Home Eventually

Jiw April
Chapter #22

Pelangi

Setelah badai itu berlalu, meski berat Fauzia dan Raka kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Tanpa menoleh ke belakang, namun bukan berarti melupakan, melainkan sekadar meyakinkan diri, bahwa keduanya kuat, dan pelangi setelah badai itu pasti ada.


Enam bulan sejak bayi keduanya berpulang, Raka dan Fauzia tak pernah absen untuk mengunjunginya sebulan sekali, membawakan bunga beserta doa.


“Rafasya Aldari, apa kabar sayang? Ibu sama ayah datang lagi nih, bawa bunga,” ucap Fauzia, sambil tersenyum, walau air matanya mengalir.


Ia segera menaburkan bunga yang dibawanya, sambil mengatakan banyak hal seolah ia sedang mengajak bayinya mengobrol.


Raka hanya terdiam, menunduk tanpa berani menyela atau mengatakan apapun. Sampai akhirnya keduanya berpamitan.


Di perjalanan pulang, Fauzia tiba-tiba teringat sesuatu yang sudah lama sekali ingin ia tanyakan.


“Kenapa namanya Rafasya?" tanyanya, sontak Raka menoleh dengan tatapan heran.


"Kenapa baru tanya sekarang?” tanya balik Raka, Fauzia terkekeh pelan sebelum memberi jawaban, "Baru inget.”


"Dasar.”


Fauzia kembali terkekeh dibuatnya.


"Jadi … Ra itu dari awalan namaku, dan Fa-nya dari awalan nama kamu, kalau Sya-nya aku pilih karena artinya bagus. Tinggi. Aldari artinya mulia.


Jadi aku ngasih nama itu, dengan harapan anak kita bisa di tempatkan di tempat yang tinggi dan mulia."


Jawaban Raka membuat Fauzia melebarkan senyumnya, lalu berkata “Makasih." 


“Buat?" 


“Karena udah ngasih nama seindah dan sebagus itu."


Raka menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum ia meraih tangan Fauzia, keduanya pun berjalan bergandengan.


***


Hari berlalu, minggu, bulan bahkan tahun telah berganti, dan Raka tak pernah sekalipun menyinggung soal keturunan. Sampai akhirnya, Fauzia tiba-tiba mengatakan sesuatu.


“Aku boleh nyoba promil lagi, nggak?” tanyanya, membuat Raka tak jadi meminum kopinya. Bahkan gelas yang sudah hampir menyentuh mulutnya itu, ia taruh kembali.


"Boleh.”


Fauzia hanya tersenyum setelah mendengarnya, tanpa mengatakan apapun lagi. Raka yang masih keheranan, berusaha berpikir.


Aku harus bilang sesuatu, biar nggak buntu, biar nggak canggung, tanpa bikin dia tersinggung. Batinnya.


"Hm … gimana kalau besok kita mulai masak toge lagi? Atau mau beli lumpia basah aja? Sekalian belanja obat sama vitamin ke apotek juga.”


Fauzia kembali menganggukkan kepalanya, kali ini senyumnya terlihat lebih lebar, bahkan ia tersenyum dengan matanya.


"Makasih ya. Tapi jangan berharap banyak dulu, ini kan cuma ikhtiar aja,” ucap Fauzia, Raka segera membalas, "Ia aku dukung niat dan ikhtiar kamu, dan aku juga pasti aminin doa-doa kamu. Jadi kamu nggak perlu ragu buat bilang apapun yang mau kamu lakuin."


Perkataan Raka benar-benar membuat Fauzia merasa lega sekaligus bersyukur karena telah mengatakannya. Dan lagi-lagi, ia membuat Fauzia begitu bersyukur karena memiliki suami sepertinya.


***


Setelah itu, toge kembali menjadi bahan makanan wajib yang selalu ada setiap hari di menu makan keduanya. Dengan berbagai macam olahan, disayur bersama tahu, ditumis bersama buncis, dibuat lotek bersama timun dan kol, dan jadi cemilan juga, dalam bentuk lumpia basah.


“Nggak bosen?" tanya Raka, Fauzia menggeleng, “Nggak boleh bosen," jawabnya lalu tertawa.


