Empat bulan sudah berlalu sejak Raka pergi. Sepulang bekerja dari konveksi, Fauzia mampir dulu ke sebuah warung untuk berbelanja bahan masakan.
Setelah itu ia pulang dan memasak berbagai menu. Ayam goreng, sayur tahu ditambah toge, sambal dan kerupuk. Semuanya adalah makanan kesukaan Raka.
Karena hari ini, Raka akan pulang.
Setelah semuanya matang, dan disajikan di atas karpet, Fauzia hendak mandi dan bersiap menyambut kepulangan sang suami yang sudah lama ia nanti.
Sudah hampir setengah jam berlalu, sampai masakan yang ia buat telah hampir dingin. Namun Raka masih belum tiba juga.
Tanpa bosan ia terus mengecek ponselnya, berharap Raka mengabarinya. Sampai akhirnya sebuah pesan masuk, Fauzia buru-buru membukanya.
Aku udah sampe kantor, Zi.
Mau dibawain apa?
Syukur deh.
Nggak usah. Lagian aku udah masak, kok.
Hm … ya udah.
Tapi, pisang bakar enak kali ya, hehe.
Ya udah, boleh deh.
Raut wajah Fauzia seketika berubah menjadi sumringah setelah mendapat pesan dari Raka. Bahkan tanpa sadar ia jadi tertawa sendiri dibuatnya.
***
Hampir satu jam berlalu, Fauzia yang sedari tadi sudah menunggu kepulangan Raka, kini berpindah duduk. Ia sengaja mendudukkan diri di depan jendela. Pandangannya terus menerus tertuju ke luar, menantikan Raka yang tak kunjung datang.
Sampai terdengar suara motor yang mengarah dan berhenti tepat di depan kontrakan, Fauzia buru-buru berdiri dan membukakan pintu.
Mendengar suara pintu dibuka, Raka langsung menoleh sambil mengangkat kantong kresek yang dibawanya dengan ekspresi wajah bahagia.
Lalu perlahan keduanya sama-sama melangkah, semakin mendekat, sampai saling berhadapan. Fauzia langsung menyalami Raka, dan mencium tangannya. Sedangkan Raka mencium keningnya, lalu berbisik, “Maaf ya lama. Tadi di tempat pisang bakarnya penuh, sih.”
Fauzia pun mengangguk pelan, “Nggak apa-apa, yang penting sekarang kamu udah nyampe dengan selamat."
Raka tersenyum, lalu berkata, “Ya udah. Yuk masuk!" ajaknya. Fauzia kembali mengangguk, dan keduanya pun berlalu.
***
Hari-hari selanjutnya berjalan dengan terasa lebih berwarna, suasana rumah juga jadi terasa lebih hangat hanya karena kedatangan satu orang.
Meski saat bersama, keduanya tidak banyak saling bicara, hanya percakapan singkat saja. Namun itu sudah cukup bagi Fauzia maupun Raka.
Sesekali Raka mengajak Fauzia keluar saat senggang, sekadar beli cemilan, mengantarnya belanja bahan masakan, dan sekadar membeli ikan untuk mengisi akuariumnya.
Dan malam ini, saat Raka sedang menunggu sang penjual martabak membuatkan pesanannya. Fauzia pamit untuk membeli sesuatu.
Raka yang penasaran karena Fauzia tidak menyebutkan apa yang hendak dibelinya, mengikutinya diam-diam. Terlihat Fauzia memasuki sebuah apotek yang tak jauh dari tempat Raka membeli martabak.
Namun tak ingin Fauzia merasa tak nyaman, ia buru-buru kembali. Dan lebih memilih untuk bertanya di rumah saja.
Setibanya di rumah, sambil melahap martabak yang telah dibelinya, Raka terus berpikir, mencari kalimat sekaligus waktu yang tepat untuk bertanya.
Sampai akhirnya, Raka yang tak pernah berhenti mengamati istrinya selama beberapa hari ini di rumah, kini kembali melihat Fauzia memakan sebuah pil di dapur.
Merasa mendapat waktu yang pas untuk bertanya, Raka pun segera mendekat, “Zi,” panggilnya. Fauzia buru-buru minum dan menjawab, "Ya.”
"Akhir-akhir ini, aku lihat kamu sering banget makan obat diam-diam. Apa kamu sakit?” tanyanya, membuat Fauzia terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya.