Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #4

Chapter tanpa judul #4

Di ruang kerjanya, Leo sedang memeriksa beberapa dokumen ketika ponselnya berbunyi.

Ia mengambilnya dan membaca balasan Maura.

Tidak ada senyum lebar atau gerakan berlebihan. Ia hanya membaca kalimat itu sekali lagi, kemudian meletakkan ponsel di meja.

Maura membalas.

Itu belum berarti apa-apa selain bahwa wanita itu bersedia menanggapi pesannya. Leo tahu ia tidak boleh menganggap satu balasan sebagai tanda bahwa Maura sudah mempercayainya.

Ia mengambil cangkir teh yang berada di samping tumpukan buku, menyesapnya, lalu memandang ke luar jendela.

Lampu kendaraan bergerak di antara gedung-gedung. Di bawah sana, orang-orang masih sibuk dengan urusan masing-masing.

Leo kembali menatap ponselnya.

Ia ingin membalas pesan Maura, tetapi memutuskan untuk tidak melakukannya malam itu. Ia tidak ingin percakapan pertama mereka berubah menjadi rangkaian kalimat yang saling menguji.

Jika Maura ingin berbicara lagi, ia bisa memilih kapan akan menghubunginya.

Leo menaruh ponsel di laci meja dan kembali bekerja.

***

Tidak lama kemudian, ponsel Maura kembali bergetar.

Pesan dari Dona muncul di layar.

“Ra, besok temani aku ke galeri, ya. Ada pameran baru. Sayang banget kalau tidak datang.”

Dona menambahkan stiker kucing dengan wajah memohon.

Maura menatap pesan itu beberapa detik. Ia tahu Dona sedang berusaha mengajaknya keluar rumah, seperti yang sudah berkali-kali dilakukannya selama ini.

Ia sempat mengetik bahwa dirinya tidak punya waktu, menghapusnya, lalu mencoba menyusun jawaban lain.

Pada akhirnya, ia mengirim pesan singkat.

“Maaf, Don. Aku sibuk. Lain kali saja, ya.”

Setelah itu, ia membalikkan ponsel di atas lantai.

Buku pemberian Leo masih tergeletak di dekat sofa. Maura memungutnya, membersihkan sedikit debu yang menempel pada sampul, lalu meletakkannya di meja.

Lihat selengkapnya