Apartemen Maura adalah manifestasi dari penolakan. Tidak ada tanaman hias di sana; ia enggan merawat sesuatu yang berisiko layu dan mati. Debu-debu dibiarkannya menumpuk, mempertegas kesan kosong di setiap sudut ruangan.
Ia sengaja menyingkirkan jam dinding. Maura menghindari detak yang mengingatkannya bahwa waktu terus berjalan sementara ia memilih untuk diam. Di dalam apartemen, waktu terasa statis. Tirai tebal selalu tertutup rapat, hanya menyisakan garis cahaya tipis yang tidak mampu menghangatkan permukaan furnitur yang dingin.
Dindingnya berwarna off-white—warna ragu yang tidak sepenuhnya putih maupun abu-abu. Tekstur semennya yang kasar dan dingin mencerminkan emosinya yang tertahan.
Bagi orang awam, tempat itu mungkin tampak minimalis dan rapi. Namun, bagi yang jeli, ruangan itu terasa seperti ruang isolasi.
Semuanya tertata simetris tanpa objek yang memberi kenyamanan. Tidak ada bantal empuk atau dekorasi yang mengundang untuk bersantai. Meja kaca di ruang tengah terasa dingin dan keras, menegaskan bahwa ruangan ini memang tidak dirancang untuk relaksasi.
Maura sengaja menciptakan lingkungan yang tidak menuntut keterikatan emosional. Baginya, merawat sesuatu hanya akan mengingatkannya pada harapan-harapan yang perlahan membusuk.
Pagi ini, rutinitasnya dimulai seperti biasa. Mandi dengan air dingin untuk memastikan ia masih bisa merasakan sensasi fisik, lalu mengenakan kemeja berbahan kaku yang menutupi lehernya. Air yang memancar dari kepala pancuran memaksanya kembali ke realitas yang tajam. Ia mematut diri di depan cermin.
Wajah di sana menampilkan sosok wanita berusia dua puluh lima tahun, namun matanya menyimpan tatapan seseorang yang telah melihat akhir dunia. Cermin itu terasa dingin di bawah ujung jarinya yang menelusuri garis rahangnya sendiri, mencari tanda-tanda kehidupan di balik kulit yang pucat dan mata yang datar.
Air dingin itu berfungsi untuk menjaga kesadarannya. Saat bulir-bulir itu menghantam kulitnya, rasa dingin memberikan bukti nyata bahwa ia masih hidup, meski jiwanya sering kali merasa sudah mati, teredam di bawah lapisan apati yang tebal. Ia memilih pakaiannya dengan pertimbangan seperti seorang prajurit memilih baju zirah.
Kemeja berkerah tinggi, kain yang tidak mudah kusut, warna-warna netral yang membuatnya membaur dengan latar belakang. Saat ia mengancingkan kemejanya, suara klik dari kancing plastik terdengar nyaring di kamar mandi yang sunyi, memberikan sensasi penguncian diri terhadap dunia luar.
Ia tidak ingin menonjol. Ia ingin menjadi bagian dari furnitur kota yang tidak perlu disapa.
"Tetaplah terkunci," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. Suara itu terasa parau. "Selama kau tidak memberi akses pada siapa pun, kau akan selalu aman."
Ia percaya bahwa rasa sakit hanya bisa datang jika ada pintu yang terbuka. Jika ia menutup semua akses—mata, telinga, dan hati—maka tidak akan ada lagi yang bisa menusuknya. Di dalam benaknya, ia membayangkan pintu-pintu besi yang dibanting menutup, mengunci rapat setiap celah yang bisa membiarkan emosi atau kenangan menyelinap masuk ke dalam ruang jiwanya yang kini telah menjadi bunker.
Bagi Maura, setiap interaksi sosial merupakan sebuah risiko. Ia telah membangun 'benteng' di kepalanya—sebuah konstruksi mental di mana ia mengategorikan setiap orang yang ia temui ke dalam zona-zona yang tidak berbahaya. Rekan kerja di zona 'transaksi', tetangga di zona 'basa-basi', dan Dona di zona 'hutang budi'. Tidak ada zona untuk 'cinta'. Pintu menuju ke sana sudah ia las mati sejak tujuh tahun lalu, menyisakan bekas luka yang tumpul pada kesadarannya.
Dalam sistem klasifikasi mentalnya, setiap orang memiliki label harga dan batas waktu. Ia berbicara hanya sejauh yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, membatasi setiap kalimat agar tetap berada di permukaan, tidak pernah membiarkan kata-katanya menyentuh kedalaman emosional yang bisa mengkhianatinya.
Ia tersenyum hanya jika norma sosial mewajibkannya untuk menghindari kecurigaan. Senyum itu terasa kaku, otot-otot wajahnya harus dipaksa untuk tertarik ke samping, menciptakan ekspresi yang hampa namun meyakinkan di mata orang lain.
Dirinya tumbuh sebagai seorang arsitek dari kesunyiannya sendiri, memastikan tidak ada retakan pada semen yang ia gunakan untuk membangun dinding-dinding itu. Setiap keputusan yang ia ambil, setiap kata yang ia pilih untuk diucapkan atau disembunyikan, adalah upaya pemeliharaan bangunan mentalnya agar tetap kokoh dan tak tertembus.
Baginya, keintiman tak ubahnya anomali yang harus dihindari. Ia membayangkan setiap upaya mendekat sebagai bentuk invasi, sebuah upaya paksa yang akan merusak ekosistem steril yang telah ia jaga dengan susah payah selama tujuh tahun terakhir.
Di kantor penerbitan, suasana sedang riuh. Mereka baru saja memenangkan hak terjemahan untuk sebuah novel thriller psikologis. Aroma kopi dari mesin otomatis bercampur dengan wangi kertas tua dari tumpukan naskah yang berdebu di meja kerja.
Namun, Maura duduk di kubikelnya dengan ketenangan yang ganjil. Ia bisa melihat gerakan bibir rekan-rekannya yang sedang berdebat, namun suaranya hanya terdengar seperti gumaman tak berarti, seperti dengungan lebah yang jauh di kejauhan.
Di sekelilingnya, rekan kerjanya berdiskusi tentang strategi pemasaran, sampul buku yang mencolok, dan target penjualan. Suara tawa dan perdebatan kecil membalut udara, menciptakan gelombang energi yang terasa sangat bising dan mengganggu di telinganya yang lebih suka kesunyian mutlak.
Namun bagi Maura, itu semua hanyalah frekuensi radio yang tidak terstem. Ia sedang fokus pada sebuah naskah membosankan tentang sejarah maritim, sebuah subjek yang cukup jauh dari emosi manusia sehingga ia merasa nyaman mengerjakannya. Jari-jarinya mengetik dengan ritme yang konstan, suara klik-klak tuts keyboard yang monoton menjadi satu-satunya irama yang ia izinkan untuk menemaninya bekerja.
"Ra, maaf mengganggu sebentar,"