Miyo memandangi orang-orang yang berlalu lalang di jalanan. Derap langkah mereka di antara paving blok yang sudah retak terdengar begitu renyah. Ia kembali melayang diantara lamunannya, suara napasnya terdengar teratur sebelum akhirnya suara berat menganggu pikirannya.
“Nak, trotoar bukan tempat untuk diduduki. Berjalanlah sedikit ke depan, kau bisa menemukan halte bus tua yang sudah tidak digunakan.” Alis lelaki paruh baya itu berkerut iba.
Miyo cepat-cepat bangkit, sedikit saja berada di sana akan membahayakan nyawanya. Ia mulai membayangkan cara untuk mengakhiri hidupnya, berlari ke jalan raya bukanlah cara terbaik.
Langkahnya terseok-seok, bahunya terasa berat karena ransel yang ia jinjing. Melewati rentetan blok yang dialiri sungai dangkal, pikirannya kembali melayang. Apa lebih baik menenggelamkan diri? Ia ingat pernah bergulir di media sosial dan membaca cerita pengalaman orang-orang yang tenggelam. Mereka mengatakan relung paru-paru mereka seolah terbakar karena volume air yang masuk melalui hidung.
Miyo menggeleng kepalanya, ia mengeluarkan beberapa biji batu pemberat yang ia kumpulkan di balik ranselnya, melemparkan seluruhnya ke dalam sungai, gelombang kecil melayu-layu dari bawah. Sedangkan di kolong sungai, setapak jalan tampak disinggahi pesepeda. Tawa mereka menggema, untuk sekali lagi, Miyo menarik napas panjang.
Mungkin bukan sekarang.
Miyo mempercepat langkahnya, setelah melewati beberapa blok yang dihiasi dengan gedung-gedung apartemen tinggi. Pada bagian belakang, melewati lorong sempit yang becek, ia melihat apartemen kumuhnya bersembunyi di sana.
Melalui tangga yang keramiknya hampir hancur, Miyo melangkah perlahan sembari memegangi besi berkarat yang mereka panggil sebagai pegangan tangga. Setiap langkahnya seolah ringkih dan ia bisa jatuh kapan saja, mungkin jatuh dari ketinggian tidak seburuk itu.
Miyo menggeleng, membayangkan tubuhnya akan terus terjebak di apartemen tempatnya tinggal membuatnya hampir muak. Dengan cepat, Miyo berlari sekuat tenaga meskipun napasnya hampir habis.
----
Lagi-lagi Miyo mencoba membolak-balik kalender, dan hari itu masih senin. Ibu terlalu sibuk untuk menyambutnya pulang, pekerjaan yang tak ada habisnya itu mulai menggerogoti pikiran ibunya.
Miyo langsung melemparkan ranselnya dengan malas, melepaskan sepatu lalu langsung naik ke kasur dengan kaos kaki yang belum dibuka. Helaan napas pertama, Miyo masih bisa berpikir jernih. Jarum jam terus berdetak beriringan dengan detak jantungnya.
Kamar rasanya panas sekali meskipun Miyo sudah menghidupkan kipas angin yang paling kencang, dihempaskannya selimut serta bantal-bantal yang menyesakkan. Setidaknya itu membuatnya merasa lega untuk sesaat.
Helaan napas kedua, Miyo mulai banyak berpikir. Terkadang, ia bingung tentang apa yang seharusnya dipikirkan baik-baik dalam hidup ini. Namun, tidak ada satu hal pun yang bisa membanggakan ataupun membahagiakan.
Helaan napas ketiga mulai membuat gadis itu sesak lagi. Ia mencoba berguling di kasur, berharap rasa sesak cepat hilang. Pertanyaan yang merasuki kepalanya saat ini adalah “Kapan ia akan melewati hidup tanpa rasa bersalah?”
Helaan napas keempat, tubuhnya melemah, Miyo mulai mengantuk. Apa akhirnya ia akan tidur? Meskipun tidur, otak Miyo tetap memikirkan hal-hal bodoh. Mengingat bahwa hidupnya hanya tersisa enam hari.
Helaan napas kelima, Miyo terlelap tanpa khawatir akan apapun. Miyo tenggelam jauh ke dalam mimpi tak berujung dengan celah lubang dimana-mana. Miyo enggan menutup celah itu, sampai akhirnya ia sampai di sini.
---
Miyo merasa nafasnya seolah ditarik oleh denyut jantung seseorang. ia bisa merasakan napas seseorang menyeruak terus-terusan menghempas dirinya. Tubuhnya tidak bisa berdiri dengan benar, kaki-kakinya memijak lantai lembek yang berlendir.
Ketika Miyo membuka matanya dengan susah payah, ia menemukan seorang gadis kuncir satu berdiri di depannya. Gadis itu menganakan vest hitam tanpa lengan dipadukan dengan blouse putih lengan panjang yang berenda, ia mengenakan rok tutu kembang berwarna putih selutut yang tampak aneh.
Terselip nametag gadis itu berpendar pada bagian dada vest-nya bertuliskan Mugwon beserta tulisan resepsionis.
Di tengah keduanya, meja panjang terbentang membatasi Miyo dengan gadis itu. Miyo memperhatikan secara seksama apa saja yang ada di atas meja. Pensil, pulpen, telepon berkabel yang antik, beberapa catatan. Pada dindingnya terpantri rak kayu dengan gantungan serta beberapa kunci tergantung di sana.