Di dalam galeri, Leo masih berada di tempat yang sama. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Ia memandang pintu keluar yang baru saja dilewati Maura, tanpa terlihat ingin menyusulnya.
Dona menghampiri dengan wajah pucat. Ada rasa bersalah yang sulit disembunyikan dari caranya berdiri di hadapan Leo.
“Maafkan Maura, ya, Leo. Dia memang orangnya sulit, tertutup, dan keras kepala sekali. Mungkin aku yang salah karena terlalu cepat mempertemukan kalian.”
Leo tidak segera menjawab. Ia beralih memandang jendela kaca besar di sisi ruangan. Air hujan mengalir turun, meninggalkan jalur-jalur tipis di permukaannya. Matanya mengikuti salah satu aliran air hingga pecah menjadi beberapa cabang kecil.
Wajahnya tidak menunjukkan banyak perubahan. Ia memiliki ketenangan yang membuat orang sulit menebak apa yang sedang dipikirkannya. Setelah beberapa saat, ia mengambil ponsel dari saku dan membuka sebuah folder berisi catatan singkat tentang sikap serta perubahan emosi Maura selama ini.
Jempolnya menggeser layar, membaca kembali beberapa catatan yang sudah tersimpan. Ia tidak tampak terkejut oleh reaksi Maura tadi. Sebaliknya, ia memperhatikannya seperti seseorang yang sedang memeriksa apakah dugaannya sesuai dengan kenyataan.
“Tidak usah minta maaf, Dona. Dia cuma butuh waktu untuk menerima kenyataan,” katanya pelan.
Dona mengerutkan dahi.
“Waktu? Dia baru saja pergi karena ketakutan, Leo. Dia kabur.”
Leo mengangkat wajah. Dari balik kacamatanya, tatapannya tampak lebih tajam daripada sebelumnya. Ada rasa tertarik yang tidak ia tutupi, tetapi perhatian itu bukan semata-mata milik seorang ahli yang ingin membantu. Ada keinginan pribadi yang ikut bermain di dalamnya.
“Rasa takut itu tanda kalau hatinya mulai bereaksi lagi, tanda kalau dia masih bisa merasakan sesuatu. Sebagai orang yang biasa menangani masalah jiwa, aku melihat ini sebagai bahan pengamatan yang bagus. Tapi sebagai laki-laki... aku melihat wanita yang sudah terlalu lama tersesat dalam rasa sedih. Dia butuh orang lain yang bisa melihatnya dengan cara berbeda, dan orang itu adalah aku. Bukan untuk mengubah jalannya, tapi untuk melihat seberapa kuat dia bertahan sebelum akhirnya menyerah dan aku susun kembali hidupnya dari awal.”
Dona tidak segera menjawab. Ia mengenal Leo sebagai orang yang pandai membaca perilaku manusia, tetapi ucapan itu membuatnya tidak nyaman. Ada sesuatu dalam cara pria itu membicarakan Maura yang terdengar lebih dekat dengan keinginan menguasai daripada niat menolong.
Leo kembali ke ruang kerjanya malam itu. Ia menyalakan lampu meja yang cahayanya mulai redup, menerangi sebagian permukaan meja dan tumpukan buku tua di sekitarnya. Sudut ruangan tetap gelap, sementara debu tampak menempel pada beberapa punggung buku yang jarang disentuh.
Di atas meja berserakan buku-buku tebal tentang kehilangan, trauma masa lalu, dan keterikatan emosi yang tidak sehat akibat rasa bersalah.
Leo membacanya bukan semata-mata untuk mencari cara membantu orang yang sedang berduka. Baginya, buku-buku itu juga menyediakan cara untuk memahami pola pikir manusia, memperkirakan reaksi mereka, dan mencari tahu keputusan apa yang mungkin diambil ketika berada di bawah tekanan.
Ia mengambil pulpen perak, lalu membuka buku catatan bersampul kulit. Di halaman kosong, ia menuliskan reaksi Maura selama pertemuan di galeri: suaranya yang berubah ketika rasa bersalah Dika dibicarakan, matanya yang membesar saat merasa dipahami, serta caranya menahan napas ketika berusaha mencegah air mata jatuh.
Leo menulis setiap detail tanpa tergesa-gesa. Baginya, hal-hal kecil itu merupakan petunjuk untuk memahami persoalan yang lebih rumit. Ia percaya bahwa siapa pun yang mampu membaca pikiran dan perasaan orang lain akan memiliki peluang lebih besar untuk mengarahkan keadaan sesuai keinginannya.
Dalam pandangannya, hubungan dekat bukan hanya soal memaksa seseorang atau mengaku memilikinya. Yang lebih penting adalah menjadi orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya—seseorang yang kehadirannya bisa mengubah keputusan, kebiasaan, bahkan arah hidup orang tersebut.
Dan Maura Atmadja adalah urusan paling menarik yang pernah ia temui.
Bagi Leo, Maura seperti rumah yang pintunya sudah lama dikunci dari dalam. Ia tahu ada kesedihan di baliknya, juga rasa takut yang membuat perempuan itu enggan membiarkan siapa pun mendekat. Namun, ia yakin pintu itu akan terbuka jika ia menemukan cara yang tepat untuk membuat Maura lengah.
***