Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #2

Chapter tanpa judul #2

Malam itu, Maura kembali mengalami mimpi yang sama.

Jembatan itu basah oleh kabut. Udara dingin merembes melalui pakaiannya, sementara suara air di bawah jembatan terdengar semakin dekat. Ia berdiri beberapa langkah dari Dika, pria yang sudah tujuh tahun tidak bisa ia lepaskan dari pikirannya.

Dika berada di dekat pagar pembatas. Wajahnya tidak banyak berubah dari yang Maura ingat, tetapi matanya tampak jauh.

“Ikutlah denganku, Ra,” katanya.

Maura ingin menjawab, tetapi tenggorokannya terasa kering. Ia mencoba mendekat, sementara jarak di antara mereka justru semakin jauh.

“Aku tidak bisa, Dika.”

Suaranya pecah.

“Aku belum selesai dihukum. Apa tujuh tahun masih belum cukup buat membayar kepergianmu?”

Dika tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, membuat Maura merasa seolah semua yang terjadi tujuh tahun lalu baru saja terulang.

Maura mengulurkan tangan. Ujung jarinya hampir menyentuh lengan Dika ketika tanah di bawah kakinya terasa licin. Ia kehilangan keseimbangan dan buru-buru mencari pegangan.

Seseorang menariknya menjauh dari pagar.

Pegangan itu kuat, tetapi tidak menyakitkan. Maura berusaha melihat wajah orang yang menahannya, namun kabut di sekeliling mereka semakin tebal.

“Kamu tidak perlu melakukan itu,” terdengar suara seorang pria. “Kamu masih bisa melangkah kembali.”

Maura terbangun dengan napas tersengal.

Ia duduk di tempat tidur, meraba dadanya sendiri sambil berusaha mengatur napas. Keringat membasahi tengkuknya. Beberapa saat ia hanya menatap kamar yang gelap, mencoba meyakinkan diri bahwa ia sudah kembali ke apartemennya.

Tidak ada jembatan. Tidak ada Dika.

Hanya suara kendaraan dari jalan raya dan pendingin ruangan yang terus menyala.

Maura turun dari tempat tidur, lalu berjalan ke jendela. Di luar, langit mulai berubah warna. Ia menyibak tirai sedikit dan memandang gedung-gedung yang berdiri di kejauhan.

Bayangan tangan yang menariknya dalam mimpi tadi masih terasa begitu nyata.

Ia tidak tahu siapa pria itu. Ia juga tidak tahu mengapa suara tersebut terasa berbeda dari suara-suara yang selama ini muncul dalam mimpinya.

Yang ia tahu, pagi sudah datang, dan ia harus kembali menjalani hari seperti biasa.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Leo menutup komputer setelah menyelesaikan beberapa catatan pekerjaan. Ia belum tahu bagaimana pertemuan pertamanya dengan Maura nanti, bahkan belum tahu apakah wanita itu akan menerima buku yang hendak dikirimkannya.

Namun, ia berniat mencoba tanpa memaksakan kehendaknya.

Bagi Leo, yang terpenting bukan seberapa cepat Maura mau bercerita, melainkan apakah ia masih memiliki kesempatan untuk memilih.

***

Apartemen Maura tidak memiliki banyak barang. Tidak ada tanaman di sudut ruangan, tidak ada foto keluarga di atas meja, dan tidak ada hiasan yang membuat tempat itu terasa seperti rumah seseorang.

Beberapa furnitur dibiarkan berdebu. Tirai tebal hampir selalu tertutup, membuat cahaya matahari hanya masuk melalui celah kecil di dekat jendela. Dinding berwarna abu-abu pudar dan meja kaca di ruang tengah menambah kesan dingin yang sudah terasa sejak pintu dibuka.

Dulu, Maura pernah memelihara tanaman kecil di balkon. Ia menyiraminya setiap pagi, memindahkan potnya ketika matahari terlalu terik, dan membeli pupuk ketika daunnya mulai menguning. Namun, ketika tanaman itu akhirnya mati, ia membiarkan potnya kosong selama berminggu-minggu sebelum membuangnya.

Lihat selengkapnya