Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Meski terkesan berjalan lambat, tapi hubungan Raka dan Fauzia semakin mengarah pada tujuan yang pasti.
Raka yang masih belum mendapat pekerjaan yang mengharuskannya pergi ke luar kota, menggunakan kesempatan ini untuk semakin dekat dengan Fauzia.
Hampir setiap hari ia berkunjung, atau sengaja menunggu Fauzia di depan gang untuk sekadar makan bersama setelah bekerja.
Dan hari Minggunya, Raka gunakan untuk bermain bersama Sherly, dengan mengajak Fauzia juga tentunya. Dan berkat itu, hubungan Fauzia dan Sherly juga semakin dekat.
Hingga hari di mana Raka merasa bahwa sekarang adalah gilirannya akhirnya tiba. Tepatnya tiga hari lagi, keponakan Raka akan melangsungkan pernikahan.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memberanikan diri untuk mengatakannya pada Fauzia, yang kebetulan keduanya kini tengah makan bersama di sebuah rumah makan sederhana yang tak jauh dari kontrakan.
“Ada yang mau aku omongin, sambil kamu makan nggak apa-apa, kan?” tanya Raka, Fauzia hanya mengangguk sebagai jawaban, karena mulutnya tengah penuh dengan makanan.
Raka menarik napas terlebih dulu untuk mengusir rasa gugupnya, lalu menyampaikan maksudnya, “Jadi tiga harian lagi ponakan aku mau nikah, kalau kamu senggang mau datang nggak? Ya … sekalian ketemu orang tua aku juga.”
Fauzia terdiam sejenak, menelan habis makanan di mulutnya sambil memikirkan jawaban yang akan ia katakan, "Boleh, tapi kalau aku datang pas hajatan. Apa nggak bakal ganggu?” tanya balik Fauzia.
Atau jangan-jangan dia mau aku ikut bantu-bantu? Pikir Fauzia. Namun ia segera menepis jauh-jauh isi pikirannya itu.
"Nggak lah, kok ganggu sih. Justru aku mikirnya, mungkin ini kesempatan bagus. Soalnya kan, kalau lagi ada acara hajatan gini, keluargaku pada kumpul,” jelas Raka, membuat Fauzia menganggukkan kepalanya.
"Benar juga,” ucapnya.
"Jadi gimana?” tanya Raka, belum sempat Fauzia menjawab ia buru-buru menimpali, "Eh, tapi kalau semisal kamu nggak senggang, atau masih belum siap ketemu keluarga aku, nggak apa-apa, tolak aja. Kamu nggak perlu maksain diri, kalau emang nggak mau.”
Fauzia tersenyum mendengarnya, "Nggak kok, bukan nggak siap. Cuma … em, nggak deh. Nggak apa-apa, ayo aja. Asal jemput ya," ucap Fauzia kemudian membuat Raka merasa lega dan dengan segera ia menganggukkan kepalanya.
"Iya, pasti aku jemput.”
***
Tak terasa, hari itu pun tiba.
Fauzia sudah rapi dan terlihat sangat cantik dengan setelan kondangannya yang terkesan elegan, namun tak berlebihan. Tentu itu membuat Raka mematung sejenak saking terpesonanya.
"Udah siap nih,” ucap Fauzia, sambil sesekali merapikan rambut bagian depannya dengan menjadikan kamera depan di ponselnya sebagai cermin.
“A-a … iya, Zia. Ayo!”
Raka pun segera menaiki motornya, diikuti Fauzia setelahnya dan keduanya pun berlalu.
Di perjalanan, Raka sesekali mencuri-curi pandang pada Fauzia lewat kaca spion. Sampai akhirnya mata mereka saling bertemu, lalu sama-sama tersipu.
Bahkan wajah Fauzia seketika berubah menjadi merah, saat Raka tiba-tiba mengatakan, "Kamu cantik banget.”
Fauzia langsung memalingkan wajahnya, tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Raka, tak ingin keduanya menjadi canggung nantinya, ia segera mencari topik pembicaraan.
“Nanti mungkin kamu bakal ditanya ini-itu, atau bahkan bakal ada yang ngomong hal yang nggak perlu. Tolong jangan terlalu didenger dan dimasukin hati, ya. Kalau bisa menghindar, mending menghindar aja."
Perkataan Raka, membuat Fauzia sangat tersentuh. Rasanya baru kali ini, ia menemukan sosok lelaki yang benar-benar memikirkannya sampai hal-hal sekecil itu.
Fauzia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar, “Iya, makasih ya."
***
Sesampainya di tempat yang keduanya tuju, yaitu di kediaman keponakan Raka yang di mana rumahnya memang bersebelahan dengan rumah orang tua Raka.
Raka langsung mengajaknya untuk menikmati hidangan prasmanan terlebih dulu.
“Makan dulu, yuk! Ketemu orang banyak butuh asupan energi banyak juga," ajaknya. Fauzia terkekeh pelan lalu mengiyakannya.
Tak banyak yang Fauzia ambil, hanya nasi, dua tusuk sate, satu sendok kentang mustofa, air minum dan pisang.
Melihat itu, Raka sedikit memprotes, “Kamu serius cuma ngambil segitu? Mau aku ambilin lagi?" tanyanya, lantas Fauzia menggelengkan kepalanya.
“Nggak usah, udah cukup. Lagian aku udah sarapan dulu tadi," ucapnya.
Raka pun mengangguk pelan, lalu pandangannya mengedar, mencari tempat duduk yang masih kosong, “Ya udah, kita duduk di sana aja, ya." Raka menunjuk ke sebuah kursi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Fauzia mengangguk, lalu mengekori Raka menuju kursi tersebut, duduk dan makan bersama.
“Kamu nggak suka sayur?" tanya Raka, Fauzia menggeleng, “Bukan nggak suka, lagi nggak mau aja."