Waktu sudah menunjukkan pukul 12.46, Fauzia masih terduduk sambil berusaha menyusui bayinya yang masih enggan untuk menyusu.
“Kenapa, ya?" tanya Fauzia, dengan raut wajah yang terlihat semakin cemas.
"Coba pake sendok!” Tifa memberi saran, membuat Fauzia menoleh ke arah ibunya lalu mama Raka.
Keduanya mengangguk, “Boleh, kalau mau nyoba. Siapa tahu, setelah tahu rasa dari ASI-mu, bayimu mau menyusu," ucap ibu.
“Iya, nggak ada salahnya dicoba," timpal mama.
Tifa pun segera menemui bidan, hendak meminjam sendok bersih di dapurnya. Lalu ia kembali dan memberikan sebuah sendok yang dibawanya pada Fauzia.
“Nih, coba pakai ini.”
Fauzia pun berusaha memijat dadanya agar ASI-nya keluar. Melihat itu, Tifa segera menyodorkan sendok yang dibawanya untuk menampung tetesan ASI yang keluar.
Sampai sendok cukup terisi, perlahan sendok tersebut diberikan ke mulut bayi. Awalnya mulut bayi masih tertutup sampai ASI-nya beleberan.
Namun beberapa detik kemudian, mulut bayi mulai terbuka dan mengecap ASI yang menetes ke mulutnya. Membuat Tifa kembali meneteskan ASI yang masih tersisa di sendok sampai habis.
Setelah itu, Fauzia kembali mencoba menyusui bayinya. Tapi hasilnya masih sama. Sang bayi masih tidak memberikan respon, membuat raut wajah Fauzia kembali sendu.
Dan lambat-laun, ia mulai panik saat wajah bayi yang sedari tadi digendongnya kian membiru.
Melihat itu, bukan hanya Fauzia, ibunya, mama Raka dan Tifa juga menjadi panik. Dan dengan segera ibu langsung memanggil bidan.
Bidan datang, melihat dan memeriksa sang bayi, lalu berkata, “Ini harus segera dibawa ke rumah sakit, untuk mendapat penanganan lebih lanjut.”
Setelah mendengar itu, ibu langsung menelepon kerabatnya yang kebetulan merupakan supir angkot. Meminta sang kerabatnya itu untuk datang dan mengantar bayi Fauzia menuju rumah sakit.
Setelah menunggu sekitar setengah jam lamanya, akhirnya Sandi, kerabat ibu datang. Dan bayi segera digendong mama Raka, memasuki mobil dibersamai ibu.
Sedangkan Tifa, menemani Fauzia yang memang tidak disarankan untuk ikut ke rumah sakit.
Air mata kian membanjiri pipi Fauzia, ia tak kuasa menahan tangisnya. Tifa dengan sigap memeluknya, berusaha menenangkan Fauzia.
Dua jam berselang, ibu dan mama kembali menemui Fauzia yang masih berada di bidan bersama Tifa.
“Bayimu kini udah dibawa ke ruang NICU. Setelah sebelumnya, dibawa ke UGD, dipasangi infusan dan alat bantu pernapasan. Kita diminta bayar dp dulu, tapi udah mama bayar," ucap mama Raka, pada Fauzia.
“Makasih, Ma. Nanti Zia ganti, ya," ucap Fauzia, namun mama buru-buru menggelengkan kepalanya, “Nggak usah, sekarang mending kamu pulang, istirahat, dan makan ya, banyakin doa aja, supaya bayimu segera pulang.”
Fauzia berusaha mencerna perkataan mama mertuanya, lalu bertanya, “J-jadi bayi aku?"
Mama memeluk Fauzia, sambil mengelus-elus rambutnya mama berkata, "Kamu yang kuat ya, biar bayimu juga kuat dan segera pulang.”
Mendengar itu, air mata Fauzia kembali mengalir, tangisnya pecah tak dapat ia tahan. Mama langsung mengusap pipi Fauzia yang basah.
“Sekarang pulang yuk, mau ke rumah Mama atau ke rumah Ibu?" tanya mama. Fauzia sontak menoleh ke arah mama, lalu ke arah ibunya yang baru saja menampakkan diri.
“Nggak apa-apa kan, kalau aku pulang ke rumah Ibu?" tanya Fauzia, membuat mama segera mengangguk, “Nggak apa-apa, yang penting kamu jangan sampe telat makan, apalagi begadang dan nangis terus."
Fauzia mengangguk mengiyakan.
Setelah itu, ibu dan mama memapahnya menuju mobil yang tadi digunakan untuk mengantar bayinya ke rumah sakit. Tentu setelah berpamitan pada bidan sekaligus telah menyelesaikan administrasinya.
Sedangkan mama dan Tifa mengikuti mobil yang dinaiki Fauzia dengan motor dari belakang.
***
Setibanya di rumah, ibu segera menyiapkan makan. Lalu makan bersama, membuat suasana di rumah begitu ramai, namun sepi dan kosong bagi Fauzia.
Karena ada yang hilang.
Tanpa Raka saja, rasanya sudah sulit. Kini bayi yang dilahirkannya malah harus dirawat di rumah sakit. Tentu kenyataan tersebut membuat Fauzia begitu terpukul.
Namun ia tetap memaksakan diri untuk makan, minum, lalu memakan obat yang diberikan bidan untuknya, karena perutnya masih merasakan mulas setelah melahirkan tadi.
Setelah makan, mama kembali mengajak Fauzia berbicara, kali ini ia bermaksud untuk mengatakan kondisi bayinya.
“Jadi bayimu itu terbilang prematur karena lahir di usia kehamilan 36 minggu, bayimu juga dikatakan BBLR, karena beratnya cuma 2,2 kg. Tapi penyebab utamanya bukan itu.” mama menjeda sejenak, membuat Fauzia yang sedari tadi tertunduk kini perlahan menatapnya.
"Tapi karena pernapasannya yang belum siap, jadi harus dibantu menggunakan alat. Dan … bayimu juga, tidak bisa menyusu, jadi tadi dipasangi selang juga."
Mama menjelaskan dengan berusaha terlihat tegar, sambil sesekali memalingkan wajahnya untuk menghapus air matanya.
Fauzia yang menyadari itu, kembali tertunduk. Tak tahu harus menanggapinya bagaimana. Rasanya lidahnya kelu, kata-kata yang ingin ia katakan tertahan di tenggorokannya. Membuatnya terdiam, hanya air mata yang terus mengalir, tak bisa ia tahan.
“Mama juga udah jelasin ke Raka," ucap mama, perkataannya terhenti, karena ia harus kembali menghapus air matanya.
Lalu melanjutkan, “Maafin Raka ya, dia nggak ada di saat kamu dan anak kalian sangat butuh kehadirannya. Tapi, Mama mohon, kamu ngerti posisi dia juga, ya."