Meski sudah hampir setahun berlalu sejak ia kembali memutuskan untuk kembali menjalani program hamil, namun belum juga ada tanda-tanda. Fauzia tidak menyerah, dan Raka masih tak menyinggung mengenai hasilnya.


Ia tetap berusaha menjadi suami yang akan selalu mendukung istrinya, tanpa mempermasalahkan hasilnya.


“Oh, iya, akhir-akhir ini aku jadi jarang banget dapet kerjaan ke luar kota. Apa uang yang aku kasih ke kamu cukup? Apalagi setelah Sherly sekolah, aku jadi harus makin rutin kirim dia uang dengan jumlah yang lebih besar dari sebelumnya.”


Fauzia mendengarnya, namun tak langsung memberikan jawaban. Sejujurnya ia bingung harus menjawab apa.


Jika dikatakan cukup, faktanya seringkali ia harus kasbon ke bosnya di konveksi. Tapi ia juga tak berani mengatakan kurang, karena Raka telah memberikan semua apa yang ia miliki.


"Zi,” panggil Raka, membuat Fauzia sontak menoleh, "Apa aku nyari kerja yang lain aja, ya?”


Mendengar itu Fauzia segera menjawab, "Uang dari kamu cukup, kok. Em … kalau masalah mau nyari kerja lain, emang kamu mau cari kerja apa? Ke mana?" 


Raka terdiam sejenak, lalu menggeleng, “Nggak tahu, lagian baru kepikiran barusan." 


Fauzia menghela napasnya, Raka melanjutkan, “Abisnya kantor lagi sepi kerjaan, jadi pemasukan makin seret. Ya, kalau aku ikhtiar nyari, siapa tahu ada yang ngajakin, ya kan?" 


Fauzia mengangguk pelan, “Ya, mungkin aja."


Percakapan keduanya pun terhenti, membuat keduanya sama-sama terlarut dalam pemikirannya masing-masing.


***


Hari-hari selanjutnya, dikarenakan Raka setiap hari hanya bekerja di kantor saja, yang sesekali hanya bekerja setengah hari. Tentu Raka tidak menyia-nyiakan waktunya begitu saja.


Justru waktu senggang seperti ini, ia manfaatkan sebaik mungkin. Setidaknya untuk sedikit menebus kesalahannya dulu, di mana ia tidak bisa mendampingi masa sulit Fauzia.


Bersamaan dengan program hamil yang diikhtiarkan Fauzia, Raka masih sering memantau haid, masa subur dan ovulasi Fauzia lewat aplikasi kalender.


Bahkan Raka sengaja membelikan susu yang katanya bisa membantu melengkapi program hamil Fauzia juga.


Sampai suatu hari, saat Raka kembali memantau kalender di ponsel Fauzia, ia bertanya, “Bulan ini, kamu belum datang bulan, ya?”


"Belum,” jawab Fauzia singkat.


"Harusnya udah, ini udah telat empat hari tahu,” ucap Raka sambil memperlihatkan ponsel Fauzia.


Fauzia hanya melihat sekilas lalu mengedikkan bahunya. Membuat Raka kembali mengamati kalender di ponsel Fauzia.


Merasa perhitungannya benar, ia langsung membaringkan tubuhnya tepat di samping Fauzia yang terduduk di atas ranjang dengan kaki diselonjorkan.


Lalu Raka mengelus-elus perut Fauzia yang masih rata, dan menciumnya berkali-kali.


Mendapat perlakuan seperti itu, Fauzia pun bertanya-tanya, “Kamu ngapain?" 


“Aku mau nyapa bayi kita." 


“Tapi kan belum tentu aku hamil lagi," ucap Fauzia lalu terkekeh pelan, namun Raka menggeleng, “Nggak, aku yakin Tuhan pasti ngasih kepercayaan ke kita lagi. Jadi aku nggak mau telat nyapa lagi." 


Fauzia tersenyum sambil mengelus-elus rambut Raka, “Ya udah, besok kita beli tespek, ya." mendengar itu Raka langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias.


***

Lihat selengkapnya