Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #7

Chapter tanpa judul #7

Getaran ponsel di atas meja kayu menyentak Maura dari pikirannya. Ia meraih benda itu dan melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

“Kopi hitam tanpa gula, kan? Aku tahu kamu butuh kopi biar pertahananmu tetap tegak seharian ini. Aku sudah menunggu di kedai kopi di lantai bawah gedung kantormu. Lima menit dari sekarang, atau aku yang naik ke atas dan membuat teman-teman sekantormu bertanya-tanya siapa laki-laki yang mencarimu dengan sangat penasaran.”

Maura membaca pesan itu dua kali.

Jari-jarinya mengencang di sekitar ponsel sampai telapak tangannya terasa sakit. Pesan tersebut bukan sekadar ajakan minum kopi. Leo sengaja memberinya pilihan yang sebenarnya tidak terasa seperti pilihan sama sekali.

Pria itu tahu bahwa Maura sangat menjaga kehidupan pribadinya di kantor. Selama ini, ia berusaha agar rekan-rekannya hanya mengenalnya sebagai perempuan yang serius bekerja dan tidak banyak bergaul. Ia tidak ingin ada yang bertanya tentang kehidupan di luar kantor, apalagi menghubungkannya dengan seorang pria yang tiba-tiba datang mencari dirinya.

Jika Leo benar-benar muncul di lobi atau mendatangi meja kerjanya, ia tidak bisa memastikan berapa lama kabar itu akan menyebar. Rekan-rekannya mungkin akan bertanya, resepsionis bisa mengingat kedatangan pria itu, dan atasannya mungkin mulai memperhatikan sesuatu yang selama ini tidak pernah menjadi urusan mereka.

Maura membayangkan Leo berdiri di lobi dengan sweter rajut merah tua dan kacamata berbingkai tipisnya. Ia bisa melihat pria itu berbicara kepada resepsionis, menanyakan nama “Maura Atmadja” dengan nada santai, seolah kedatangannya merupakan hal yang wajar.

Ia juga membayangkan Dona mendengar kabar tersebut dan mulai bertanya-tanya, atau atasannya memanggilnya untuk memastikan tidak ada masalah yang mengganggu pekerjaan.

Maura menggertakkan gigi.

Leo bukan lagi sekadar pria asing yang kebetulan ia temui di galeri. Ia mulai mengetahui kebiasaan dan tempat-tempat yang biasa didatanginya. Yang lebih membuat Maura marah, pria itu menggunakan informasi tersebut untuk mendesaknya melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan.

Maura menarik napas, tetapi dadanya masih terasa berat. Ia tahu, jika menolak, Leo mungkin benar-benar akan naik ke lantai tempatnya bekerja. Ia tidak ingin masalah pribadi itu menjadi bahan pembicaraan orang kantor.

Dengan kesal, ia menyambar tas dan meninggalkan ruang kerja. Langkahnya cepat, sementara pikirannya sibuk menyusun kalimat yang akan ia gunakan begitu bertemu Leo. Ia ingin mengatakan sesuatu yang cukup keras agar pria itu mengerti bahwa tindakannya sudah keterlaluan.

***

Kedai kopi di lantai dasar gedung kantor dipenuhi pengunjung. Percakapan terdengar bersahutan, sesekali diselingi bunyi sendok yang beradu dengan cangkir dan piring. Aroma kopi bercampur dengan bau makanan dari meja-meja di dekat kasir.

Di antara kerumunan itu, Maura segera menemukan Leo.

Pria itu duduk di sudut ruangan dengan posisi yang memudahkannya melihat pintu masuk. Dua cangkir kopi sudah tersedia di meja, dan uap tipis masih terlihat naik dari permukaannya. Leo tidak sibuk dengan ponsel atau mencari-cari sesuatu di dalam tas. Ia hanya duduk santai, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang sambil menunggu.

