Home Eventually

Jiw April
Chapter #9

Nasi Liwet

Akhirnya hari di mana Fauzia akan pulang untuk menemui orang tuanya tiba. Raka yang minggu lalu menawarkan diri untuk mengantar juga sudah berada di kontrakan Fauzia.


“Pas jalan ke sini, kebetulan aku lewat toko kue. Jadi aku mampir dulu,” ucap Raka, saat Fauzia tanpa sengaja menoleh ke arah kresek yang sudah tergantung di motor Raka.


Fauzia tersenyum, lalu ia berkata, “Kamu kebiasaan ya, repot-repot beli ini-itu. Aku jadi nggak enak tahu," ucapnya. Raka segera menggelengkan kepalanya.


“Nggak repot, kok. Lagian cuma kue, nggak yang terlalu mahal juga aku belinya, jadi nggak perlu ngerasa nggak enak segala," ucap Raka.


“Ya udah, makasih ya buat kue-nya. Tapi sebelum berangkat, aku mau nanya kamu sekali lagi, boleh?” tanya Fauzia, Raka pun segera mengangguk.


"Boleh.”


"Kamu yakin, udah siap nih buat ketemu orang tua aku?” pertanyaan Fauzia membuat Raka terdiam, Fauzia pun melanjutkan, "Kalau semisal belum siap, nggak apa-apa, kok. Bilang aja, mumpung masih di sini. Biar kalau kamu cuma mau nganter, ya udah nganter aja. Nggak usah sampai ketemu orang tuaku dulu.


Walau, aku udah bilang sih. Kalau aku nggak bakal datang sendirian. Tapi ya, bukan berarti kamu harus maksain diri juga. Biar aku buat alasan yang masuk akal aja ke orang tuaku, tanpa berbohong tentunya."


Namun tentu, Raka sudah memikirkan sekaligus menyiapkan diri selama seminggu penuh tepat setelah ia menawarkan diri untuk mengantar Fauzia ke rumah orang tuanya.


Lantas Raka pun menjawab, "Iya, Zi. Aku udah siap, kok. Lagian niatku cuma mau silaturahmi, bukan langsung ngelamar kamu.”


Seketika Fauzia tersipu dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, "Y-ya udah, kalau gitu. K-kita berangkat sekarang." 


Raka hanya tersenyum sambil sedikit menunduk. Lalu ia menaiki motornya dan menyalakannya, disusul Fauzia. Dan keduanya pun berlalu, meninggalkan kontrakan menuju kediaman orang tua Fauzia.


Tak banyak yang mereka bahas selama di perjalanan, hanya fokus pada arahan yang diarahkan Fauzia. Selebihnya, keduanya lebih banyak diam.


Meski dalam hati keduanya, semakin jauh motor yang mereka naiki melaju, maka semakin dekat pula tempat yang akan mereka tuju.


***


Tepat saat Raka telah tiba di halaman rumah orang tua Fauzia. Pintu perlahan dibuka, menampilkan kedua orang tua Fauzia bersama adik laki-lakinya.


Bapak dan adik Fauzia berdiri di ambang pintu, sedangkan sang ibu segera mendekat dan menyambut kedatangan putrinya setelah berbulan-bulan tak kunjung pulang.


“Assalamu’alaikum Bu," ucap Fauzia memberi salam, lalu menyalami sang ibu dan memeluknya sekilas.


“Wa’alaikumsalam, Zi. Akhirnya sampai juga." 


Fauzia tersenyum, lalu menoleh ke arah Raka sekilas, “Ini Raka, yang aku ceritain tempo hari, Bu." 


Ibu pun segera mendekat ke arah Raka, dan Raka menyalami ibu Fauzia dengan berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.


"Saya Raka, Bu,” ucapnya.


"Kalau begitu, ayo masuk. Ibu belum nyiapin apa-apa, sih," ucap ibu Fauzia lalu tertawa pelan.


Raka balas tersenyum canggung, “N-nggak apa-apa kok, Bu. Nggak usah repot-repot, saya kemari cuma mau nganter Fauzia aja, sekalian silaturahmi." 


“Nggak kok, nggak repot," balas ibu, "Udah cepet masuk, sapa Bapak dan Fajar juga.” ibu melanjutkan.


Fauzia dan Raka saling memadang sekilas. Lalu Raka teringat sesuatu yang dibawanya, ia pun langsung membawa kue yang digantung di motor tadi.


“Ah, iya, Bu. Ini, aku bawa sedikit … em, lumayan buat ngemil," ucap Raka, sambil menyodorkan kue yang dibawanya pada ibu.


"Eh, kenapa repot-repot bawa sesuatu segala. Takut nggak disuguhi, ya?” tanya ibu lalu tertawa, lagi-lagi Raka hanya tersenyum canggung.


"N-nggak gitu, kok …,” ucapan Raka terpotong, karena ibu segera mengatakan, “Maaf, Ibu bercanda. Ibu terima ya," ucap ibu sambil membawa kue yang diberikan Raka.


Raka pun dengan senang hati memberikannya.


Lalu ibu kembali masuk, diekori Fauzia dan Raka yang kini keduanya bersalaman pada bapak, lalu pada Fajar, adik Fauzia.


Setelah itu, dengan membiarkan Raka bersama bapak dan adiknya. Fauzia masuk hendak membantu ibu di dapur.


“Mau masak apa, Bu?" tanya Fauzia.


“Mau bikin liwet, Zi. Tapi udah, kok. Paling tinggal goreng tahu sama tempenya aja yang belum," jawab ibu.


Fauzia pun segera membantu memotong tempe menjadi beberapa bagian. Sambil menggoreng tahu, ibu yang melihat ada kesempatan untuk bertanya-tanya segera melayangkan pertanyaan.


“Jadi dia yang kamu bilang duda anak satu itu?” tanya ibu, Fauzia menganggukkan kepalanya tanpa menoleh, "Iya, Bu.”


"Nggak kelihatan udah punya anak, ya.” tiba-tiba ibu tertawa pelan.


“Ya, begitulah.”


"Pantas kamu tertarik sama dia, soalnya dia mirip …," ucap ibu, tapi Fauzia langsung memberi isyarat untuk diam.

Lihat selengkapnya