“Boleh nggak kalau dalam waktu dekat ini, aku ngelamar kamu secara resmi ke orang tua kamu?” tanya Raka tiba-tiba, membuat Fauzia terkejut dan menghentikan langkahnya sesaat.
Namun ia buru-buru menetralkan kembali raut wajahnya. Bagaimanapun, sangat masuk akal jika Raka langsung berniat untuk melamarnya secara resmi setelah melamarnya secara pribadi di tempat wisata tiga hari yang lalu.
Setelah berpikir cukup lama, Fauzia pun akhirnya menganggukkan kepalanya, lalu berkata, “Boleh. Lagian aku juga emang udah ada rencana buat pulang, soalnya besok udah mulai diliburin lagi karena nggak ada barang.”
Raka pun menoleh dan kembali bertanya, “Jadi kapan kamu mau pulang? Biar aku anter."
"Kayaknya lusa deh,” jawab Fauzia, namun sepertinya Raka sedikit sedih mendengarnya, "Ya, sayang banget. Lusa aku ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal. Mana motor aku masih di bengkel lagi.”
"Nggak apa-apa, kamu kerja aja. Aku tinggal nyuruh adikku buat jemput,” ujarnya. Membuat Raka sedikit lega, setidaknya Fauzia bisa pulang dengan lebih aman karena dibersamai adiknya.
“Berarti besok kamu senggang?” tanya Raka, Fauzia menganggukkan kepalanya, “Iya, paling mau beres-beres aja dulu di kontrakan. Sebelum ditinggal agak lama.”
Raka tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Fauzia melakukan hal yang sama. Dengan tatapan penasaran, ia menatap dan menunggu apa yang akan dikatakan Raka.
“Besok kalau udah selesai beres-beres, kamu chat aku ya. Nanti aku jemput," ucap Raka, membuat Fauzia bertanya, “Emang mau ke mana?"
“Beli cincin.”
Fauzia terdiam beberapa detik, berusaha mencerna perkataan Raka. Cincin? Ah, iya, kan lagi bahas lamaran. Batinnya.
"Terus kerjaan kamu gimana?” tanya Fauzia.
"Aman, besok aku bisa izin dulu. Lagian masih senggang kalau besok.” jawaban Raka membuat Fauzia menganggukkan kepalanya pelan, sebelum akhirnya ia kembali berkata.
"Katanya, lamaran itu nggak harus pake cincin, kok. Jadi kamu nggak perlu maksain diri buat beli. Mending cincinnya buat mas kawin nanti aja,” ucap Fauzia.
Raka kembali melangkahkan kakinya, diikuti Fauzia yang sedari tadi berada di sampingnya.
Tanpa menoleh, Raka tersenyum lalu berkata, "Nggak apa-apa, anggap aja itu sebagai pengikat sekaligus bukti keseriusan aku. Jadi tolong jangan nolak, ya!"
Fauzia pun kembali mengangguk dan tersenyum, "Ya udah, besok aku chat kamu siangan ya,” ucapnya.
"Iya.”
Keduanya pun berjalan sampai akhirnya berpisah di pertigaan dan kembali melanjutkan langkah mereka menuju kontrakan masing-masing.
***
Besoknya, setelah beres-beres di kontrakan, mandi dan bersiap. Fauzia segera menghubungi Raka seperti yang dipintanya kemarin.
Dan tanpa harus menunggu lama, Raka datang menjemput dan keduanya langsung berangkat menuju toko perhiasan terdekat.
"Maaf ya, motorku masih di bengkel. Jadi harus jalan kaki,” ucap Raka, membuat Fauzia segera menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa, kok. Lagian tokonya juga deket sini, kan?" mendengar itu, Raka langsung mengangguk sambil tersenyum.
Namun hatinya berbisik, aduh aku lupa nggak tanya-tanya dulu, soal harga emas sekarang. Batin Raka.
Tak ada lagi percakapan di antara keduanya, yang kini sama-sama tenggelam dalam isi pikiran masing-masing.
Sampai langkah keduanya terhenti tepat di hadapan toko yang di dalamnya terdapat beberapa etalase berisi berbagai perhiasan. Berjejer dengan begitu rapi dan terlihat gemerlap.
Raka segera mendekat setelah mendapat pertanyaan dari seorang pegawainya di sana, “Silakan, Pak, Bu! Ada yang bisa saya bantu?"
Raka menoleh sekilas ke arah Fauzia, lalu menjawab, "S-saya lagi cari cincin, Bu.”
Pegawai itu tersenyum sambil mengarahkan keduanya pada etalase berisi cincin, lalu menjelaskan mengenai kadar berikut harganya.
Tentu, Fauzia memilih cincin yang harganya terjangkau, dengan mengesampingkan kadar apalagi model dari cincin tersebut.
Meski Raka sudah berbisik, “Pilih aja sesukamu, jangan pedulikan harganya." Fauzia hanya mengangguk, namun tetap saja, ia tidak bisa untuk tidak peduli.
Sampai akhirnya, ia lebih memilih untuk cincin yang sederhana namun tetap elegan. Karena kadarnya yang cukup rendah berikut harganya yang menurutnya terjangkau.