Aroma kopi hitam memenuhi ruang kerja Leo Wirawan, bercampur dengan bau kertas lama dari jurnal-jurnal yang menumpuk di rak. Uap tipis masih mengepul dari cangkir di samping komputernya.
Leo duduk menghadap layar. Punggungnya bersandar pada kursi, sementara jemarinya sesekali bergerak di atas papan ketik sebelum kembali berhenti.
Sebagai psikolog, ia terbiasa memperhatikan hal-hal kecil yang sering dilewatkan orang lain. Malam-malamnya kadang habis untuk membaca unggahan di media sosial, mengamati cara orang bercerita tentang diri mereka, apa yang mereka tunjukkan, dan apa yang justru mereka hindari.
Menurut Leo, orang bisa menyusun kata-kata agar terdengar baik-baik saja. Namun, kebiasaan yang mereka tinggalkan di dunia maya terkadang memperlihatkan sesuatu yang berbeda.
Sore itu, ia membuka linimasa Dona, kenalan yang pernah ditemuinya dalam sebuah seminar kesehatan mental. Ia menggulir beberapa unggahan, melewati foto pesta, ucapan ulang tahun, dan tulisan ringan tentang kegiatan sehari-hari.
Sampai sebuah foto membuatnya berhenti.
Dona berdiri di samping seorang wanita dengan latar lampu kota yang berpendar. Dona tersenyum lebar ke arah kamera, sedangkan wanita di sebelahnya membelakangi lensa.
Wajah wanita itu sama sekali tidak terlihat. Ia berdiri menghadap pemandangan kota, dengan dagu sedikit menunduk. Kedua bahunya tampak jatuh, dan lengannya melingkari tubuh sendiri seolah sedang menahan dingin.
Leo memperbesar foto tersebut. Tidak ada yang bisa dipastikan hanya dari satu gambar, tetapi sikap tubuh wanita itu membuatnya bertanya-tanya. Ia tampak hadir di sana tanpa benar-benar ingin menjadi bagian dari keramaian.
Matanya beralih ke keterangan foto. Di ujung kalimat Dona, terdapat sebuah nama akun berwarna biru: @maura.atmadja.
Leo mengekliknya.
Profil yang terbuka hampir tidak berisi apa-apa. Tidak ada foto unggahan, cerita, ataupun komentar. Semua tampak kosong.
Bagi sebagian orang, akun semacam itu mungkin tidak lebih dari akun lama yang ditinggalkan pemiliknya. Namun, setelah melihat foto tadi, Leo merasa ingin tahu lebih banyak tentang wanita bernama Maura Atmadja itu.
Ia mengetuk ujung jarinya ke meja, memikirkan cara menghubungi Dona tanpa membuatnya merasa sedang diperiksa.
Akhirnya, ia membuka jendela pesan dan mulai mengetik. Kalimat pertama dihapus. Kalimat berikutnya diubah. Setelah membaca ulang pesannya sekali lagi, ia menekan tombol kirim.
“Halo, Dona. Maaf mengganggu malam-malam. Saya Leo, yang waktu itu bertemu di seminar kesehatan mental. Saya melihat foto yang Anda unggah dan tertarik pada akun yang Anda tandai. Kalau tidak keberatan, bolehkah kita berbicara sebentar lewat telepon? Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.”
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.
“Halo, Dok. Telepon saja sekarang kalau memang penting. Ada apa, ya, Dok? Kok tiba-tiba ingin membahas soal itu?”
Leo langsung meneleponnya.
Setelah saling menyapa dan berbasa-basi sebentar, Dona mulai bercerita. Awalnya ia hanya menjelaskan siapa Maura dan bagaimana mereka saling mengenal. Namun, semakin lama, cerita itu mengarah pada sesuatu yang sudah bertahun-tahun ia pendam: perubahan Maura sejak tujuh tahun lalu, kebiasaannya menjauh dari orang-orang, dan usahanya yang berkali-kali gagal untuk membuat sahabatnya itu kembali menjalani hidup seperti dulu.