Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #1

Chapter tanpa judul #1

Bau kopi hitam yang pekat dan wangi khas dari kertas-kertas buku tua tercium jelas di dalam ruangan, memenuhi setiap sudut meja kerja itu.

Di tengah suasana sepi itu, Leo Wirawan duduk tegak di depan layar komputernya.

Sebagai seorang psikolog yang menghabiskan seluruh waktunya untuk mempelajari sifat dan masalah pikiran manusia, Leo punya sebuah kebiasaan yang unik.

Ia sudah biasa mencari tahu tentang perubahan perasaan orang lewat apa yang ditulis orang di internet.

Bagi Leo, apa yang ditinggalkan orang di media sosial sering kali terasa jauh lebih jujur, terbuka, dan tanpa kepura-puraan kalau dibandingkan dengan kata-kata yang diucapkan langsung dari mulut manusia.

Sore itu, tanpa ada tujuan khusus, jari-jari tangan Leo bergerak santai membuka halaman media sosial milik Dona—seorang kenalan yang pernah ia temui dalam sebuah acara seminar masalah jiwa beberapa waktu lalu.

Layar ponsel dan komputernya memperlihatkan deretan foto-foto pajangan yang kelihatan biasa saja: foto-foto acara pesta yang ramai dan tulisan-tulisan pendek yang menghibur.

Namun, gerakan jari tangan Leo mendadak berhenti. Matanya tertuju pada satu foto yang seketika menghentikan perhatiannya.

Foto itu sebenarnya sederhana saja. Memperlihatkan Dona yang sedang tersenyum lebar ke arah kamera, berdiri di samping seorang wanita.

Namun, ada hal ganjil yang terasa jelas di sana. Wajah wanita di sebelah Dona sama sekali tidak kelihatan.

Posisi badannya berdiri membelakangi kamera, lurus melihat ke arah pemandangan bangunan kota yang membentang luas di bawah tempat mereka berdiri. Sosok wanita itu seolah-olah sengaja menyembunyikan wajahnya dari sorotan lampu kamera.

Meskipun wajah dan raut mukanya tidak kelihatan, ada hal yang menarik dari posisi berdiri wanita itu.

Leo, dengan kebiasaan kerjanya yang teliti, langsung bisa membaca arti dari gerakan tubuh yang tidak bisa bohong. Cara kedua pundak wanita itu sedikit bergerak turun ke bawah, cara kedua lengan tangannya melingkar memeluk erat badannya sendiri—semuanya memperlihatkan rasa sedih yang sangat dalam, berat, dan sepi.

Namun, hal yang lebih menarik perhatian Leo melebihi gambar foto itu adalah barisan tulisan pendek di bawah foto.

Dona menuliskan sebuah pesan teks singkat yang punya maksud tersembunyi. Tepat di bagian akhir kalimatnya, Dona menuliskan nama akun media sosial orang lain: @maura.atmadja.

Jari-jari tangan Leo bergerak cepat karena rasa penasaran yang mendadak muncul di kepalanya. Ia langsung mengeklik nama akun itu.

Detik berikutnya, halaman profil internet yang terbuka di depannya justru kelihatan sangat sepi, kosong, dan tidak ada apa-apa.

Hampir tidak ada pajangan foto baru, tidak ada cerita yang dibagikan, bahkan tidak ada obrolan tulisan di kolom komentar. Cuma ada halaman kosong yang membentang panjang dan dingin.

Bagi orang biasa, akun itu mungkin cuma dianggap sebagai akun yang sudah mati atau tidak dipakai lagi. Namun bagi Leo, halaman kosong itu bukan berarti tidak ada apa-apa di dalamnya.

Itu adalah tanda yang jelas dari sesuatu masalah yang sengaja disembunyikan; sesuatu yang sengaja dikunci rapat-rapat di balik tembok pertahanan pikiran yang sangat kuat.

Leo merasa seperti baru menemukan sebuah buku cerita yang semua halaman dalamnya sengaja dikosongkan oleh pemiliknya, tetapi judul tulisan di sampul depannya memperlihatkan dengan jelas tentang sebuah rasa sakit hati yang belum selesai.

Rasa penasaran dan kebiasaan kerjanya sebagai seorang dokter jiwa langsung muncul dengan kuat. Ia melihat ada sebuah urusan penting di sini.

Lebih tepatnya, Leo melihat ada isi pikiran seseorang yang sedang berjalan kepayahan, berjuang sendirian di dalam rasa sedih yang gelap.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Leo mulai mengetik sebuah pesan teks pribadi (DM) untuk dikirim ke akun Dona. Jari-jari tangannya bergerak cepat di atas keyboard komputer, menyusun kata demi kata memakai bahasa yang sopan, ramah, tetapi isinya terdengar tegas.

“Halo Dona, ini Leo Wirawan. Kebetulan aku melihat foto pajanganmu beberapa waktu lalu, ada foto bersamamu dengan seorang wanita yang posisinya berdiri membelakangi kamera. Aku perhatikan kamu menuliskan nama akun @maura.atmadja di sana. Jangan salah paham ya, aku tidak punya niat buruk untuk ikut campur urusan pribadi orang, tetapi sebagai orang yang biasa menangani masalah jiwa, mataku langsung melihat ada hal yang berat dari sikap tubuhnya—ada rasa kesepian yang sangat dalam, seolah-olah dia sedang berjuang sendirian menahan sebuah masalah besar. Aku tertarik untuk tahu lebih banyak tentang kondisi wanita itu, bukan cuma karena penasaran biasa, melainkan karena aku merasa ada panggilan kerja untuk menolongnya. Kalau kamu tidak keberatan, aku mau mengajakmu mengobrol sebentar. Ada kemauan tulus dari hatiku, mungkin aku bisa membantu atau paling tidak menjadi teman yang mendengarkan kalau memang dia sedang butuh bantuan orang. Boleh kita bertemu sebentar? Di tempat yang kamu pilih, kapan saja kamu ada waktu luang. Aku janji akan menjaga semua cerita ini rahasia dan aman. Terima kasih ya, Dona.”

Leo menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja. Tidak perlu menunggu waktu yang lama sampai suara getar tanda pesan balasan muncul di layar komputernya.

Lihat selengkapnya