Home Eventually

Jiw April
Chapter #10

Giliranku

Senja mulai menghiasi langit sore yang nampak cerah. Setelah berpamitan pada kedua orang tua Fauzia dan Fajar. Raka dan Fauzia kembali menuju kontrakan.


Di perjalanan, sesekali Raka bercerita mengenai percakapannya bersama Fajar saat di rumah tadi. Namun ia tidak mengatakan apa yang bapak katakan saat mengambil daun pisang di kebun, pada Fauzia.


Fauzia sesekali hanya menanggapinya dengan kata, “Benarkah?" lalu sedikit tawa. Karena dalam hatinya, ia sungguh merasa sangat bahagia. Bukan hanya karena Raka yang mulai disukai orang tuanya, bahkan adiknya. Tapi juga sebaliknya.


“Boleh mampir dulu nggak?" tanya Raka tiba-tiba, Fauzia pun mengiyakan walau sedikit keheranan.


Setelah mendapat persetujuan Fauzia, Raka langsung meminggirkan motornya dan parkir tepat di sebuah kedai martabak.


“Mau beli martabak?" tanya Fauzia.


Raka mengangguk, “Iya, tunggu di sini, ya." Raka pun berlalu. Fauzia hanya tersenyum sekilas, lalu berdiri dekat motor Raka.


Sambil menunggu dia mengeluarkan ponselnya, menyalakan data seluler, lalu mengecek aplikasi WhatsApp, yang ternyata ada sebuah pesan untuknya.


Rosita


Aku ke kontrakan, ya.


Fauzia hanya membacanya, tanpa membalas. Lagi pula ia sangat yakin, bahwa Rosita sekarang pasti sudah berada di kontrakannya tanpa harus menunggu persetujuannya terlebih dulu.


Cukup lama, sampai akhirnya Raka kembali dengan menenteng kresek berisi martabak yang baru saja dibelinya.


Walau sedikit heran, tapi Fauzia menahan diri untuk bertanya. Dan lebih memilih untuk diam saja.


"Yuk!” ajak Raka. Fauzia mengangguk dan segera menaiki kembali motor Raka. Keduanya pun melanjutkan perjalanan lagi.


***


Sesampainya di kontrakan, ternyata bukan hanya Rosita. Tapi Guniar dan Deris yang kali ini membawa pacarnya sudah berada di sana. Duduk berempat di kursi panjang depan kontrakan, sambil bercanda ria.


"Nih, aku bawain martabak pesenan kalian,” ucap Raka, sambil memberikan kresek yang ditentengnya.


“Eh, tunggu. Kembaliin satu buat Zia," ucapnya lagi. Membuat Guniar segera mengeluarkan sekotak martabak yang paling atas dan memberikannya pada Raka.


Namun Raka tak langsung menerimanya, "Buka dulu! Itu rasa apa?" pinta sekaligus tanyanya.


“Pisang coklat," jawab Guniar.


“Oh, oke. Nih, Zi." Raka pun mengambilnya dan memberikannya pada Fauzia, yang begitu tersentuh. Pasalnya ia sangat menyukai pisang, dan Raka begitu tahu kesukaannya, meski ia hanya sekali diberitahu.


“M-makasih ya," ucap Fauzia dan menerimanya.


“Udah sana amanin," ucap Rosita, membuat Fauzia tersipu dan langsung berlalu.


Setelah itu, Fauzia kembali keluar dengan membawa dua gelas kosong. Karena tekonya sudah berada di luar, tentu dibawa Rosita untuk menyuguhi Guniar, Deris dan pacarnya.


“Delia, namanya," ucap Deris memperkenalkan pacarnya.


“Jadi kapan?" tanya Rosita tiba-tiba. Membuat Deris dan Delia saling pandang, lalu tersipu.


“Doain aja,” jawab Deris, yang langsung mendapat anggukkan dari Guniar, Rosita, Raka dan Fauzia.


Lihat selengkapnya