Home Eventually

Jiw April
Chapter #16

Sah

Hari pernikahan Fauzia dan Raka hanya tinggal hitungan jari, membuat keduanya sama-sama sibuk akhir-akhir ini. Ke sana-kemari mempersiapkan berkas demi berkas, untuk memenuhi persyaratan daftar ke KUA.


Tak mau hanya diam, Fauzia berinisiatif menawarkan diri untuk ikut menemani Raka daftar ke KUA. Yang ternyata, bukan hanya diharuskan daftar langsung, melainkan harus daftar secara online juga.


“Untung deh, kamu ikut. Kalau nggak aku bakal kebingungan sendiri, dan nggak tahu harus minta bantuan siapa," ucap Raka.


Fauzia tersenyum sekilas lalu berkata, “Nggak perlu ngomong gitu, lagian wajar aja kan aku ikut daftar. Kan yang nikahnya juga bukan cuma kamu aja, tapi aku juga." 


Raka pun melebarkan senyumnya, lalu kembali memperhatikan Fauzia yang tengah fokus mengisi tiap-tiap kolom dengan data yang diminta di layar ponselnya.


“Alhamdulillah, udah nih."


Fauzia memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan bahwa pendaftaran nikah secara online nya sudah berhasil.


“Syukur deh, terus sekarang apa?" tanya Raka. Fauzia menarik kembali ponselnya dan menjawab, “Tinggal ke KUA-nya lagi, buat laporan kalau daftar online nya udah selesai." 


Raka pun mengangguk, lalu keduanya pun kembali mendatangi KUA.


***


Dengan setia Raka mendampingi tiap langkah kaki Fauzia, menelusuri tiap-tiap bangunan menuju KUA yang letaknya cukup jauh dari parkiran.


Sesekali ia tersenyum ke arah Fauzia, sampai akhirnya Fauzia bertanya, “Kamu kenapa?" 


Raka menggeleng, “Nggak, cuma … dulu ya, aku semuanya sendiri, nyiapin ini-itu. Tapi sekarang ada kamu yang mau berjalan di samping aku, dan aku bersyukur karena itu."


"Jadi makanya kamu senyum-senyum terus,” ucap Fauzia, lalu tertawa pelan.


“Iya, karena aku bahagia banget. Akhirnya kamu mau nikah sama aku.”


Mendengar itu Fauzia segera menoleh, namun belum sempat ia berkata, Raka kembali buka suara, "Padahal sebelumnya, aku nggak kepikiran buat nikah lagi. Sampai aku ketemu kamu malam itu, dan berpikir, nggak mungkin lah, wanita kayak kamu mau sama lelaki modelan aku.”


Perkataan Fauzia seketika tertahan di tenggorokannya, bahkan langkahnya hampir saja terhenti. Namun ia tetap berjalan, sampai keduanya tiba di depan KUA, dan percakapan pun terhenti.


***


Setelah berbincang menyampaikan maksudnya pada sang petugas, Fauzia menyodorkan berkas yang ia bawa. Lalu Fauzia diminta untuk menunggu.


"Apa katanya?” tanya Raka sedikit berbisik, “Kita disuruh nunggu, petugasnya mau konfirmasi dulu soal daftar online-nya," jawab Fauzia yang ikut memelankan suaranya pula.


Raka mengangguk, dan keduanya mendudukkan diri di kursi tunggu. Sampai tak lama kemudian, Fauzia dipanggil, Raka pun mengekorinya.


Sang petugas menyodorkan selembar kertas berisi bukti bahwa pendaftaran keduanya telah dikonfirmasi.


“Nanti dibawa lagi, pas mau akad, ya," ucap petugas itu. Fauzia pun menerimanya, "Baik, terima kasih banyak, Pak.”


"Sama-sama.”


Keduanya pun keluar meninggalkan KUA.


"Beli makanan dulu, yuk! Sekalian nih, tadi Sherly titip sesuatu,” ajak Raka, Fauzia pun mengangguk mengiyakan.


Lalu keduanya mampir ke sebuah kedai yang menjual bakso.


“Sherly lagi mau bakso, ya?” tanya Fauzia, namun Raka menggeleng, “Nggak kok, dia titip kebab tadi. Tapi aku lagi mau bakso, jadi nggak apa-apa ya, kita makan bakso dulu?"


Fauzia mengangguk, “Nggak apa-apa, kok." 


“Tapi kamu kalau lagi mau sesuatu, bilang aja, ya," ucap Raka kemudian, membuat Fauzia kembali mengangguk.


“Iya, kebetulan aku juga udah lama nggak makan bakso." 


Tak lama kemudian bakso pesanan mereka datang, keduanya pun langsung menyantap bakso tersebut.


Di sela makannya, tiba-tiba Fauzia teringat sesuatu, ia pun bertanya, “Aku boleh tanya nggak?" 


“Boleh dong, tanyain aja." 


Fauzia menelan ludahnya, sebelum kembali bertanya, “Jadi gini, em … kok kamu nikahnya mau hari Kamis? Apa ada alasan khusus?”


Raka kembali menyimpan sendoknya, menoleh ke arah Fauzia dan menjawab, "Nggak ada, sih. Cuma mau aja gitu, nikah hari Kamis. Dulu nggak kesampean, malah sekarang terlaksana." 


Lalu Raka terkekeh pelan, membuat Fauzia tersenyum sekilas, tanpa mempertanyakan apapun lagi.


Raka pun berkata, “Mungkin buat beberapa hari ke depan, kita nggak bisa ketemu kayak gini lagi, ya. Terus abis ini juga, mungkin aku bakal langsung pulang. Nggak apa-apa, kan?”


Fauzia mengangguk pelan, "Iya, nggak apa-apa. Kita kan bisa chatan atau video call. Lagian beberapa hari ini, kamu juga udah sibuk nyiapin ini itu. Jadi mending mumpung ada waktu buat istirahat, kamu pake buat istirahat, ya." 

Lihat selengkapnya