Home Sweet Home

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #1

Wisma Abdi Negara #1

HUJAN DI PERBUKITAN pinggiran kota tidak pernah terdengar ramah. Di Rumah Abdi Negara—begitu penduduk lokal menyebutnya—suara rintik hujan bertransformasi menjadi ribuan jari kuku yang mengetuk-ngetuk atap sirap yang baru diganti. Air meluncur deras di kaca-kaca jendela nako yang besar, membiaskan cahaya lampu downlight kuning hangat dari dalam, membuatnya tampak seperti air mata yang mengalir di wajah raksasa yang diam.

Aris berdiri di tengah ruang tamu yang luas, menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin. Ia mengenakan kemeja linen yang lengannya digulung hingga siku, memamerkan jam tangan chronograph yang serasi dengan nuansa neoklasik rumah ini. Matanya berbinar ambisius saat menatap sekeliling. Di sinilah, di bawah langit-langit setinggi lima meter dengan molding gipsum yang rumit, ia merasa seperti raja. Ia telah menyulap reruntuhan kolonial yang angker menjadi mahakarya arsitektur minimalis yang elegan. Baginya, rumah ini adalah bukti kesuksesannya, meski ia harus menguras tabungan terakhir dan mengambil pinjaman berisiko tinggi yang membuatnya sering terbangun tengah malam dengan keringat dingin.

“Semuanya sempurna,” gumam Aris, suaranya memantul di dinding-dinding yang dicat warna abu-abu taupe. Nada suaranya bukan untuk meyakinkan orang lain, melainkan dirinya sendiri.

Di sudut lain rumah, di sebuah ruangan yang didedikasikan sebagai studio lukis, Maya duduk mematung di depan kanvas putih yang masih bersih. Bau cat minyak yang menyengat bercampur dengan aroma lembap dari kayu tua yang tampaknya menolak untuk kering sepenuhnya, meski pemanas ruangan sudah dinyalakan maksimal. Maya, dengan rambut acak-acakan dan kemeja kebesaran yang bernoda cat lama, memegang kuas dengan tangan gemetar. Ia tidak sedang melihat kanvasnya, melainkan menatap sudut ruangan tempat plafon bertemu dengan pilar beton utama. Di sana, di celah sempit yang nyaris tak kasat mata, ada noda kecokelatan yang samar. Aris bilang itu hanya rembesan air hujan biasa, sisa kerusakan atap lama. Namun, bagi mata artistik Maya, warna itu terlalu pekat, terlalu organis. Noda itu seolah mekar, perlahan-lahan menyebar seperti memar di kulit ari seorang mayat.

Suasana tenang itu tiba-tiba pecah.

Thump. Thump.

Kuas di tangan Maya jatuh ke lantai, meninggalkan jejak cat hitam. Suara itu bukan dari luar. Suara itu berasal dari dalam dinding.

“Tikus,” Maya berbisik, mengulangi mantra penenang yang selalu dikatakan Aris.

Thump-thump-thump.

Tiga ketukan cepat. Jeda dua detik.

Thump... Thump... Thump...

Tiga ketukan lambat, berat, dan bertenaga.

Bulu kuduk Maya meremang. Itu bukan suara hewan yang gelisah. Itu ritme. Itu komunikasi. Itu kode SOS yang dipelajarinya saat pramuka dulu. Seseorang—atau sesuatu—sedang meminta tolong dari balik fondasi megah yang dibangun suaminya. Maya bangkit, melangkah perlahan menuju pilar tersebut. Ia menempelkan telinganya pada plesteran dingin dinding abu-abu itu. Suara hujan di luar seakan sirna, digantikan oleh suara getaran halus dari dalam beton.

Tiba-tiba, ia mencium sesuatu. Bukan bau cat, bukan bau kayu lembap. Itu bau anyir, bau logam berkarat, bau kematian yang sudah lama dibusukkan.

"Maya? Sedang apa kau?"

Suara Aris yang berat dan tiba-tiba dari ambang pintu membuat Maya tersentak hebat, kepalanya membentur dinding keras itu. Aris berdiri di sana, memegang cangkir kopinya, menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekhawatiran yang dipaksakan dan kejengkelan yang diredam.

Maya berbalik cepat, mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik punggung. “Aku... aku mendengar suara lagi, Aris. Di pilar ini.”

Aris menghela napas panjang, meletakkan cangkirnya di atas meja konsol kayu jati yang mahal. Ia berjalan mendekat, langkah sepatunya berbunyi ritmis di atas lantai marmer Carrara. Ia berhenti tepat di depan Maya, mendominasi ruang dengan tubuhnya yang tinggi.

"Kita sudah bicara tentang ini, May," ucap Aris, suaranya rendah dan tajam, seperti pisau bedah. "Ini rumah tua yang kita renovasi. Kayu memuai, besi berkarat, tikus berlarian. Itu wajar. Jangan biarkan imajinasimu menguasaimu lagi."

"Tapi baunya, Aris... seperti darah..."

"Darah?"

Aris tertawa pendek, tawa yang tidak mencapai matanya. Mata Aris terlihat lelah, namun ada kilatan kewaspadaan yang mengerikan di dalamnya. "May, kau terlalu stres karena art block-mu. Aku sudah membelikanmu obat baru, kan? Yang botol kecil di meja rias? Pastikan kau meminumnya malam ini. Kau butuh tidur, bukan halusinasi."

Lihat selengkapnya