Malam yang terasa sunyi seperti biasanya, udara dingin memenuhi seluruh ruangan, namun ada rasa hangat yang berbeda yang tengah dirasakan Fauzia saat ini.
Setelah kepergian Raka tadi, ia langsung merebahkan dirinya di ranjang. Terus menatap ponsel di tangannya tanpa henti, perlahan rasa sedih yang menimpanya menghilang berganti rasa lega.
Siapa sangka kepanikannya saat kehilangan ponsel kemarin, akan dihadiahi rasa lega hari ini.
Pasalnya, Fauzia sampai menangis di konveksi. Bukan hanya karena kehilangan ponselnya, melainkan karena rasa takut yang tiba-tiba menguasai dirinya.
Takut jika Raka berpikir yang tidak-tidak, karena ia tak bisa menghubunginya.
Tiba-tiba ponsel di tangannya berdering, menandakan sebuah pesan masuk. Fauzia terlonjak beberapa detik, lalu segera membuka pesan tersebut.
Aku udah sampe rumah, Zia.
Fauzia tersenyum saat membacanya, lalu dengan segera jarinya mengetik sebuah pesan balasan.
Syukur deh.
Makasih ya udah ngabarin,
Dan makasih juga hpnya.
Sama-sama.
Nggak perlu sungkan lagi, ya.
Nggak perlu ada niatan buat ganti segala.
Gimanapun sekarang aku ini kan calon suamimu.
Selalu saja, perkataan Raka membuat Fauzia tak bisa berkutik untuk beberapa saat. Ia sampai senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya, sambil membaca berulang kali kata demi kata yang Raka kirim untuknya.
***
Beberapa hari kemudian, pencarian di konveksi atas hilangnya ponsel Fauzia sudah benar-benar dihentikan. Tidak ada petunjuk, pelaku juga tidak dikenali dan bukan merupakan salah satu pegawai.
Fauzia hanya diminta untuk mengikhlaskan, padahal ia sudah tak lagi mempedulikan ponselnya sejak Raka memberinya ganti yang baginya sangat tak ternilai.
Dia selalu ngebuktiin dengan tindakan, dan itu udah lebih dari cukup buat aku makin yakin, kalau dia bakal jadi suami dan imam yang baik. Pikirnya.
Akhir pekan pun tiba, hari di mana Fauzia sudah berencana untuk pulang ke rumah orang tuanya. Dan kali ini ia pulang diantar Raka, dengan maksud menyampaikan niatnya dalam rencana melangsungkan pernikahan.
“Lebih cepat lebih baik, sih. Lagian kalian udah sama-sama saling kenal, udah deket, udah cukup berpengalaman juga kalau masalah ngebangun rumah tangga, terus udah lamaran juga. Jadi ya, mau nunggu apa lagi?”
Pernyataan sekaligus pertanyaan ibu Fauzia, membuat Raka dan Fauzia menganggukkan kepalanya, tanda setuju, sepakat dan sependapat.