HTS

Muhammad Ahnaf Putranto
Chapter #9

Ancaman Persahabatan

Taman kota pagi itu terasa sepi. Hanya suara gemericik air dari danau kecil di tengah taman yang terdengar, mengiringi suasana hati yang tak menentu. Ravi duduk di bangku kayu, menggenggam ranting kecil, mengayunkannya perlahan-lahan. Dia menatap Kevin yang duduk di sebelahnya dengan ekspresi penuh gusar.

"Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang Naira ke aku, Kev? Aku ini sahabat kamu," Ravi membuka percakapan dengan nada yang tegas namun terdengar kegetiran.

Kevin menundukkan kepala, matanya tertuju pada tanah di bawah kakinya. "Maaf, Rav. Aku... aku takut kamu nggak bakal ngerti," jawabnya pelan, seolah takut kata-katanya akan memperkeruh suasana.

Ravi menghela napas panjang, mencoba menahan amarah yang mulai membakar di dalam dadanya. "Kamu menyakiti Alya, Kev. Dan itu juga menyakiti aku," katanya lagi, kali ini suaranya lebih keras, hampir seperti sebuah tuntutan.

Kevin hanya bisa terdiam, perasaan bersalah yang sudah lama terpendam kini semakin berat menghimpit dadanya. Dia tahu dia telah salah, tapi dia juga tak tahu bagaimana cara memperbaikinya.

Sementara itu, di sudut kedai kopi yang sering mereka kunjungi, Alya duduk bersama Diana. Di depan mereka, dua cangkir kopi mengeluarkan uap panas yang memenuhi udara dengan aroma yang menenangkan. Alya menggenggam cangkirnya erat-erat, matanya berkaca-kaca. "Aku cuma nggak ngerti kenapa dia nggak pernah cerita tentang Naira ke aku. Apa dia nggak percaya sama aku?" tanyanya dengan suara gemetar.

Diana mengusap bahu Alya dengan lembut, berusaha memberikan kekuatan. "Kevin punya traumanya sendiri, Alya. Tapi itu bukan alasan untuk dia menyembunyikan hal sebesar itu dari kamu," jawab Diana, mencoba menenangkan sahabatnya.

Alya mengangguk pelan, namun kesedihan masih jelas tergambar di wajahnya. "Aku nggak tahu harus gimana, Di. Aku masih cinta sama dia, tapi aku juga nggak bisa terus-terusan begini," katanya dengan suara yang penuh keputusasaan.

Diana tersenyum simpul, mencoba memberikan harapan. "Kita mulai dari sini. Fokus ke diri kamu dulu. Klub sastra bakal jadi tempat yang bagus buat kamu. Ayo, kita ikutin lebih banyak kegiatan," ajaknya dengan penuh semangat.

Di sekolah, kehidupan terus berjalan seperti biasa. Rina dan Joko sedang sibuk di ruang debat, berdebat tentang topik kompetisi yang akan datang. "Kita harus punya argumen yang kuat tentang dampak globalisasi di negara berkembang," kata Rina dengan penuh semangat.

Lihat selengkapnya