Home Sweet Lies

Lucky Star
Chapter #1

Chapter 1 - Bara membiru

“A, kamu punya uang nggak? Besok adik kamu mau kontrol. Ibu ada uang buat berangkat, tapi nggak ada buat pulang. Adek malu kalau naik kendaraan umum.”

Biru menghela napas mendengar apa yang baru saja dikatakan sang bunda. BPJS memang bisa mengurangi beban biaya pengobatan, tapi mereka yang berobat tetap butuh ongkos untuk pergi. Apalagi, rumah sakit rujukan cukup jauh dari rumah. Alasannya, diagnosis tertentu hanya bisa ditangani di sana. Jadi, jika tidak ada kendaraan pribadi, mereka harus keluar uang lebih banyak.

Anak itu langsung bangkit, masuk kamar, lantas mengambil dompet di tas sekolahnya. Hanya ada satu lembar uang seratus ribu di sana. Dengan berat Biru menyerahkannya pada sang bunda. “Aku cuma punya ini, Bun. Doain malam ini ada tawaran buat ngisi acara.”

“Makasih, ya, Sayang. Nanti kalau Adek udah sembuh dan Bunda bisa kerja normal lagi, Bunda ganti uang kamu.”

Biru mengangguk. Tanpa mengatakan apa pun dia beralih ke kamar adiknya. Bara tidur begitu nyenyak di sana. Mungkin karena kemarin malam anak itu benar-benar tidak tidur karena nyeri hebat di belakang telinga.

Di luar sana, langit tampak jingga. Namun, Bara memilih menutup seluruh tirai dan gelap-gelapan di kamar. Alasannya sederhana, tapi mampu mencabik hati kecilnya sebagai kakak. Bara tidak ingin terlihat jelek. Takut dibilang monster karena mengalami face paralysis.

Hampir satu tahun kembarannya berobat dengan diagnosis TB kelenjar, tapi sampai akhir pengobatan sama sekali tak tampak perubahan. Sisi kanan wajahnya justru mengalami kelumpuhan. Area yang terdampak sedikit menurun, tidak bisa berkedip, sulit pula untuk bicara. Akhirnya, Bara dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan beberapa hari setelah serangkaian pemeriksaan, adiknya terdiagnosis tumor parotis atau tumor kelenjar ludah. Mengenai keganasan, masih dalam proses pemeriksaan. Sebagai pengguna BPJS, tidak semua bisa dilakukan di hari yang sama.

Diusapnya rambut hitam sang adik, sampai kemudian anak itu membuka mata.

“Kenapa, A?”

“Eh? Ganggu, ya? Sorry.”

“Nggak. Udah lama juga aku tidur.”

“Gimana hari ini? Sakit nggak?” tanya Biru lagi sembari mengusap area berbalut kassa juga plester putih besar. Tampak rembesan warna merah di sana. Kendati demikian, Biru berusaha untuk tidak panik.

“Kayak ditarik-tarik. Sakit.”

“Besok pas kontrol kamu bilang sama dokternya oke? Siapa tau dikasih obat yang lebih paten.”

“Percuma, lukanya bahkan nggak pernah dipegang. Dokternya aja jijik.”

Biru membawa sang adik ke dalam pelukannya, turut merasakan sakit yang sama. Ini kali kedua anak itu mengeluhkan hal serupa. Dia tidak tahu seperti apa seharusnya prosedur pemeriksaan, tapi membuat pasien merasa aman dan nyaman bukankah sama pentingnya?

Lihat selengkapnya