Keheningan yang tegang menyelimuti mereka bertiga. Instalasi surat itu terus berayun pelan di sekitarnya, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di wajah Leo, seakan menjadi saksi bisu dari beban yang tak pernah diucapkan.
Maura merasa oksigen di ruangan itu menipis, bukan karena ancaman, melainkan karena pengamatan yang terlalu tajam, layaknya ia sedang ditelanjangi tanpa disentuh.
"Aku bukan objek penelitianmu, Leo," ujar Maura, berusaha keras agar suaranya terdengar tegas meski hatinya bergetar hebat. "Dan aku tidak berniat menjadi bagian dari rencanamu, apa pun itu."
Ia berbalik, hendak pergi, berusaha lari dari sosok misterius yang mulai mengancam dinding pertahanannya.
"Lusa, jam empat sore! Di kafe tua di sudut jalan Merdeka—tempat yang tenang, tempat kita hanya berbincang sebagai manusia biasa!" Leo berseru, nadanya bukan perintah, melainkan tantangan yang penuh teka-teki, kesannya ia sudah tahu apakah Maura akan datang atau tidak, dan hasilnya sama saja baginya. "Jika kau datang, berarti kau siap untuk tidak lagi memikul semuanya sendirian!"
Maura tidak menoleh. Ia berjalan cepat keluar dari gedung galeri, disambut udara malam Jakarta yang lembap dan aroma tanah basah. Ia terus berjalan, tidak menghiraukan panggilan Dona di belakangnya.
Ia merasa seperti seseorang yang baru saja menarik napas panjang setelah lama berada di bawah air. Ada ketakutan—ketakutan bahwa bentengnya benar-benar mulai runtuh—tapi ada rasa ingin tahu yang lebih kuat, rasa ingin tahu tentang apa yang tersisa darinya jika ia meletakkan beban itu.
Ia masuk ke dalam taksi dengan napas yang mulai teratur, merasa seolah baru saja melepaskan separuh beban yang terlalu lama ia pikul di bahunya. Namun, meski secara fisik ia sudah menjauh, suara Leo bagaikan menetap di dalam kepalanya, mengulangi kata-katanya seperti sebuah melodi yang penuh rahasia, menari di batas antara kenyataan dan mimpi buruk.
Sementara itu, di dalam galeri, Leo masih berdiri tegak, tangannya terselip di saku celana, menatap ke arah pintu keluar di mana bayangan Maura menghilang. Ia tidak terburu-buru; setiap gerakannya penuh dengan perhitungan yang tersembunyi di balik wajah yang tak berekspresi. Dona menghampirinya dengan ekspresi menyesal, wajahnya pucat pasi.
"Maafkan dia, Leo. Maura memang sulit, tertutup, dan sangat keras kepala. Mungkin aku terlalu cepat mempertemukan kalian."
Leo tidak segera menjawab. Ia menatap tetesan air hujan yang mengalir di kaca jendela besar galeri, melacak alur air dengan pandangan mata yang analitis, laksana membandingkan pola jatuhnya air dengan pola perilaku Maura.