Beberapa hari setelah acara lamaran Fauzia dan Raka hari itu, Raka kembali pergi bekerja ke luar kota.
Meski cukup berat, karena rindu. Tapi jarak ini juga menjadi jeda untuk keduanya, agar bisa kembali berpikir dan mempersiapkan diri dengan lebih matang, sebelum kembali melangkah ke pelaminan.
Namun siapa sangka, Raka pulang lebih awal dari waktu yang seharusnya.
“Apa ada kendala?" tanya Fauzia. Raka mengangguk, "Begitulah, surat perizinannya belum lengkap. Jadi harus ditunda dulu dan nggak pasti bakal sampe kapan, jadi ya … pulang deh.”
Fauzia hanya mengangguk dan kembali melahap makanannya. Membuat suasana di antara keduanya hening seketika, sampai Raka kembali berkata.
“Sebenarnya, aku mau tanya sesuatu. Tapi takut kesannya nggak sopan,” ucap Raka, membuat Fauzia yang baru saja menyendok makanannya, tak jadi melahapnya.
"Emang mau tanya soal apa?”
Raka terdiam, berpikir sejenak, "A-aku mau tanya soal mahar yang mantan kamu kasih dulu,” ucapnya tiba-tiba. Membuat Fauzia berhenti mengunyah beberapa detik, lalu kembali melanjutkan.
"Maaf ya, aku nggak ada maksud apa-apa, kok. Aku cuma mau tahu aja, buat patokan. Biar nanti mahar dari aku kesannya nggak merendahkan kalau ternyata di bawah mahar mantanmu," jelas Raka.
Fauzia belum memberikan jawaban, karena masih berusaha menelan makanannya.
“Itu pun kalau kamu nggak keberatan buat ngasih tahu aku,” lanjut Raka.
Akhirnya mulut Fauzia kosong, dan ia pun mulai menjawab, "Nggak apa-apa. Masalah mahar, berapapun bakal aku terima, kok. Nggak perlu ada patokan, kamu cukup ngasih semampu kamu, yang menurut kamu dengan jumlah itu kamu nggak ngerasa ngerendahin aku."
Mendengar jawaban Fauzia, Raka yang sempat ragu untuk bertanya, akhirnya melebarkan senyumnya dan mengangguk mantap, "Ya udah, makasih ya. Maaf kalau aku malah nanya hal yang nggak perlu.”
Fauzia segera menggeleng, "Nggak kok. Justru aku harusnya bilang makasih, karena kamu bahkan nanya dulu yang artinya kamu mikirin perasaan aku banget,” ucap Fauzia.
"Ya udah, ayo lanjut makan!” seru Raka, Fauzia pun mengangguk.
***
Beberapa hari ini, dikarenakan kantor tempat Raka bekerja sedang tidak banyak kerjaan. Ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Bukan hanya untuk bertemu Sherly, tapi ia juga ingin membicarakan dengan keluarganya mengenai niatnya.
“Aku baru pegang uang sekian, Ma. Cukup nggak ya?" tanya Raka.
Mamanya menoleh dan balik bertanya, “Kamu mau beli apa aja emangnya?"
Raka terdiam sejenak, “Mahar, seperangkat alat shalat, sama baju aja palingan. Tapi full luar dalam, kerudung sama sandal juga kalau cukup. Sisanya buat bantu nambahin uang dapur ke orang tuanya Zia."
“Nikahnya mau di KUA aja?" tanya mama lagi, Raka mengangguk, “Iya, lagian kita udah sama-sama pernah nikah. Jadi ya, Zia juga nggak keberatan kalau nikahannya sederhana dan cuma di KUA aja.”
"Kalau segitu, uangnya cukup. Malahan lebih,” ucap mama.
"Nah, kalau lebih. Berarti uang sisanya buat bikin tumpeng aja, sebagai syukuran buat dibagi ke tetangga deket,” ucap Raka. Mama pun mengangguk setuju.
"Mama, nggak keberatan kan buat bikinin tumpengnya?” pertanyaan Raka membuat mama melayangkan pukulan sayangnya pada bahu Raka.
"Ngomong apa sih kamu. Denger kamu nikah lagi aja, Mama udah seneng banget.”
Raka hanya tertawa. Meski hatinya berteriak bahagia, dan tak sabar juga akan hal yang telah menantinya di depan sana.
***
“Oh iya, soal belanja mahar, alat shalat sama baju, kamu mau belanja sama siapa? Mau sama Zia langsung?” tanya mama. Membuat Raka berpikir sejenak.
"Hm … bentar deh, aku tanya Zia dulu."
Raka pun mulai menghubungi Fauzia, namun entah mengapa pesan yang ia kirim dari kemarin tak kunjung juga ceklis dua.
Apa dia kerja lembur lagi, ya. Pikir Raka.
Tak mau ambil pusing, Raka memilih untuk menemui Tifa yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah orang tuanya.
"Temenin aku belanja, yuk!” ajaknya tiba-tiba, Tifa yang memang sudah bisa menebak Raka akan belanja untuk apa, segera mengiyakan ajakannya.
Lagian tinggi badan Fauzia dan Tifa nggak jauh beda, jadi mungkin aja kalau ngikutin ukuran pakaian yang dipake Tifa, bakal muat juga di Fauzia. Pikir Raka.
Setelah mendapat izin dari Arsya, suaminya Tifa. Keduanya berangkat menuju pasar terdekat. Mampir di toko perhiasan, lalu mengunjungi beberapa toko pakaian.
"Zia sering pake baju yang kayak gini, jadi mungkin dia suka baju yang model begini, celana begini dan sandal yang begini," ucap Raka, menjelaskan pada Tifa mengenai apa yang sering dikenakan Fauzia.