Ravi mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Kevin. Dia memperhatikan bahwa Kevin sering tampak gelisah dan tidak fokus selama latihan basket. Bahkan dalam kegiatan klub, Kevin terlihat sering melamun. Suatu hari, setelah latihan, Ravi memutuskan untuk berbicara dengan Kevin.
"Kev, kita perlu bicara," kata Ravi sambil menepuk bahu Kevin.
Kevin menoleh dengan sedikit terkejut. "Ada apa, Ravi?" tanyanya sambil mengelap keringat di dahinya.
Ravi menatap Kevin dengan serius. "Aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Alya berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kamu tidak bisa terus begini, Kev," kata Ravi dengan nada tegas.
Kevin menghela napas panjang. "Aku tahu, Ravi. Tapi ini tidak mudah. Aku tidak ingin menyakiti Alya," jawabnya dengan suara penuh penyesalan.
Ravi mengangguk. "Aku mengerti, Kev. Tapi kejujuran adalah hal yang paling penting. Kalau kamu tidak jujur, kamu hanya akan menyakitinya lebih dalam," kata Ravi sambil menepuk bahu Kevin dengan lembut.
Kevin merasa hatinya berat mendengar nasihat Ravi. Dia tahu bahwa sahabatnya benar, tetapi ketakutan akan masa lalu terus menghantuinya. "Aku akan mencoba, Ravi. Aku akan mencoba untuk lebih terbuka," jawab Kevin dengan suara yang terdengar ragu.
Sementara itu, Alya merasa semakin frustrasi dengan ketidakpastian hubungan mereka. Dia memutuskan untuk mencari nasihat dari Diana. "Diana, aku merasa Kevin menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," kata Alya saat mereka duduk di kafe kecil dekat sekolah.
Diana menatap sahabatnya dengan penuh empati. "Alya, aku tahu ini tidak mudah. Tapi kamu harus bersabar. Kevin butuh waktu untuk membuka diri. Cobalah untuk mendekatinya dengan lembut," kata Diana sambil menggenggam tangan Alya.
Alya mengangguk. "Aku akan mencoba, Diana. Terima kasih sudah mendengarkan," jawabnya dengan senyum lemah.
Hari-hari berikutnya, Alya mencoba mendekati Kevin dengan lebih lembut. Dia terus mendukung Kevin dan berusaha membuatnya merasa nyaman. Kevin merasa bersyukur memiliki Alya di sisinya, meskipun ia tahu bahwa ia harus segera jujur tentang masa lalunya.
Kevin terus merasa bersalah karena tidak bisa jujur pada Alya. Setiap kali mereka berbicara tentang masa lalu, Kevin selalu menghindar. Suatu hari, saat mereka duduk di taman sekolah, Alya memutuskan untuk berbicara dengan lebih terbuka.
"Kevin, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Aku ingin kamu tahu bahwa aku ada di sini untukmu, apapun yang terjadi," kata Alya dengan suara lembut.
Kevin terdiam sejenak, merasa hatinya berat. "Alya, aku... aku belum siap untuk membicarakan masa laluku. Tapi aku janji, aku akan mencoba untuk lebih terbuka," jawabnya dengan suara bergetar.
Alya menatap Kevin dengan penuh pengertian. "Aku mengerti, Kevin. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu bisa mempercayai aku," katanya sambil menggenggam tangan Kevin.
Kevin merasa hatinya tersentuh oleh ketulusan Alya. Ia tahu bahwa ia harus segera jujur, meskipun itu sulit. "Terima kasih, Alya. Kamu sangat berarti bagiku," kata Kevin dengan suara lirih.