Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #6

Chapter tanpa judul #6

Dua hari setelah kejadian di galeri, Maura merasa seperti sedang dikejar-kejar. Bukan oleh orangnya langsung, melainkan oleh suaranya. Setiap kali ia memejamkan mata, suara Leo yang tenang namun menjebak itu langsung masuk ke dalam mimpinya. Suara itu seolah terus mengomentari setiap hal yang ia lakukan, mirip seperti seorang guru yang sedang memeriksa lembar jawaban muridnya dengan sangat teliti.

Suara itu tidak terdengar kasar, tetapi terasa sangat berat, seolah setiap kata yang keluar sudah dihitung matang-matang efeknya sebelum diucapkan. Suara itu seperti menempel di sudut-sudut apartemennya yang sepi, terdengar kembali saat ia berada di kamar mandi, dan ikut berbisik di antara suara bising mesin bus kota yang ia naiki.

Maura merasa seolah ada mata yang tidak kelihatan sedang mencatat semua gerak-geriknya, mulai dari kerutan di dahinya sampai jeda napasnya yang tertahan. Ia merasa ketahuan saat ragu-ragu memilih warna baju—yang ujung-ujungnya selalu memilih warna gelap dan tertutup. Ia juga merasa diawasi saat sengaja menahan napas sewaktu berjalan melewati toko bunga kesukaan Dika, atau saat membuang muka dengan cepat ketika melihat pria di jalan yang postur tubuhnya mirip dengan mendiang kekasihnya.

Isi kepalanya yang selama ini tidak bisa dimasuki siapa pun, sekarang terasa sudah dibongkar oleh kehadiran Leo yang tidak diundang. Maura mencoba menenggelamkan diri dengan memeriksa tumpukan lembaran naskah di meja kantornya, berharap ketikan tulisan orang lain bisa menutup suara Leo dari pikirannya.

Namun, huruf-huruf di layar komputer malah terlihat kabur dan tidak ada artinya sama sekali. Ia kebetulan sedang memeriksa novel romantis murah tentang tokoh utama yang mati karena patah hati, dan Maura langsung mencibir di depan monitor.

Bodoh, pikirnya ketus. Patah hati itu tidak membuatmu mati. Benda itu justru membiarkanmu tetap hidup supaya kamu bisa merasakan perihnya setiap detik tanpa pernah berkurang.

Maura menekan tombol hapus berkali-kali di keyboard komputer dengan kasar, melampiaskan kekesalannya pada tulisan di layar. Penulis naskah itu menggambarkan kematian karena cinta sebagai sesuatu yang indah, lengkap dengan hiasan bunga dan cahaya bulan.

Kenyataan yang dialami Maura jauh lebih buruk dari itu: rasanya seperti ada sesuatu yang membusuk pelan-pelan di dalam dadanya tanpa ada orang lain yang tahu. Bangun setiap pagi dengan dada yang terasa sesak dan berat—yang tidak bisa hilang meski sudah minum kopi atau bekerja keras—sudah menjadi makanan sehari-harinya.

Bagi Maura, patah hati adalah hukuman seumur hidup, sebuah paksaan untuk tetap terjaga di dunia yang sudah kehilangan semua warnanya.

Di tempat lain, Leo justru diam-diam menikmati perlawanan yang diberikan Maura. Pria itu tidak suka pada wanita yang gampang menyerah. Makin tinggi tembok pertahanan yang Maura bangun di kepalanya, makin tebal sikap tenang yang sengaja wanita itu tunjukkan, maka rasa penasaran Leo justru makin besar. Ia merasa puas saat melihat tembok itu mulai retak sedikit demi sedikit, sampai akhirnya nanti Maura membiarkannya masuk untuk memberi sedikit celah pada rasa sedih yang selama ini dipeluknya erat-erat.

Suara getar kencang dari ponsel di atas meja kayu langsung memutus pikiran buruk Maura. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal:

“Kopi hitam tanpa gula, kan? Aku tahu kamu butuh kopi biar pertahananmu tetap tegak seharian ini. Aku sudah menunggu di kedai kopi di lantai bawah gedung kantormu. Lima menit dari sekarang, atau aku yang naik ke atas dan membuat teman-teman sekantormu bertanya-tanya siapa laki-laki yang mencarimu dengan sangat penasaran.”

Maura menggenggam ponselnya kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih dan kukunya menekan kulit telapak tangan. Kalimat di pesan itu terasa seperti ancaman yang dibungkus dengan cara yang sok akrab dan dingin.

Leo tahu persis bahwa Maura sangat menutup diri di tempat kerja. Selama ini ia sukses membuat rekan-rekannya menganggapnya sebagai wanita yang kaku dan tidak bisa didekati. Kalau pria itu sampai muncul di lobi atau di depan meja kerjanya, posisi aman yang ia jaga bertahun-tahun akan hancur karena gosip orang kantor. Keringat dingin langsung keluar di telapak tangan Maura.

Lihat selengkapnya