Angin masuk ke rumah itu. Ia mendobrak pintu kayu yang kusam, ditumbuhi jamur, dan yang terabaikan selama bertahun-tahun. Lantai dipenuhi pasir yang terbawa angin sebelumnya, gumpalan debu yang terkumpul dan sempat hinggap di langit-langit juga telah luruh sebagian, dan sejumlah coretan-coretan dinding dari orang asing yang jahil kepadanya. Jendela terbuka dan tertutup oleh angin lain yang berembus kencang membawa segala sesuatu dari selatan, penguncinya telah berkarat dimakan usia, tak memiliki kekuatan lagi untuk menjalankan tugasnya. Usia adalah musuh utama kehidupan. Debu memenuhi kusen jendela. Tak seorang pun datang untuk mengelapnya lagi seperti berpuluh-puluh tahun yang lalu. Daun-daun kering kecokelatan berserakan. Sudut dan rongga kursi sofa dipenuhi jaring laba-laba. Asbak berisi tumpukan putung rokok masih berada di meja yang ditutupi dengan kain bermotif kembang berwarna cerah dan kini noda kuning membentuk serupa pulau dalam peta memenuhinya. Abu rokok kadang terbawa olehnya, menari-nari di udara, kemudian jatuh dan berkumpul dengan debu dan pasir di lantai keramik yang juga memiliki noda kuning karena kotoran tikus dan sejumlah hewan liar lain yang keluar dan masuk rumah itu hanya untuk kencing ketika si pemilik rumah telah meninggalkannya untuk berpindah ke suatu tempat guna memperoleh kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Keputusan-keputusan besar semacam itu kadang tertahan oleh melankolia, kenangan akan tanah air, ikatan dengan kampung halaman, dan hasrat menjaga harta warisan agar tidak jatuh di tangan orang lain. Di ruang tamu itu—yang juga menjadi ruang tengah tempat berkumpulnya anggota keluarga di sore hari dan hari libur nasional—terdapat sebuah album foto tua. Angin yang cukup kuat mampu membuka sampul keras album foto itu kemudian membalik halaman-halaman sejak foto masih berupa paduan warna hitam dan putih sampai foto-foto dengan warna yang diantur secara cermat kontrasnya. Laki-laki dan perempuan. Ayah, ibu, dan anak. Kakek dan nenek, paman dan bibi, cucu dan keponakan, dan seterusnya. Foto-foto hanya diambil ketika mereka tersenyum. Duka lara tak pernah terabadikan dalam lensa kamera. Daguerreotype senantiasa gagal menangkap kisah-kisah nestapa karena manusia terlalu cerdik menyembunyikan perasaan semacam itu. Pada akhirnya, segala keresahan hanya akan menjadi rahasia yang akan mereka seret ke liang lahat, takkan dibagikan kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang paling ia cintai.
“Jangan terburu-buru membuka halaman. Buka dan perhatikan secara perlahan. Cermati wajah-wajah itu dan telusuri lagi jejak-jejakmu di sana. Sudah begitu lama tidak ada yang datang.”
Sosok hantu laki-laki berusia sekitar tujuh puluh tahun duduk di sebuah kursi goyang di dekat jendela yang terbuka. Ia merokok cerutu. Mengenakan kemeja bermotif kotak-kotak berwarna biru tua dan celana kain berwarna krim yang tampak baru saja diseterika dengan cermat dan penuh kasih sayang. Alam kematian begitu dingin. Ia tak tahan dan kembali ke dunia untuk melihat rumahnya sekali lagi. Ketika ia telah sampai di sana setelah segala macam rintangan yang harus ia lewati, tak seorang pun menyambutnya. Ada sedikit kekhawatiran darinya bahwa garis keturunannya telah berakhir. Ia juga gagal menghitung tahun-tahun kehidupan yang telah ia tinggalkan. Barangkali kematian merebut itu darinya sebagai ganti dirinya mampu keluar dari tempat paling gelap yang tak satu pun cahaya mampu menembusnya. Pertukaran setara.
“Itu fotoku ketika masih muda. Saat itu Sukarno masih memimpin revolusi dengan berapi-api, menggebuk siapa pun yang condong ke barat, menggagas ide persatuan dari bangsa-bangsa terjajah. Yang satu itu nenek moyangmu. Ia seorang indo yang tidak pulang ke negaranya. Sebuah keajaiban ketika ia tidak dibunuh saat masa bersiap.”
Angin hanya terus membolak-balik halaman, mengabaikan suara lelaki tua yang kelelahan dengan hidup tapi tak pernah cukup tahan dengan dinginnya kematian. Setelah membuka halaman terakhir, sebuah foto keluarga berwarna yang terdiri atas enam orang anggota keluarga yang terdiri dari seorang lelaki berusia sekitar empat puluhan, seorang perempuan yang duduk di sebuah kursi dengan menggendong bayi perempuan yang di sampingnya duduk dengan manis seorang bocah laki-laki dengan sisiran rambut ke kanan, seorang perempuan yang duduk di kursi lain, dan seorang lelaki berusia sekitar awal tiga puluhan yang berdiri dengan tegap layaknya seorang perwira, ia pergi berembus ke suatu tempat yang jauh. Hantu si lelaki tua memerhatikan dan melepaskan kepergiannya dengan senyuman. Kini ia sebatang kara lagi, air mata terjatuh, dan pandangannya mulai buram. Ia menutup kembali album foto yang sampulnya memiliki tulisan 1950—2045 itu dan meletakkannya kembali ke sebuah meja. Perlu bertahun-tahun lagi sampai seorang pemuda dari garis keturunannya yang tercerai-berai untuk menemukan tempat dan album foto itu lagi. Kelak, ia akan bertanya kepadanya tentang tahun sehingga ia benar-benar tahu sudah berapa lama ia meninggalkan kehidupan.