“Keinginan semua orang berbeda-beda, tergantung seberapa sedih mereka.”
Kata-kata itu terngiang-ngiang di antara pikirannya. Bahkan dirinya yang selalu merasa baik-baik saja pun, bisa terlihat menyedihkan. Bahkan dia yang tidak merasa sedih pun, tetap memiliki keinginan.
Dan ketika ia membuka matanya lagi, satu pertanyaan yang tak sengaja terselip keluar dari bibirnya mulai menjadi bumerang. Lemparannya tepat sasaran.
“Jadi Miyo, apa keinginanmu?”
Kali ini, ia pasti bisa menjawabnya dengan benar. Kalau ini sebuah tes, maka ia mengejar nilai seratus.