Aroma pekat kopi hitam dan wangi khas kertas-kertas tua mengambang di udara, memenuhi setiap sudut ruang kerja itu.
Di tengah keheningan yang intim tersebut, Leo Wirawan duduk tegak di depan layar komputernya.
Sebagai seorang psikolog yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk memahami seluk-beluk jiwa manusia, Leo memiliki kebiasaan unik.
Ia terbiasa menelusuri jejak emosi yang tertinggal di dunia maya.
Bagi Leo, rekam jejak digital sering kali jauh lebih jujur, telanjang, dan tanpa topeng dibandingkan kata-kata yang terucap secara langsung dari bibir manusia.
Sore itu, tanpa tujuan khusus, jemari Leo bergerak santai menelusuri laman media sosial milik Dona—seorang kenalan yang pernah ia temui dalam sebuah seminar kesehatan mental beberapa waktu lalu.
Layar gawai dan komputernya menampilkan deretan unggahan yang tampak biasa: foto-foto pesta yang meriah dan tulisan-tulisan ringan yang menghibur.
Namun, gerakan jemari Leo mendadak terkunci. Matanya tertuju pada satu foto yang seketika menghentikan dunianya.
Foto itu sebenarnya sederhana. Menampilkan Dona yang sedang tersenyum lebar ke arah kamera, berdiri di samping seorang wanita.
Namun, ada kejanggalan yang pekat di sana. Wajah wanita itu sama sekali tidak terlihat.
Posisi tubuhnya membelakangi kamera, lurus menatap ke arah pemandangan kota yang membentang jauh di bawah mereka. Sosok itu seolah sengaja menyembunyikan diri dan menarik diri dari sorotan cahaya.
Meski wajah dan ekspresinya misterius, ada sesuatu yang pekat pada postur tubuh wanita itu.
Leo, dengan ketajaman instingnya, menangkap bahasa tubuh yang tak bisa berbohong. Cara kedua bahu wanita itu sedikit menunduk, cara lengannya melingkar erat pada tubuhnya sendiri—semuanya memancarkan gelombang kesedihan yang mendalam, berat, dan sunyi.
Namun, yang lebih menarik perhatian Leo melampaui visual itu adalah baris keterangan di bawah foto.
Dona menuliskan sebuah pesan singkat yang penuh makna tersirat. Tepat di bagian akhir kalimat, Dona menge-tag sebuah akun media sosial: @maura.atmadja.
Jari-jari Leo bergerak cepat, digerakkan oleh rasa penasaran yang mendadak membubung. Ia mengeklik nama akun itu.
Detik berikutnya, halaman profil yang terbuka di hadapannya justru tampak sunyi, gersang, dan tandus.
Hampir tidak ada unggahan foto, tidak ada cerita yang dibagikan, bahkan tidak ada interaksi di kolom komentar. Hanya ada keheningan digital yang membentang panjang dan dingin.
Bagi orang awam, itu mungkin hanya akun mati. Namun bagi Leo, kekosongan itu bukanlah sebuah ketiadaan.
Sinyal itu adalah tanda besar dari sesuatu yang sengaja disembunyikan; sesuatu yang dikunci rapat-rapat di balik dinding pertahanan ego yang teramat kokoh.
Leo merasa seolah-olah baru saja menemukan sebuah buku yang seluruh halaman dalamnya sengaja dikosongkan, namun judul di sampul depannya berteriak lantang tentang sebuah penderitaan yang belum selesai.
Rasa penasaran dan naluri profesionalnya sebagai psikolog langsung terpicu hebat. Ia melihat sebuah potensi.
Lebih tepatnya, Leo melihat sebuah jiwa yang sedang berjalan tertatih, berjuang sendirian di dalam kegelapan yang pekat.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Leo mulai mengetik sebuah pesan pribadi (DM) untuk Dona. Jari-jarinya menari di atas papan ketik, menyusun kata demi kata dengan bahasa yang sopan, hangat, namun memiliki penekanan yang tegas.
“Halo Dona, ini Leo Wirawan. Kebetulan saya melihat unggahanmu beberapa waktu lalu, ada foto bersamamu dengan seorang wanita yang posisinya membelakangi kamera. Aku perhatikan kamu menandai akun bernama @maura.atmadja di situ. Jangan salah sangka, aku tidak bermaksud ikut campur urusan pribadi, tapi sebagai psikolog, naluriku menangkap sesuatu yang berat dari sosoknya—rasa kesepian yang sangat dalam, seolah ia sedang berjuang sendirian menahan sesuatu yang besar. Saya tertarik mengetahui lebih lanjut tentang wanita itu, bukan karena rasa ingin tahu semata, melainkan karena saya merasa ada panggilan untuk membantu. Kalau kamu tidak keberatan, saya ingin sekali mengajakmu bicara sebentar. Ada keinginan tulus dariku, mungkin aku bisa membantu atau setidaknya menjadi pendengar jika memang ia membutuhkan. Bolehkah kita bertemu sebentar? Di tempat yang kamu tentukan, kapan saja kamu luang. Aku janji akan menjaga segala hal dengan kerahasiaan penuh. Terima kasih, Dona.”