HTS

Muhammad Ahnaf Putranto
Chapter #15

Rasa Sedih Alya

Langit sore yang kelabu mencerminkan suasana hati Alya. Setiap sudut rumah dan sekolah terasa sepi dan sunyi tanpa kehadiran Kevin. Setiap langkah di koridor sekolah, setiap sudut yang biasa mereka habiskan bersama, kini terasa hampa. Dia merindukan senyumnya, candanya, dan kehangatan yang selalu dia bawa. Alya menyimpan surat terakhir dari Kevin di bawah bantalnya, membacanya berulang kali hingga air matanya membasahi kertas itu.

"Alya, aku harus pergi jauh. Jika kita ditakdirkan bersama, kita pasti akan bertemu lagi."

Kata-kata itu terpatri dalam benaknya, meninggalkan luka yang mendalam.

Diana dan Ravi selalu menguatkan Alya. Setiap hari setelah sekolah, mereka berdua mengajak Alya untuk berjalan-jalan atau sekadar menghabiskan waktu di kafe favorit mereka. Mereka memahami betapa beratnya kehilangan orang yang dicintai. Diana sering mengajak Alya berbicara, menceritakan kenangan indah bersama Kevin untuk membantu Alya memproses perasaannya.

Suatu sore, mereka bertiga duduk di sebuah bangku taman yang rindang, sambil memandangi anak-anak yang bermain di sekitar. Ravi mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya dan mulai membacakan puisi-puisi yang dia tulis. "Alya, Kevin pasti ingin kamu bahagia. Kita harus tetap kuat dan teruskan hidup," kata Diana sambil menggenggam tangan Alya erat. Puisi-puisi Ravi, penuh dengan harapan dan semangat, sedikit demi sedikit membuat Alya merasa lebih baik.

Lina, Wawan, Fitri, dan Budi juga memberikan dukungan kepada Alya. Mereka sering mengajak Alya ikut serta dalam berbagai kegiatan sekolah, seperti klub drama dan proyek seni. Kehadiran mereka menjadi pelipur lara bagi Alya, memberikan semangat baru dan harapan.

Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam, Alya dan teman-temannya berkumpul di halaman sekolah untuk latihan drama. Lina dan Wawan sedang berlatih adegan komedi yang membuat semua orang tertawa. Fitri dan Budi sibuk menyiapkan properti untuk pertunjukan. Melihat kebersamaan dan keceriaan mereka, Alya merasakan sedikit kelegaan di hatinya.

"Alya, ayo bergabung! Kita butuh kamu untuk peran utama!" seru Lina sambil tersenyum lebar.

Alya tersenyum tipis dan mulai berlatih bersama mereka. Momen-momen kecil ini menjadi terapi baginya, membantu mengalihkan pikirannya dari kesedihan yang mendalam. Mereka berlatih hingga senja, tawa dan canda menyelimuti suasana. Di akhir latihan, mereka duduk melingkar di tengah lapangan, bercerita tentang mimpi-mimpi mereka di masa depan. Alya mulai merasakan bahwa dia tidak sendiri dalam menghadapi segala kesulitan.

Alya mulai mengikuti kelas yoga yang membantunya menemukan kedamaian batin. Setiap pagi, dia bangun lebih awal dan mengikuti kelas yoga di pusat kebugaran dekat rumahnya. Guru yoga, Ibu Sari, adalah seorang wanita paruh baya yang penuh kebijaksanaan. Dengan suara lembut dan tenang, Ibu Sari mengajarkan Alya teknik pernapasan dan meditasi untuk menenangkan pikirannya.

"Alya, dalam setiap napas ada harapan baru. Fokuslah pada saat ini dan lepaskan beban masa lalu," kata Ibu Sari dengan penuh pengertian.

Lihat selengkapnya