"Salah paham terbesarku yaitu mengira kamu akan kembali dan menggandeng tanganku lalu berjalan bersama sambil menceritakan betapa indahnya pemandangan di atas sana."
-AYA
====================================////==========================
Malam ini Kota Bangkinang terasa lengang, setidaknya dari sudut tempatku duduk di Tuan Coffe. Dihadapanku, segelas kopi susu dengan es yang mulai mencair, bersebelahan dengan laptop yang layarnya hanya menampilkan daftar putar spotify serta rintik suara hujan menjadi teman bisu. Ponselku pun tergeletak pasrah, masih membuka game Mobile Legends yang tak kunjung kusentuh.
Malam ini aku sendirian. Biasanya aku pergi ke Cafe ini bersama Yurika sahabatku. Namun entah mengapa malam ini aku ingin sendri, memikirkan masalah yang tidak kunjung kutemukan solusinya. Sesekali, helaan napas panjang lolos dari mulutku. Ku raih ikat rambut dari dalam ransel, lalu menggulung rambut ikalku yang tergerai menjadi sanggul seadanya.
Jemariku Akhirnya bergerak di atas keyboard, bukan untuk mengerjakan sesuaru yang produktif, melainkan mengetik dua kata yang terasa begitu berat di benakku: "lowongan pekerjaan."
Namaku Ravindra Ayesha Putri, namun dunia lebih mengenalku sebagai Aya. Aku lulusan Teknik Informatika Politeknik Caltex Riau. Lima bulan sudah status itu melekat, namun masa depan masih terasa seperti kabut tebal yang selalu menutupi. Aku bingung harus melangkah kemana, sementara bayangan kedua adikku, Davin dan Elang terus menari di kepala.
Terlahir menjadi anak perempuan pertama merupakan peran yang berat kujalani. Beban itu terasa berkali-kali lipat lebih berat semenjak kepergian Ayah, tepat sebelum umurku genap 17 tahun. Kepergian ayah meninggalkan luka yang sampai saat ini belum kutemukan obatnya. Terkadang aku bertanya-tanya, apakah ayah akan kecewa liat aku kayak gini? Bingung, tersesat, dan nyaris menyerah.
Aku tahu, aku tidak punya privileses "orang dalam" yang bisa membukakan pintu dengan mudah. Tapi aku sudah berjanji pada mendiang ayah, dan pada diriku sendiri bahwa aku akan berjuang dengan caraku. Meski kata gagal terasa lebih akrab menyapa dalam perjalanan panjang ini.
Jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kedai kopi ini pun sudah mulai sepi. Lagi, aku menghela napas, kali ini cukup panjang, lalu mulai merapikan barang-barang bawaanku. Ransel yang kembali ku sandang entah mengapa terasa lebih berat, seolah ikut memikul semua beban pikiranku malam ini.
Setelah memastikan tidak ada lagi barang yang tertinggal, akupun mulai melangkah dengan lesu menuju parkiran. Udara malam yang lembab langsung menyergap, aroma petrichor langsung masuk ke indra penciumanku. Aku merongoh saku celana baggy, mencari kunci motor. Jemariku berhasil mengambil gantungan kecil yang familiar, aku menekan salah satu tombolnya dan dari kejauhan, lampu motor Stylo Royal Green-ku berkedip menyahut.
Namun, tepat sebelum tanganku memutar tombol on, sebuah suara bariton menginterupsi.
"Hai."
Refleks aku menoleh. Di sana, beberapa meter dariku, berdiri seorang pria yang perawakannya kutebak lima tahun lebih tua. Aku terdiam, memproses situasi. Aku sama sekali tidak mengenali wajah orang yang baru saja menyapaku. Tanpa sadar, aku menunjuk diriku sendiri seolah bertanya.
Pria yang baru saja menyapa itu mengangguk sambil tersenyum tipis, Ia pun berjalan mendekat. Setiap langkahnya memangkas jarak di antara kami, membawa aroma parfum yang samar namun khas-ada wangi buah, sedikit bunga, dan sentuhan rempah yang hangat. Wangi yang anehnya terasa menenangkan.