Gedung galeri itu bergaya modern, meski beberapa bagiannya masih tampak seperti belum selesai dikerjakan. Dinding semen dibiarkan tanpa lapisan cat, sementara lampu sorot hanya menerangi pajangan tertentu. Maura melangkah masuk dengan perasaan tidak nyaman, seperti tamu yang datang ke acara yang sebenarnya bukan untuknya.
Cahaya lampu memantul pada lantai semen yang mengilap. Bayangan tubuhnya memanjang di dinding, mengikuti langkahnya menyusuri ruangan. Udara di dalam terasa sejuk, dengan bau cat baru yang masih samar. Maura merapatkan tas ke tubuhnya dan berusaha tidak terlalu lama memandang orang-orang yang berdiri di sekitar pajangan.
“Kamu datang juga...”
Dona menghampirinya dengan syal kuning terang yang mencolok di antara pakaian para pengunjung. Warna itu tampak sangat berbeda dengan mantel hitam yang dikenakan Maura. Dona sempat memegang lengannya, tetapi Maura segera menggeser tubuh sehingga sentuhan itu terlepas.
“Hanya tiga puluh menit, ya, Don. Aku harus menyelesaikan tulisan naskah buat besok pagi,” kata Maura.
Ia sebenarnya belum menyelesaikan pekerjaannya. Alasan itu hanya cara agar Dona tidak berharap ia akan tinggal lebih lama.
Dona tersenyum, menerima jawaban tersebut tanpa mendesaknya. Mereka lalu berjalan menyusuri lorong galeri.
Di tengah ruangan, sebuah pajangan besar menarik perhatian Maura. Ratusan surat digantung dengan benang tipis yang nyaris tak terlihat. Kertas-kertas itu membentuk lingkaran lebar dari langit-langit hingga mendekati lantai.
Langkah Maura terhenti.
Ia langsung teringat pada surat Dika yang baru saja dibacanya.
Kertas-kertas itu bergerak perlahan terkena hembusan AC. Sesekali, ujungnya saling bergesekan, menghasilkan suara kecil yang nyaris tenggelam oleh percakapan para pengunjung. Menurut keterangan di dekat pajangan, setiap surat berisi potongan kisah seseorang yang telah kehilangan orang terdekatnya.
Kepala Maura mulai terasa berat. Ia mencengkeram tali tasnya sambil memandang surat-surat yang berputar pelan di atas kepala. Ada dorongan untuk mendekat dan membaca salah satunya, tetapi kakinya tidak segera bergerak. Ia khawatir akan menemukan sesuatu yang terlalu dekat dengan kisahnya sendiri.
“Karya yang jujur memang selalu membuat kita merasa tidak nyaman, kan?”
Suara seorang pria terdengar dari belakangnya. Berat, tenang, dan tidak berusaha menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Maura menoleh.
Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya. Ia mengenakan sweter rajut merah tua dengan kerah tinggi dan kacamata berbingkai tipis yang memantulkan cahaya lampu. Bentuk wajahnya tegas, sedangkan tatapannya sulit dibaca. Ia memperhatikan Maura tanpa banyak mengubah ekspresi, seolah sedang menunggu reaksi perempuan itu.
“Leo,” kata Dona, segera menyela sebelum suasana menjadi semakin janggal. Ia mengenalkan pria itu dengan nada ceria yang terdengar sedikit dipaksakan. “Ra, ini Leo yang kemarin aku ceritakan. Dokter, ini Maura.”
Maura mengangguk singkat.
Tatapan Leo membuatnya tidak nyaman. Pria itu tidak sekadar melihat wajahnya; perhatiannya seolah tertuju pada hal-hal kecil yang biasanya luput dari orang lain. Maura tidak tahu apakah itu memang kebiasaan Leo atau hanya caranya membuat orang merasa sedang diperiksa.
“Jadi, kamu orang yang mengirim buku itu.”
Leo tersenyum tipis. Sikapnya santai, seakan mereka sudah pernah bertemu beberapa kali.
“Aku lebih suka menyebutnya oleh-oleh kecil. Dan sepertinya, kamu cukup berani untuk membuka isinya.”