HTS

Muhammad Ahnaf Putranto
Chapter #7

Konfrontasi di Kedai Kopi

Kevin duduk di sudut kedai kopi, matanya terus melirik ke arah pintu masuk. Dia sudah merasa gelisah sejak Alya mengirim pesan singkat yang meminta untuk bertemu. Ketika Alya akhirnya tiba, senyumnya yang biasanya ceria kini terlihat tegang.

"Aku butuh jawaban, Kevin," ujar Alya tanpa basa-basi setelah duduk di hadapannya. "Aku tidak bisa terus seperti ini. Kamu harus memberi kepastian tentang hubungan kita."

Kevin mengalihkan pandangannya, merasa tekanan yang semakin besar. "Alya, aku... aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya," katanya pelan, mencoba mencari kata-kata yang tepat.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Kevin? Kenapa kamu selalu menghindar setiap kali kita bicara tentang hubungan serius?" Alya menatapnya dengan mata penuh harap, tetapi juga kepedihan.

Kevin merasakan denyut di kepalanya semakin kencang. "Ini bukan tentang kamu, Alya. Ada hal-hal yang aku belum bisa ceritakan. Tolong mengerti."

"Tapi aku ingin mengerti, Kevin! Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kamu tidak bisa jujur padaku?" Alya menahan air matanya, frustrasi karena Kevin terus menghindar.

Kevin merasakan serangan panik mulai menguasai dirinya. Napasnya menjadi pendek dan cepat. Ingatan tentang Naira dan masa lalu yang kelam di pesantren membanjiri pikirannya. Dia merasa seperti terperangkap dalam kegelapan tanpa jalan keluar.

"Alya, aku tidak bisa!" bentak Kevin tiba-tiba, suaranya pecah oleh kepanikan. "Kamu tidak mengerti! Aku tidak bisa memberikan apa yang kamu mau!"

Alya terdiam, terkejut oleh ledakan emosi Kevin. "Kevin, aku hanya ingin kita jujur satu sama lain," bisiknya, air mata mulai mengalir di pipinya.

Kevin berdiri dengan tergesa-gesa, merasa tidak bisa lagi menahan beban emosional yang menghimpitnya. "Aku harus pergi," katanya sebelum berlari keluar dari kedai kopi, meninggalkan Alya yang menangis sendirian.

Lihat selengkapnya