Pagi itu, langit kelabu menggantung rendah seakan menyatu dengan tanah yang basah oleh hujan semalam. Kevin duduk di bangku belakang kelas, menatap kosong ke arah papan tulis yang penuh dengan rumus-rumus matematika yang sedang dijelaskan oleh Pak Arif, guru matematika mereka. Kevin tidak benar-benar mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Arif. Suaranya terdengar jauh, seperti bisikan yang ditelan oleh dinding-dinding kelas.
Kevin terus-menerus terstimulasi oleh peristiwa yang mengingatkan pada traumanya di pesantren. Setiap suara keras, setiap kata kasar yang terlontar dari mulut teman-temannya, membawa kembali kenangan-kenangan mengerikan itu. Dia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya yang berdebar-debar.
Di sisi lain kelas, Ravi memperhatikan Kevin dengan cemas. Sudah beberapa minggu ini Kevin semakin menutup diri. Setiap kali Ravi mencoba mendekatinya, Kevin selalu mencari alasan untuk menghindar. Hari ini, Ravi memutuskan untuk mencoba lagi. Dia menulis catatan kecil dan melipatnya dengan rapi sebelum berjalan pelan ke arah Kevin.
Pak Arif berhenti sejenak dari menjelaskan rumus integral dan menatap Ravi dengan alis terangkat. "Ada apa, Ravi?" tanyanya.
"Maaf, Pak. Saya ingin memberikan catatan ini kepada Kevin. Saya pikir dia butuh bantuan."
Pak Arif mengangguk pelan. "Cepat, jangan ganggu yang lain."
Ravi mendekati Kevin dan menyodorkan catatan itu. Kevin menatap Ravi dengan mata kosong sebelum mengambil catatan tersebut. Dia membuka lipatannya dan membaca:
“Kevin, aku tahu kamu sedang mengalami masa sulit. Aku ingin kamu tahu bahwa aku ada di sini untukmu. Jika kamu butuh teman bicara, aku siap mendengarkan. Jangan menutup diri.” Ucap Ravi.
Kevin meremas catatan itu di tangannya, air mata menggenang di sudut matanya. Dia mengangguk pelan kepada Ravi sebelum menyelipkan catatan itu ke dalam saku seragamnya.
Setelah kelas selesai, Kevin berjalan keluar dengan langkah gontai. Dia pulang ke rumah. Bersiap untuk sesi konselingnya hari ini.
Setibanya di koridor klinik, dia bertemu dengan Dr. Rani, psikiater yang mulai ditemuinya beberapa minggu lalu. Dr. Rani adalah seorang wanita berusia empat puluhan dengan wajah yang selalu memancarkan ketenangan. Dia memiliki metode unik dalam terapi yang berfokus pada seni dan olahraga.
"Kevin, apakah kamu punya waktu sebentar?" tanya Dr. Rani dengan senyum lembut.
Kevin mengangguk pelan. Mereka berjalan menuju ruang konseling yang terletak di ujung koridor. Ruangan itu penuh dengan lukisan dan patung-patung kecil yang dibuat oleh pasien-pasien Dr. Rani. Di sudut ruangan, ada sebuah meja dengan beberapa peralatan seni.
Dr. Rani duduk di kursinya dan mempersilakan Kevin untuk duduk di seberangnya. "Bagaimana perasaanmu hari ini, Kevin?"
Kevin menghela nafas panjang. "Tidak terlalu baik, Dok. Setiap hari rasanya semakin berat."