat untuk menunggu, karena mulutnya baru saja melahap cemilan.
Setelah benar-benar menelannya, Rosita akhirnya menjawab dengan pertanyaan, "Perasaan kamu sendiri gimana setelah dengar cerita masa lalunya Raka?"
Fauzia memejamkan matanya, lalu menjawab, “Jujur aku kaget, dengar cerita dia, lihat ekspresi dia setelah cerita. Dan aku juga bingung, harus ngasih tanggapan kayak gimana. Sekaligus aku takut juga, Ros."
Rosita kembali bertanya, “Takut kamu cuma jadi pelampiasan dia?" Fauzia segera menggeleng.