Home Eventually

Jiw April
Chapter #20

Welcome

Setelah mengetahui bahwa Fauzia tengah mengandung, Raka semakin ketat dalam menjaganya. Bukan hanya perihal makanan, tapi juga aktivitas Fauzia saat di rumah.


Raka semakin sering membantunya mencuci baju, mencuci piring, menyapu bahkan mengepel lantai. Dan untuk memasak, sesekali Raka membeli masakan yang sudah matang saja, dengan tetap mengutamakan banyak makan sayuran.


Tak hanya itu, Raka juga tak pernah absen dalam memantau jadwal periksa rutin kehamilan Fauzia ke bidan. Agar tidak terlambat untuk diperiksa, dan agar ia bisa izin terlebih dulu untuk meluangkan waktu mengantarnya beberapa hari sebelumnya.


Namun sayangnya, pekerjaan yang mengharuskannya untuk bekerja ke luar kota kembali memanggilnya.


“Kamu nggak apa-apa nih aku tinggal ke luar kota lagi?" tanya Raka, sungguh hatinya terasa berat harus meninggalkan Fauzia dalam kondisi berbadan dua seperti ini.


Begitupun dengan Fauzia, namun Raka juga pergi karena tuntutan pekerjaan. Rasanya ia tak boleh egois dan menahannya untuk pergi.


"Nggak apa-apa, aku bisa ngambil cuti dan pulang ke rumah orang tua aku,” jawab Fauzia, membuat Raka sedikit lega mendengarnya.


"Jadi kapan hari perkiraan lahirannya?” tanyanya lagi, membuat Fauzia berpikir sejenak sebelum menjawab.


"Kalau ikutin dari hari haid terakhir, perkiraannya tanggal 28 Juni Tapi kalau menurut USG, maju jadi tanggal 22 Juni,” jelas Fauzia.


Raka pun mengangguk dengan perasaan lega, karena sekarang masih bulan April, jadi rasanya ia masih punya waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya di luar kota dan pulang sebelum hari kelahiran calon anaknya tiba.


"Jadi mungkin sebaiknya aku pulang awal Juni aja ya,” ucap Raka, belum sempat Fauzia menjawab, ia kembali melanjutkan, "Itu pun kalau nggak ada kendala. Ya, semoga aja nggak ada." 


***


Akhirnya hari di mana Raka akan pergi ke luar kota pun tiba, sebelum ia berpamitan. Ia mengantarkan Fauzia ke rumah orang tuanya, menitipkan Fauzia sekaligus bayi yang dikandungnya kepada sang mertua.


“Jangan telat minum obat ya, jangan banyak begadang, sesekali jalan kaki biar kamunya nggak jenuh juga. Kalau udah waktunya diperiksa, minta Fajar aja buat nganter, terus kasih tahu aku hasilnya." 


Raka mewanti-wanti sebelum ia benar-benar berangkat untuk jangka waktu yang belum pasti. Fauzia tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


"Iya, kamu juga jaga diri di sana. Jangan telat makan cuma gara-gara kerjaannya pengen cepat kelar,” ucap Fauzia, membuat Raka tertawa.


Setelah cium tangan, cium kening dan saling berpelukan, dengan berat hati keduanya sama-sama melepas, dan Raka pun berlalu.


***


Hari-hari selanjutnya, Fauzia kembali menjalaninya tanpa didampingi Raka. Tapi ada ibunya yang tak membiarkan rasa sepi menguasainya, terlebih Fauzia lebih sensitif dibanding saat ia tidak sedang mengandung.


"Kita main ke rumah Wati, yuk!” ajak ibu, yang memang sesekali ibu mengajak Fauzia main keluar, sekadar singgah di rumah kerabatnya, Wati. Hanya karena tak ingin Fauzia merasa jenuh.


“Boleh, aku juga kemarin udah janjian mau jajan seblak sama Wati," ucap Fauzia, lalu ia segera bersiap, mengambil ponsel dan beberapa lembar uang, memasukkannya ke dalam saku dan berangkat.


“Kalau nanti udah ngerasa mules, kamu jangan sungkan buat bilang, ya," ucap ibu tanpa menghentikan langkahnya. Fauzia yang berjalan tepat di sampingnya hanya menganggukkan kepalanya.


