Hari-hari yang Fauzia lewati setelah Raka pergi, yang awalnya Fauzia pikir mungkin akan kembali seperti saat ia belum menikah dulu. Sendirian dan merasa tenang dengan suasana kontrakan yang sepi.
Namun ternyata tidak.
Harinya terasa berat, malamnya terasa panjang, dan tiap detiknya terasa sesak. Hanya karena Raka yang telah berhasil mengisi hati dan menyempurnakan harinya, tidak ada di sampingnya.
“Rasanya … lelah. Bukan karena rumah tangganya, tapi karena rasa rindunya,” keluh Fauzia, membuat Rosita yang baru saja menelan habis keripik singkong ke tenggorokannya segera menanggapinya.
“Aku nggak tahu, karena aku nggak pernah di posisi kamu. Tapi kalau masalah berat, itu artinya kamu emang udah terbiasa sama Raka, dan itu wajar karena dia sekarang suami kamu.
Mungkin, satu hal dari aku yang semoga bisa ngeringanin rasa lelah kamu yang terus menerus disiksa rindu, yaitu tekanin kalimat ini di hati kamu.
Kamu sedari awal udah tahu kan kalau Raka selalu pergi kerja jauh dan lama. Tapi kamu tetep milih dia, yang artinya kamu harus bisa nerima kenyataan di mana dia selalu pergi jauh ninggalin kamu demi kerjaannya.”
Perkataan Rosita membuat Fauzia menghela napasnya, kemudian berkata, “Ah, iya. Kamu bener, Ros. Lagian apapun pasti ada resikonya. Dan resiko terbesar memilih Raka, adalah harus siap ditinggal kerja jauh kapan aja.”
Rosita mengangguk, “Yang penting komunikasi kalian lancar, walau LDR-an,” ucapnya lalu kembali melahap keripik singkongnya.
Fauzia hanya mengangguk dan dengan sabar menunggu kalimat yang akan dilontarkan Rosita berikutnya.
“Jangan overthinking juga, kedengerannya sederhana tapi ini nih yang bikin bahaya,” lanjutnya.
Fauzia mengangguk setuju, “Iya, Ros. LDR bawaannya emang ovt mulu.” kali ini Rosita yang mengangguk.
“Oh, iya Ros. Aku mau nanya nih. Menurutmu salah nggak sih kalau aku ngecek hp Raka?” tanyanya, membuat Rosita balik bertanya, "Ngeceknya kapan? Setelah atau sebelum nikah?”
"Setelah.”
"Kalau setelah sih, kayaknya nggak masalah ya. Apalagi kalau Raka nggak keberatan buat terbuka masalah hp masing-masing.” jawaban Rosita membuat Fauzia sedikit lega.
Namun rasanya masih ada yang mengganjal di hatinya, "Kayaknya nggak ya, soalnya dia juga ngasih tahu PIN-nya,” ujarnya, "Tapi …." Fauzia menggantung kalimatnya, membuat Rosita tak jadi melahap keripik singkongnya.
“Tapi aku ngerasa, kalau aku udah lihat hal yang mungkin seharusnya nggak aku tahu."
Rosita mencerna baik-baik perkataan Fauzia, takut-takut ia salah dalam mengartikan maksudnya.
"Jadi, dua hari setelah nikah. Hari di mana kita pindahan ke sini. Aku cek hp Raka, waktu Raka udah tidur duluan. Aku buka WA nya dan nggak sengaja nemu banyak kontak," ucap Fauzia.
Rosita yang menyimak dengan begitu serius, refleks bertanya, “Cewek?" Fauzia mengangguk, lalu melanjutkan.
“Tapi aku nggak berani mikir macem-macem dulu. Ya, mungkin itu teman kantornya. Wajar kan kalau saling save kontak.” Rosita segera menganggukkan kepalanya.
Fauzia pun melanjutkan, "Tapi yang buat aku ngerasa udah lihat yang nggak seharusnya itu, bukan itu.”
Walau Fauzia kembali menjeda, kali ini Rosita tak berani memotong. Fauzia menghela napasnya berkali-kali dan berkata, "Tapi chat dia dengan mamanya Sherly.”
Rosita menelan ludahnya dengan susah payah, rasanya ini permasalahan yang cukup serius. Jadi ia tak berani memberi tanggapan, sebelum Fauzia menyelesaikan ceritanya.
“Isinya panjang, tapi aku tetep nekad baca sampai akhir karena rasa penasaranku ngalahin rasa takut aku waktu itu. Takut Raka tiba-tiba bangun, dan lihat aku buka hpnya tanpa izin.