Home Eventually

Jiw April
Chapter #17

Kontrakan Baru

Sehari setelah resmi menjadi pasangan suami istri, Fauzia dan Raka memutuskan untuk kembali mengontrak seperti pada kesepakatan awal sebelum mereka menikah. Bedanya, kini mereka berada di satu kontrakan yang sama. 


Dengan dibantu Fajar, Guniar dan Deris, Fauzia dan Raka memindahkan barang-barang di kontrakan Fauzia dan Raka menuju kontrakan baru yang akan ditempati keduanya.


Kontrakannya lebih luas, dan lebih dekat ke tempat kerja Raka maupun Fauzia. Namun harga sewa perbulannya lumayan lebih tinggi dibanding harga sewa dari kontrakan sebelumnya.


“Nggak apa-apa, yang penting kamu nyaman. Di sini kamarnya ada pintunya, terus ada wastafelnya, dan lagi kamar mandinya lebih luas," kata Raka, saat Fauzia hendak memintanya untuk mempertimbangkan kembali untuk pindah hanya karena harga sewanya yang terasa mahal baginya.


"Tapi tetep sayang uangnya. Lagian kalau kamu nggak ada, aku bakal sendirian di kontrakan seluas ini,” ucap Fauzia yang masih bersikukuh, walau rasanya percuma saja, karena barang-barang keduanya sudah dipindahkan ke kontrakan tersebut.


"Udah jangan ikut musingin biaya kontrakan, ya. Mending beli minum gih, kasian mereka udah angkat barang-barang berat, pasti kehausan,” pinta Raka.


Fauzia pun segera bergegas menuju warung yang tak jauh dari kontrakan barunya.


"Tunggu,” ucap Raka, sontak Fauzia menoleh dan menghentikan langkahnya, “Uangnya ada?" tanya Raka. Fauzia segera mengangguk, “Ada kok." ia pun berlalu.


***


Setelah semuanya beres dan ditata serapi mungkin, Fajar, Guniar dan Deris pun berpamitan. Menyisakan Raka dan Fauzia yang sedang bergantian mandi.


Lalu karena hari juga sudah mulai terik, dan keduanya belum makan siang. Awalnya Raka menyarankan untuk makan di rumah makan saja, namun Fauzia menolak dengan alasan, "Mending masak aja, walau aku nggak terlalu pinter masak sih. Tapi bakal lebih hemat dibanding beli yang matang.”


Raka pun menyetujuinya, lagi pula sebagai suami ia ingin mencicipi masakan istrinya.


Selagi Raka mandi, Fauzia bergegas menuju warung yang menjual sayur-mayur. Mungkin karena sudah terlalu siang, jadi bahan masakan yang dijual juga hanya sisa sedikit.


Mau tidak mau, Fauzia pun memilih bahan masakan seadanya. Ia mengambil satu papan tempe, seikat kangkung dan ikan asin. Tak lupa ia juga mengambil minyak untuk menggoreng, perbawangan untuk bumbu, cabai untuk membuat sambal, penyedap rasa dan kerupuk.


Saat ia pulang, ternyata Raka sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Lelaki yang telah resmi menyandang status sebagai suaminya itu, terlihat tengah mencuci beras hendak menanak nasi.


Tanpa sadar, senyum Fauzia kian melebar melihat itu. Sederhana, namun baginya ini adalah hal langka yang luar biasa.


Fauzia perlahan mendekat, tepat setelah Raka menutup rice cooker dan menyolokkan kabelnya ke dalam sebuah colokan.


“Eh, udah pulang. Belanja apa aja?” tanya Raka, Fauzia pun mulai mengeluarkan bahan makanan yang dibelinya. Raka memperhatikan dengan seksama.


“Jadi mau masak tempe dan tumis kangkung?" tanyanya lagi.


Fauzia mengangguk, “Iya, tadinya mau beliin daging, tapi yang sisa cuma itu." Raka tersenyum, lalu berkata, “Nggak apa-apa, apapun yang bakal kamu masak, pasti aku makan kok.”


Fauzia hanya tersenyum, tangannya mulai membuka bungkus tempe dan memotongnya.


"Aku bantu ya!” ujar Raka, Fauzia hendak melarangnya, karena tadi Raka sudah berinisiatif menanak nasi tanpa perintahnya, jadi rasanya tidak enak jika ia membantu memasak juga.


"Nggak ….” namun belum sempat Fauzia menolak bantuannya, Raka sudah keburu mengambil kangkung dan mulai memotong.


"Makasih ya,” ucap Fauzia, membuat Raka menoleh sekilas dan bertanya, “Makasih buat apa?”


"Karena udah bantu," jelas Fauzia, seketika Raka tertawa dengan begitu nyaring. Sampai akhirnya raut wajahnya berubah, saat mengatakan.


"Kalau aku yang dulu, mungkin nggak akan ngelakuin hal kayak gini. Tapi sekarang, aku pikir nikah itu nggak sendiri, ngebangun rumah tangga juga nggak bisa sendiri. Ada dua orang yang terlibat, dua orang yang sebelumnya asing lalu tinggal bersama.


Dan tinggal bersama, tapi kesannya ngejalin hidup masing-masing itu kayak melenceng dari tujuan pernikahan yang sebenarnya, kan?


Dan tentu, aku nggak mau kayak gitu. Aku nggak mau, kesalahanku dulu ke ulang. Jadi mumpung Tuhan ngasih aku kesempatan buat ngebangun rumah tangga lagi, aku mau jadi suami yang bukan cuma bisa nafkahin lahir batin aja. Tapi jadi teman hidup juga, yang membuat pernikahan itu isinya beneran dua orang.”


Mendengar itu, tak terasa air mata Fauzia jatuh tanpa diminta. Raka yang melihat hal itu, sontak panik dan bertanya, “Eh, k-kamu kenapa? Apa ada perkataan aku yang nggak sengaja buat kamu sakit dengarnya? Maaf ya, aku malah ngomong panjang lebar dan seenaknya." 


Fauzia tiba-tiba tak bisa menahan tawanya, membuat Raka yang panik kini berubah menjadi heran. Sebelum ia kembali bertanya, Fauzia keburu menjawab.


“Nggak kok. Nggak ada yang salah dalam ucapanmu. Ini aku nangis karena lagi ngiris bawang," ucap Fauzia. Terdengar Raka mendengus pelan karena mendengarnya. Lalu keduanya tertawa bersama.


***


Malamnya, setelah seharian sibuk beres-beres pindahan. Raka dan Fauzia kini telah merebahkan tubuh lelah keduanya di atas ranjang yang sama.


Meski ini bukan malam pertama bagi keduanya tidur bersama, tapi keduanya masih merasa canggung. Tidak banyak yang dibicarakan, hanya hal-hal penting saja. Sampai akhirnya keduanya sama-sama tertidur.


Besoknya, Raka mengajak Fauzia ke pasar untuk membeli beberapa peralatan rumah tangga, yang memang belum lengkap dan peralatan yang perlu diganti karena sudah tidak layak pakai.


"Beli yang murah aja, ya," pinta Fauzia, saat Raka tengah asyik memilih-milih peralatan rumah tangga yang akan dibelinya.

Lihat selengkapnya