Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #3

Chapter tanpa judul #3

Sore harinya, saat hendak pulang, Maura tidak sengaja melewati meja resepsionis. Sepatu hak tingginya beradu dengan lantai marmer, menciptakan dentuman ritmis yang bergema di lobi yang mulai kosong. Setiap langkahnya terasa berat, seolah udara sore itu lebih pekat dan menuntut beban lebih pada otot kakinya.

Di sana, sebuah paket kecil terbungkus kertas cokelat rapi terletak dengan nama "Maura" tertulis dalam kaligrafi yang sangat tegas dan berwibawa. Tulisan tangan itu tidak ragu-ragu. Setiap tarikan garisnya menunjukkan kepercayaan diri yang mutlak—seolah penulisnya memahami persis bagaimana cara mencengkeram atensi seseorang tanpa harus bersuara.

Maura berhenti di depan paket itu. Ia ingin membencinya. Ia ingin melihatnya sebagai sampah yang mengganggu pemandangan. Namun, kaligrafi itu seolah menarik matanya. Ada kekuatan dalam cara tinta itu menempel di kertas cokelat, sebuah ketegasan yang seolah-olah berkata, 'Aku tahu kau akan melihatku'.

Tanpa sadar, Maura mengambil paket itu. Jemarinya yang dingin menyentuh permukaan kertas yang sedikit kasar dan hangat, seolah menyimpan sisa suhu tubuh seseorang. Beratnya pas di tangannya, memberikan sensasi massa yang janggal di tengah genggamannya yang biasanya kosong.

Ada sebuah kartu kecil yang terselip di talinya.

“Untuk Maura. Jangan membacanya sebagai pasien. Bacalah sebagai seseorang yang sedang tersesat di perpustakaan yang gelap. Aku hanya memegang senternya, kau yang menentukan ke mana arah cahayanya. — Leo.”

Kalimat itu menyebalkan. Terasa begitu sombong namun entah bagaimana, begitu persuasif. Maura memasukkan paket itu ke dalam tasnya dengan kasar. Gerakan tangannya menyentak, tas kulitnya bergetar dan mengeluarkan suara decit halus saat paket itu bergesekan dengan dompetnya. Ia berniat membuangnya ke tempat sampah di stasiun bawah tanah.

Ia berjalan menuju stasiun dengan langkah cepat, bahunya tegang, kakinya menghantam ubin dengan ritme yang lebih cepat dari biasanya. Jantungnya berdegup dengan irama yang tidak biasa, berdebar kencang menekan rongga dadanya, menciptakan sensasi denyut yang merambat hingga ke ujung telinganya.

Ia melewati tempat sampah besar di dekat pintu masuk peron. Langkah kakinya melambat, ragu, lalu terhenti secara tiba-tiba di depan mulut tempat sampah yang menganga lebar. Tangannya sudah merogoh tas, jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan kertas cokelat yang kasar itu.

Ia siap untuk melepaskannya, untuk membuang campur tangan Leo ke dalam tumpukan limbah kota. Namun, jemarinya justru mencengkeram paket itu lebih erat, buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang ia berikan, seolah ia sedang menahan sesuatu yang ingin melarikan diri dari genggamannya.

Sepanjang perjalanan pulang, paket itu seolah membakar lubang di tasnya. Setiap kali kereta berbelok atau mengerem, ia bisa merasakan sudut paket itu menusuk sisi dalam tasnya, memberikan tekanan yang konstan dan menyiksa.

Rasa ingin tahunya, yang selama ini ia tekan di bawah lapisan apatis, mulai menggeliat, seolah ada serangga kecil yang bergerak di bawah kulit dadanya. Di kereta yang sesak, ia melihat seorang pria tua yang memegang tangan istrinya yang tertidur. Ia melihat seorang remaja yang menangis diam-diam sambil mendengarkan musik.

Semua orang membawa beban, pikirnya. Mengapa beban miliknya terasa begitu istimewa hingga ia harus mengisolasi diri? Apakah ia benar-benar spesial dalam penderitaannya, atau ia hanya terlalu narsistik dengan rasa sakitnya?

Pertanyaan itu muncul seperti duri yang menusuk kesadarannya, membuat kepalanya berdenyut seirama dengan deru roda kereta yang bergesekan dengan rel. Kereta bawah tanah berguncang, tubuhnya terombang-ambing, condong ke kiri dan ke kanan mengikuti dinamika gravitasi gerbong yang melaju kencang. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, menciptakan efek strobo yang membuat bayangan Maura menari-nari di dinding kereta.

Dan di tengah kerumunan manusia yang anonim itu, Maura merasa paket di dalam tasnya menjelma satu-satunya hal yang nyata, titik gravitasi yang menarik seluruh fokus sensoriknya.

Sesampainya di rumah, Maura tidak membuang buku itu. Ia masuk ke apartemennya dengan gerakan kaku, mengunci pintu dengan suara klik yang bergema di kesunyian ruangan. Ia duduk di lantai ruang tamunya, membedah bungkusan cokelat itu dengan jari-jari yang sedikit gemetar. Suara sobekan kertas yang tebal dan kasar terdengar nyaring, membelah kesunyian malam.

Di dalamnya terdapat sebuah buku bersampul kain tenun berwarna biru tua. Judulnya sederhana: The Architecture of Silence.

Lihat selengkapnya