-Confess-
Arin menghela napas panjang berkali-kali, ia bingung apakah keputusannya tepat atau tidak? Berkali-kali ia berpikir, untuk mengatakan keinginannya itu. Sudah banyak orang yang menyuruhnya mencari pekerjaan.
"Apa aku bilang saja ya? Tapi apa mereka mendukung apa yang aku mau?" Gumam Arin bertanya dalam hati.
Arin tampak bimbang untuk mengatakan pada orang tuanya. Gadis itu duduk di kamar sembari menunduk lesuh. Keinginannya itu sudah bulat, Sejak lulus kuliah ia sudah bertekad.
Ia melangkahkan kaki keluar dari kamar. Disana ada banyak orang duduk di teras bawah rumah. Arin sedikit gugup, tetapi ada helaan napas beratnya.
Melihat suasana terasa hangat itu Arin tidak ingin merusak hal tersebut. Candaan dan tawa bergema disana.
"Bagaimana apakah kamu sudah dapat pekerjaan?" Tanya Bunda Ami
Arin menggeleng, "Kan sudah Bunda bilang urus semua berkasmu dan perbaiki semuanya. Tetapi kamu tetap diam saja. Kamu mau begini terus?" Ucap Bunda Ami lagi
"Iya, nanti." Jawab Arin singkat
"Lihat semua sepupumu semua udah pada kerja. Udah pada berhasil. Sepupumu yang pernah tinggal di rumah. Semua sudah berhasil kan? Kamu lihat itu." Ucap Bunda Ami lagi
Arin hanya bisa menunduk, terdiam. Apa yang semua dikatakan Ibunya memang benar. Tetapi memang mencari kerja itu memang sangat sulit baginya.
Hufhh
"Bun, Aku mau jadi Penulis," Ucap Arin mantap
Semua terdiam mencerna, Kakek dan neneknya menatap bingung, sedangkan Tante Delin dan Bunda Ami terdiam.
"Aku mau jadi Penulis seperti Kak Raditya Dika," Ulang Arin sekali lagi
"Kenapa jadi Penulis?, mau jadi apa kamu dengan menulis, Hah." Ucap Bunda Ami lantang
Arin tetap terdiam sedangkan Kakek dan Neneknya bertanya-tanya. Tanpa sadar air mata itu keluar dengan sendirinya. Seperti dugaannya tidak ada yang menyetujui keputusannya. Ia menghela napas berat. Lalu beranjak ke kamar.