“Kamu udah dikasih tahu kan sama bidan soal tanda-tanda janin siap lahir?” tanya ibu, Fauzia kembali mengangguk.


“Udah kok, Bu. Selain mules, keluar lendir atau cairan bening gitu kan?" tanya balik Fauzia, ibu pun mengangguk mengiyakan.


"Iya, syukur deh kalau kamu udah tahu.”


***


Sedangkan di tempat lain, Raka yang tengah istirahat makan siang, dihampiri Guniar dan Deris yang juga akan makan siang.


Namun melihat raut wajah Raka yang tak seperti biasanya, Guniar pun bertanya, "Kenapa Ka?”


Raka refleks menoleh, tersenyum sekilas, lalu menggelengkan kepalanya lemah.


"Mungkin lagi mikirin Zia yang lagi hamil,” tebak Deris, lagi-lagi Raka hanya menoleh tanpa memberikan jawaban.


“Lagian, gue kira lo nggak bakal pergi ke luar kota dulu selagi istri lo belum lahiran," timpal Guniar.


Terdengar Raka menghela napasnya dengan begitu panjang, sambil menyimpan kembali sendok yang digenggamnya, ia menoleh dan akhirnya bercerita.


"Awalnya juga gitu, tapi beberapa hari sebelum berangkat, mamanya Sherly spam chat. Dia minta uang, buat biaya Sherly yang mau masuk TK.


Uang daftar masuk, uang bulanan, seragam, sepatu, alat tulis, dan tas. Dia minta uangnya harus udah ada sebelum bulan Juli. Dan itu nggak sedikit.”


Penjelasan Raka membuat Deris bertanya, “Berapa?" 


“Sekian juta." jawaban Raka membuat Guniar tersedak makanannya, lantas Deris kembali bertanya, "Emang biaya TK semahal itu, ya?”


Raka menggeleng pelan, “Nggak tahu, tapi katanya mau sekalian dibantu ikut les juga. Biar pas masuk SD, Sherly udah lancar baca, tulis, bahkan ngitung." 


“Hati-hati aja, Ka. Itu cuma akal-akalan mantan lo aja, mau nguras lo. Abis gue kaget banget, masa buat TK aja minta sebanyak itu,” ucap Guniar, Raka hanya mengedikkan bahunya.


"Tapi ya udahlah, semoga aja lo ada rezeki lebih, buat biaya anak lo, buat biaya lahiran juga,” ucap Deris, membuat Raka tersenyum meski sekilas.


Ketiganya pun lanjut makan.


***


Hari berlalu, Raka bekerja sampai tak kenal waktu dan terus memaksakan diri untuk kerja lembur. Meski Guniar dan Deris sudah berusaha melarangnya.


Pasalnya bulan Juni sudah semakin dekat, hari di mana Fauzia akan melahirkan hanya tinggal hitungan jari. Namun uang untuk biaya Sherly dan biaya lahiran Fauzia, masih belum terlihat.


Mau tidak mau, ia sengaja mengambil kerja lembur, selain ia dapat uang lebih, ia juga berharap pekerjaannya menjadi lebih cepat selesai agar ia bisa pulang sebelum Fauzia lahiran.


Namun sayangnya, takdir berkata lain, Deris yang tak tega melihat Raka terus mengambil kerja lembur ikut menemaninya, kini tumbang. Dan itu membuat ia harus bekerja berdua saja bersama Guniar.


“Aduh ada-ada aja,” ucap Guniar.


"Semoga cepat sembuh ya, Ris," timpal Raka.


Deris yang terbaring lemah di ranjang puskesmas terdekat hanya bisa mengangguk lemah dan menggumamkan maaf. Tentu saja, Raka maupun Guniar tidak menyalahkannya.


***


Malamnya, seperti biasa sebelum bekerja lembur, Raka menghubungi Fauzia sekadar menanyakan kabarnya.


Udah mau Juni aja, ya.

Kamu baik-baik aja, kan?


Iya, baik-baik aja sih.

Tapi udah sering konpal, gitu.


Konpal?

Terus gimana kata bidan?


Nggak apa-apa, normal kok.

Lihat selengkapnya