Home Sick

Asrina Lestari
Chapter #2

Babak Baru

Saat ini Gadis mungil itu sedang berada di dapur warung milik usaha ibunya. Arin sedang menyeduh teh hangat di pagi hari. Suara kicauan burung terdengar samar di langit biru. Suara ayam yang baru saja keluar dari kandangnya.

Arin melangkah keluar dan duduk di teras warung sembari menatap luar pegunungan yang indah. Matahari belum menampakkan sinarnya. Awan kelabu, menutup langit biru.

Orang-orang yang mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Suara riuh traktor dan kendaraan lalu lalang. Anak sekolah, dan semua aktivitas di mulai pada pagi buta.

Akhirnya Arin merasakan hidup di kampung halaman seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Menghirup udara segar. Menatap pohon-pohon hijau.

"Na, Tolong ambilkan segelas air dingin," Pinta Pak Novan. Pada Arin. Gadis mungil itu mengangguk lalu beranjak mengambil.

Arin melangkah masuk mengambil gelas lalu membuka lemari pendingin mengambil sebotol air lalu menuangkan ke dalam gelas itu. Pak Novan adalah ayah sambung Arin, ia bekerja sebagai petani dan berkebun. Itulah pekerjaan sehari-harinya.

Hidup di kampung harus memiliki jiwa pekerja keras. Setiap pagi buta Pak Novan selalu mengunjungi ternak sapinya. Tidak hanya itu saja, menanam padi dan semuanya dilakukannya. Sedangkan Ibunya Arin, membangun usaha warung makan. Dan kini Arin ikut membantu. Seperti waiter.

Hari itu banyak pelanggan yang makan. Hingga malamnya Arin masuk ke dalam kamar gadis itu merebahkan badannya di atas kasur. Menatap jendela dengan langit malam yang indah. Lelah sudah pasti.

Gadis itu mengambil laptop miliknya, lalu membukanya, Arin tampak serius dalam dunianya sendiri. Seakan lupa dengan waktu saat bermain dengan benda kesayangannya. Jari-jarinya menari di atas keyboard. Arin tampak menyukai suasana itu ketika malam.

"Alhamdulillah, sudah banyak Bab." Ia tersenyum semringah lalu menutup laptop itu dan menyimpan di sampingnya. Lalu tertidur. Hal itu sering dilakukannya ketika ingin tidur atau sejenak rehat dari aktivitasnya.

Sudah seminggu Arin berada disini, Ibu dan Ayahnya pergi ke kebun. Saat itu Gadis mungil itu sedang mencuci piring bekas makan pelanggan.

"Pakai sabun jangan banyak-banyak," Arin terkejut mendengar suara lantang itu. Ia menolehkan pada menatap laki-laki lansia itu sedang menatapnya tajam.

"Enggaklah banyak. Orang pakenya sedikit," Balas Arin lalu kembali pada pekerjaannya.

"Apa katamu, jangan melawan. Kalau di kasih tau sama orangtua." Arin terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu pada kakeknya.

"Apasih!, orang ngomong baik-baik kok. Kakek sendiri yang datang langsung nyerocos tidak jelas." Jelas Arin

Lelaki lansia itu mengambil baskom kecil lalu memukul pada Arin. Tetapi pukulan itu tak sampai, tetapi tatapan tajam itu mengarah padanya.

"Pukul kalau mau pukul. Udah tua bukannya tobat juga." Balas Arin menggebu-gebu.

Rasanya gadis mungil itu ingin menangis. Tetapi di tahannya.

"Dasar anak tidak tau di untung," Ucapnya lalu bergegas pergi.

Dengan begitu Arin segera menyelesaikan pekerjaannya Lalu pergi kerumah tantenya yang berada di sebelah.

"Hei ada apa ini. Kok nangis," ucap Tante Delin panik lalu duduklah di samping Arin. Gadis mungil itu mulai menceritakan yang baru saja terjadi padanya. Tante Delin menatap geram.

"Apasih!!! maunya kakek-kakek tua itu. Segala cucunya mau dipukul, dia pulang buat rawat dia. Malah di perlakukan kayak gini." Geram Tante Delin setelah mendengar cerita Arin.

Lihat selengkapnya