HTS

Muhammad Ahnaf Putranto
Chapter #12

Kepergian Kevin

Ruangan konseling di klinik psikiatri itu terasa sunyi, hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Di sudut ruangan, ada vas bunga lili putih yang menyebarkan aroma segar, namun tak mampu mengusir keheningan yang menyelimuti. Dr. Rani duduk di belakang meja kayu besar dengan berkas-berkas medis di hadapannya, sementara kedua orang tua Kevin duduk di kursi berhadapan. Wajah mereka penuh kekhawatiran, berharap ada titik terang dari kondisi putra mereka.

Dr. Rani, seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam yang disanggul rapi, memulai dengan nada tenang namun tegas. "Bapak dan Ibu, kondisi Kevin cukup serius. Dia mengalami depresi berat yang dipicu oleh trauma masa lalunya. Ini bukanlah sesuatu yang bisa sembuh dengan sendirinya tanpa penanganan yang tepat."

Ibu Kevin, seorang wanita dengan mata penuh kelelahan, bertanya dengan suara bergetar, "Apa yang bisa kami lakukan, Dokter? Apa ada harapan untuk Kevin?"

Dr. Rani mengangguk pelan. "Tentu saja ada harapan. Kita harus menggabungkan beberapa pendekatan terapi. Terapi intensif sangat penting, termasuk sesi konseling rutin, terapi obat, dan terapi seni. Selain itu, perubahan lingkungan juga bisa membantu Kevin. Mengingat trauma yang dia alami di sini, mungkin membawa Kevin ke tempat baru bisa menjadi langkah yang baik."

Ayah Kevin, yang sejak tadi diam dengan wajah penuh kecemasan, akhirnya berbicara. "Kami sudah mempertimbangkan untuk pindah ke Amerika. Apakah itu ide yang baik, Dokter?"

Dr. Rani menatap mereka dengan penuh empati, matanya menyiratkan kehangatan dan pengertian. "Ya, saya pikir itu langkah yang tepat. Lingkungan baru dapat memberikan Kevin kesempatan untuk memulai kembali tanpa bayang-bayang masa lalu yang selalu mengintai."

Beberapa hari kemudian, Kevin duduk di ruangan yang sama dengan Dr. Rani. Ini adalah sesi konseling terakhir mereka sebelum Kevin dan keluarganya pindah ke Amerika. Suasana hati Kevin tampak lebih baik, meski masih ada bayangan kesedihan di matanya. Dia mengenakan sweater biru tua yang terlihat kebesaran, melambangkan perasaan terjebaknya dalam dunia yang terlalu besar dan tidak bisa dipahami.

Dr. Rani membuka sesi dengan pertanyaan lembut. "Kevin, bagaimana perasaanmu hari ini?"

Kevin menatap jendela yang menunjukkan pemandangan taman luar klinik. Taman itu penuh dengan bunga-bunga musim semi yang mekar, namun Kevin hanya melihat ke luar dengan pandangan kosong. "Aku merasa campur aduk, Dok. Sedih harus meninggalkan semua yang aku kenal, tapi juga lega bisa menjauh dari semua kenangan buruk."

Dr. Rani tersenyum hangat, mencoba memberikan rasa aman. "Itu sangat wajar. Ingatlah, ini bukanlah akhir dari segalanya. Ini adalah awal baru yang bisa membantumu sembuh dan menemukan kedamaian."

Kevin mengangguk pelan. "Terima kasih, Dok. Aku berterima kasih atas semua bantuan dan dukungan Anda."

Lihat selengkapnya