Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #3

Chapter tanpa judul #3

Sore harinya, Leo menerima pesan dari Dona.

Ia membaca laporan singkat itu sampai selesai, lalu meletakkan ponselnya di meja.

Maura menolak buku tersebut. Bahkan, menurut Dona, ia tersinggung ketika mendengar penjelasan tentang Kintsugi.

Leo tidak menunjukkan kekecewaan yang berlebihan. Ia sudah memperkirakan bahwa Maura mungkin tidak akan menerima upayanya dengan baik. Meski begitu, penolakan itu membuatnya berpikir kembali tentang cara yang ia pilih.

Ia membuka laci, mengambil kacamatanya, lalu mengenakannya sambil membaca ulang pesan Dona.

Ia tidak mengenal Maura secara pribadi. Foto di media sosial dan cerita sahabatnya hanya memberinya gambaran terbatas. Ia tidak berhak menganggap dirinya sudah memahami alasan di balik sikap wanita itu.

Namun, ia juga tidak ingin langsung berhenti hanya karena percobaan pertamanya gagal.

Leo membuka buku catatannya dan menulis beberapa baris. Ia mencatat bahwa Maura tidak menyukai pendekatan yang terasa seperti nasihat. Ia juga menulis bahwa langkah berikutnya sebaiknya tidak melibatkan Dona sebagai perantara terlalu sering.

Jika ia mengirim sesuatu lagi, Maura harus tetap punya pilihan untuk menerima atau menolaknya.

Leo menutup buku catatan itu.

Ia tidak ingin memaksa Maura bercerita. Namun, ia mengakui kepada dirinya sendiri bahwa penolakan wanita itu justru membuatnya semakin ingin memahami apa yang sebenarnya sedang ia hadapi.

“Tidak perlu terburu-buru,” gumamnya.

Ia mengambil ponsel dan membalas pesan Dona, mengucapkan terima kasih karena sudah mencoba membantu. Setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya.

Ia akan memberi Maura waktu.

Sore itu, ketika hendak pulang, Maura melewati meja resepsionis di lobi kantor. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer yang sudah hampir kosong. Beberapa karyawan masih berada di dekat lift, sementara petugas keamanan berbicara dengan resepsionis di balik meja.

Di salah satu sudut meja itu, sebuah paket kecil terbungkus kertas cokelat tergeletak di antara beberapa amplop.

Nama Maura tertulis jelas di bagian atas.

Ia mengenali tulisan tangan itu dari kartu yang tadi disampaikan Dona.

Maura memperlambat langkah. Ia sebenarnya bisa langsung berjalan menuju lift dan membiarkan petugas resepsionis mengurus barang tersebut. Namun, setelah berdiri beberapa saat, ia justru berbalik dan mendekati meja.

“Paket ini untuk saya?” tanyanya.

Resepsionis mengangguk.

“Dari kurir, tadi siang. Katanya barangnya sudah dibayar. Mau saya simpan dulu?”

Maura menggeleng. “Tidak usah. Saya bawa saja.”

Ia mengambil paket itu. Kertas pembungkusnya terasa kasar di ujung jari, sementara tali rami yang mengikatnya cukup kuat hingga meninggalkan bekas pada permukaan kertas.

Sebuah kartu kecil terselip di bawah ikatan tali. Maura menariknya dan membaca tulisan di sana.

“Untuk Maura. Jangan membacanya sebagai pasien. Bacalah sebagai seseorang yang sedang tersesat di dalam perpustakaan yang gelap. Aku hanya memegang senternya, kamu yang menentukan ke mana arah cahayanya. — Leo.”

Maura mengernyit.

“Sok tahu,” gumamnya.

Ia tidak suka cara pria itu berbicara seolah sudah mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam kepalanya. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan rasa penasaran yang muncul setiap kali membaca kalimat-kalimat Leo.

Ia memasukkan kartu itu ke dalam tas, menyusul paketnya.

Dalam perjalanan menuju stasiun bawah tanah, ia berulang kali mengingatkan dirinya untuk membuang buku itu begitu menemukan tempat sampah.

Lihat selengkapnya