Ketika melihat Maura, ia tidak tampak terkejut. Ia sekadar mengangkat pandangan, seolah kedatangan perempuan itu memang sudah ia perhitungkan.

Maura menarik kursi di hadapannya. Kaki kursi bergesekan dengan lantai dan menimbulkan bunyi nyaring yang membuat beberapa orang menoleh. Ia sengaja tidak berusaha meredamnya.

“Kamu benar-benar tidak tahu sopan santun, ya?” desis Maura.

Leo mengangkat cangkirnya dan menyesap kopi sebelum menjawab. Ia meletakkannya kembali di atas meja, lalu sedikit memajukan tubuh agar suara mereka tidak terdengar jelas oleh pengunjung lain.

“Aturan itu cuma dibuat oleh orang-orang yang takut untuk melangkah lebih jauh,” jawabnya santai. “Selamat siang, Maura. Silakan duduk. Kopimu masih panas, sama seperti rasa gengsimu yang terus kamu pertahankan.”

Maura melirik cangkir yang disediakan untuknya. Aroma kopi hitam yang pekat naik dari permukaannya. Ia tidak langsung duduk dengan nyaman. Selama beberapa detik, ia tetap menegakkan tubuh, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak datang untuk memenuhi keinginan Leo.

Namun, sikap pria itu yang begitu santai justru membuatnya semakin jengkel. Seolah-olah semua hal berjalan sesuai rencananya, sementara Maura hanya datang untuk mengikuti langkah yang sudah ditentukan orang lain.

Akhirnya, ia duduk dan meletakkan tas di pangkuan.

“Bagaimana kamu bisa tahu aku kerja di gedung ini?” tanyanya sambil menyipitkan mata. “Dan atas dasar apa kamu lancang menentukan apa yang aku suka? Aku tidak pernah mengizinkanmu ikut campur urusan pribadiku, apalagi urusan kecil seperti ini.”

Leo menyandarkan punggung ke kursi. Ia menyatukan jari-jari di atas meja, sementara pandangannya sesekali turun ke tangan Maura yang menggenggam tas.

“Pekerjaanku berhubungan dengan jiwa manusia, Maura. Memperhatikan gerak-gerik dan mencari informasi adalah dasar dari apa yang aku pelajari,” jawab Leo. “Soal kopi hitam? Itu tebakan yang mudah. Orang yang membawa beban berat di kepalanya seperti kamu, yang menutupi rasa sakit dengan sikap galak, biasanya tidak suka dengan hal-hal yang terlalu manis. Kamu butuh sesuatu yang pahit dan jujur, supaya pas dengan apa yang kamu sembunyikan di balik pertahananmu.”

Maura merasakan kemarahan naik ke wajahnya. Ia menunjuk Leo dengan telunjuk yang sedikit gemetar.

“Cukup! Hentikan tebakan sok tahu itu sekarang juga. Aku bukan pasienmu, bukan bahan percobaanmu, dan aku tidak tertarik jadi bahan tulisanmu. Pergi sekarang, atau aku akan panggil satpam gedung ini untuk mengusirmu dengan tuduhan mengganggu kenyamanan.”

“Mengganggu?” Leo tertawa kecil.

Tawanya terdengar ringan, tetapi tidak membuat Maura merasa lebih tenang.

“Laporkan saja kalau itu bisa membuatmu merasa punya kuasa dan merasa lebih aman di balik aturan hukum,” katanya sambil menopang dagu dengan satu tangan. Sikapnya seperti orang yang sedang membicarakan persoalan sepele, bukan seseorang yang baru saja mengancam akan melaporkan dirinya.

“Tapi sebelum kamu lakukan itu, jawab satu pertanyaan mudah ini: Kenapa kamu takut sekali denganku? Kamu cemas bukan karena aku mengganggumu, tapi karena kamu tahu di dalam hatimu yang paling dalam, semua yang aku ucapkan adalah kenyataan yang selama ini sengaja tidak mau kamu lihat.”

Lihat selengkapnya