Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #4

Chapter tanpa judul #4

Benteng di kepala Maura belum runtuh, tapi fondasinya mulai bergetar. Sang "penyembuh" baru saja memulai operasinya. Getaran itu menjalar hingga ke ingatan Maura tentang Dika, membuat bayangan nisan hitam itu sedikit goyah.

Maura terbangun dengan perasaan ganjil, seolah dunia yang ia kenal selama tujuh tahun ini baru saja bergeser. Ia tidak lagi sendirian di dalam peti matinya; seseorang telah mengetuk dari luar, dan untuk pertama kalinya, Maura ingin tahu siapa yang ada di sana.

Maura kemudian duduk di tepi ranjangnya, ia membuka laci kerjanya dan mengeluarkan selembar kertas yang tepiannya sudah rapuh dan menguning.

Surat terakhir Dika.

Ia tidak perlu membacanya lagi; setiap lekuk huruf, setiap noda tinta yang melebar karena tetesan air mata (entah air mata Dika saat menulisnya, atau air mata Maura saat menerimanya), telah terpatri dalam ingatannya seperti tato yang disulut api.

Jari-jarinya yang gemetar menyusuri lipatan kertas itu. Kertas itu sudah kehilangan baunya—dulu ada aroma parfum kayu cendana milik Dika yang samar, namun sekarang hanya ada bau debu dan usia.

“Maura, tembok itu terlalu tinggi. Aku sudah mencoba memanjatnya sampai jemariku berdarah, tapi mereka terus menambah tingginya setiap kali aku hampir mencapai puncak. Status, keyakinan, nama baik... mereka bilang ini demi kebaikan kita. Tapi aku tidak melihat kebaikan dalam dunia yang melarangku menggenggam tanganmu. Jangan salahkan dirimu. Salahkan dunia yang terlalu sempit untuk cinta yang kita punya.”

Maura meremas kertas itu pelan, lalu melonggarkannya lagi.

Hujan di Jakarta selalu menghadirkan kenangan tentang aspal basah dan bau anyir besi. Namun, undangan Dona sore itu tidak bisa ia tolak. Dona hanya meminta pertemuan singkat di sebuah pameran seni instalasi di pusat kota.

"Hanya sebentar, Ra. Ada karya dari seniman muda yang menggunakan barang-barang bekas dari peninggalan orang yang sudah tiada. Aku pikir... kau mungkin tertarik."

Suara Dona di telepon terdengar hati-hati. Maura menghela napas menatap rintik hujan di kaca jendela kantornya. Baginya, hujan adalah metronom kesedihan. Setiap tetesan yang jatuh seolah menghitung waktu sejak kepergian Dika.

Namun, nada bicara Dona yang penuh kekhawatiran membuat dinding pertahanan Maura sedikit melunak. Ia tahu Dona telah melihatnya dalam kondisi paling hina—tergeletak di lantai dengan mata kosong, menolak makan, dan meracaukan nama yang sudah tidak boleh disebut.

Jika ada satu orang yang berhak meninggalkannya, itu adalah Dona. Namun, sepupu Dika itu tetap menjadi jangkar bagi Maura.

Gedung galeri itu bernuansa industrial, dengan dinding beton ekspos dan lampu sorot yang hanya menyinari objek tertentu. Maura melangkah masuk, merasa seperti penyusup. Lantai beton memantulkan cahaya, menciptakan bayangan panjang. Udara di dalam galeri terasa dingin dan berbau cat. Maura mengeratkan pegangan pada tasnya, merasa telanjang di bawah sorotan lampu.

Lihat selengkapnya